Kolektor Barang Antik, Weker hingga Keris Nogorojo

5
Ki Sakti dengan koleksi keris kuno. (foto/bb/BS)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – KOLEKTOR barang antik, menjadi pilihan hidup dari Djoko Sakti Setyo Laksono. Pria yang akrab dipanggil Ki Sakti ini memiliki koleksi barang kuno terbilang lengkap. Harganya juga tak ternilai. Mulai weker jadul hingga keris Nogorojo. Seluruhnya tersimpan rapi di rumahnya di Surabaya.

Menjadi kolektor barang antik, bagi Ki Sakti, bukan tanpa alasan. Sebelumnya, pria kelahiran Tulungagung ini dikenal sebagai seniman lukis. Dari situ, hobinya berlanjut ke koleksi barang antik. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk berburu barang kuno. Kini, total mencapai sekitar 5000 jenis. Mulai keris, topeng, kain batik, sepeda kuno, jam weker hingga kamera tempo dulu.

Yang unik, selain seniman, Ki Sakti juga  seorang dokter hewan, sekaligus konsultan teknik sipil. Latar belakangnya memang dari keluarga mampu. Ayahnya, (alm) dr. Soedono, merupakan dokter berjasa di Trenggalek. Bahkan, namanya diabadikan menjadi jalan di kabupaten ini.  “Ayah saya adalah sosok yang hebat, beliau  mampu menjadikan semua anaknya yang 11 orang  sebagai sarjana. beliau punya banyak lukisan, sepertinya  saya mewarisi darah seni dari beliau,” kata Ki Sakti ketika berbincang dengan Bisnis Surabaya, pekan lalu.

Dalam seni lukis, pria yang selalu menggunakan ikat kepala ini mengembangkan lukisan bertema  realis. Namun, bukan realis murni. Sejak SMP, Ki Sakti sudah menyukai seni. Dari puluhan jam weker koleksinya, setiap malam dibunyikan bersama sebelum tidur. Sehingga, menghasilkan simponi suara yang indah.

Sekitar tahun 1979, Ki Sakti muda menjelajah kota pahlawan, kuliah  di Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya. Lalu, tahun 1980 keluar dan kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.  “Sampai sekarang saya masih update tentang dunia kedokteran hewan melalui  komunitas group bersama teman-teman kuliah,” jelasnya.

Setelah lulus kuliah, bapak 2 anak ini bekerja sebagai komisaris di sebuah perusahaan konsultan  teknik sipil, didirikan bersama Retno Nagayomi, kakaknya. Tahun 1980, Ki Sakti mengikuti lomba kreativitas barang bekas. Dia berhasil membuat pigura dari  bahan ban bekas, dipadu dengan rantai sepeda. Dia pun juara. Sejak saat itu sering diajak pameran para seniman di Surabaya.

Sebagai seorang kolektor, pengurus asosiasi batu mulia ini memiliki koleksi barang kuno yang menggiurkan. Ada beberapa koleksi yang mempunyai kenangan tersendiri baginya. Seperti  jenglot, 8 keris indah warisan keluarga, dan sebuah keris yang terbentuk dari kayu yang dimakan rayap. Menurutnya, untuk mendapatkan koleksi tersebut harus melalui negosiasi panjang dengan pemiliknya.

Dia mencontohkan keris Nogorojo yang warangkanya dari kulit ular. Untuk mendapatkan koleksi turun temurun keluarga di daerah Banyuwangi tersebut, dia melakukan negosiasi panjang. Bahkan, sampai menghabiskan 3 piring nasi. Ada juga kain batik kuno yang berburu ke lingkungan keraton Yogyakarta.

Dia juga  banyak belajar di beberapa tempat penghasil batik. Seperti di Madura, Tulungagung, Lasem dan Solo. “Di Lasem inilah  saya belajar cara membaca batik dari seorang seniman berusia 90 tahun,” ungkapnya. Mulai tahun 2005, Ki Sakti

membentuk komunitas Adhi Cipta Art, beranggotakan berbagai seniman. “Nanti setelah pensiun ,saya ingin menjadikan koleksi saya sebagai museum yang bisa dilihat oleh masyarakat umum, terutama generasi muda,” pungkasnya. (nanang/BS)