BUMDes “Harapan” di Desa Setail Gandeng Pengrajin Tas

13
Kades Setail, Saifudin (tengah) bersama pengurus BUMDes setempat. (foto/bb/tin)

Genteng (BisnisBanyuwangi.com) – SEIRING perkembangan pembangunan desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi salah satu kunci keberhasilan. Dengan BUMDes, ekonomi kerakyaan bisa dibangun. BUMDes juga diharapkan bisa produktif  membantu mencapai kesejahteraan warga.

Kreativitas  membangun jaringan usaha, sangat diperlukan. Seperti dilakukan BUMDes “Harapan” di Desa Setail, Kecamatan Genteng. Sejak berdiri Februari 2016, BUMDes ini terus eksis, berjalan sinergis. Desa Setail juga ditunjuk sebagai desa percontohan untuk Program Bantuan Pangan Non Tunai, Mei 2018.

Berbagai kegiatan usaha dikelola BUMDes Harapan, Setail. Para pengurus BUMDes merupakan mantan anggota BKD. Kegiatan BUMDes ini diawali dari hal sederhana. Yakni melayani jasa (token) listrik. “Layanan ini diawali dari pemerintah desa lantas warga menyusul,” ungkap Kepala Desa Setail Saifudin kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Tahun 2014, kegiatan BUMDes mulai merintis usaha simpan pinjam. Berangkat dari modal Rp 10 juta. Yakni Rp 6 juta dari uang pribadi Kades dan Rp 4 juta dari Alokasi Dana Desa (ADD). “Kegiatan simpan pinjam ini dimulai dari ibu PKK. Dari pengembangan UP2K,” ungkapnya.

Usaha simpan pinjam ini diberikan kepada para ibu PKK untuk modal usaha. Sejauh ini berbagai usaha dilakukan ibu PKK. Seperti membuat kue kering dan membuat kerajinan bros.  Pemasarannya tembus ke luar negeri. Dari modal Rp 10 juta, kini omzet meningkat menjadi Rp 38 juta.Pada awalnya para pengurus bekerja sukarela. Sejak, November 2017, dari hasil simpan pinjam ini, untuk tunjangan para pengurus.

Kegiatan BUMDes Harapan ini pun menggandeng para pengrajin tas plastik setempat, dibantu dalam hal pemasaran. Selama ini warga Dusun Krajan, Desa Setail menjadi sentra pembuatan tas plastik. Pemasarannya, ke seluruh Jatim dan NTT. “Dari sini, BUMDes mendapat keuntungan 3 persen,” tambah Saifudin.

Pihak BUMDes pun berupaya menggarap kerjasama dengan petani terkait pengadaan benih. Selama ini kebutuhan bibit dari petani sangat tinggi. Hal ini membuka peluang. Usaha pembibitan ini sudah berjalan bekerjasama dengan kelompok tani.

Usaha pengolahan sampah pun mulai digarap. Meski, upaya tersebut belum maksimal, mengingat belum tersedianya TPA. Sejauh ini, rencana pembuatan TPA terkendala lokasi. Karena itu,  pengolahan sampah masih menggandeng pihak pasar. Menurut Saifudin, persoalan sampah ini menjadi tantangan untuk membantu program pemerintah.

Saifudin menambahkan, mengenalkan warga terkait kegiatan BUMDes menjadi prioritas. Sehingga BUMDes lebih merakyat atau membaur di masyarakat. “Targetnya menyadarkan masyarakat sampai ke akar rumput. “Soal pengembangan saya kira lebih mudah,” tandasnya.

Kelola BUMDes Bersama

Desa Setail juga memiliki BUMDes bersama dengan Desa Kembiritan. Yakni berbasis komunitas. Jenis usaha permebelan. BUMDes bersama ini mulai dikelola tahun 2016. Usaha mebel dipilih lantaran di kawasan Desa Setail banyak pondok pesantren yang santrinya berasal dari Jawa Tengah, memiliki kehalian  membuat mebel.

Usaha ini diawali dari modal Rp 75 juta dari Pemdes pusat. Dengan menggandeng santri Ponpes Rodhotut Tholabah, diketui Mashudi. Para santri ini dibekali peralatan tukang. Salah satu jenis mebel yang mereka hasilkan meja kursi sekolah. “Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini,” pungkasnya. (tin)

Pelanggan Tabloid Bisnis Banyuwangi – Harga Langganan Rp. 5.000,-/bulan