Kartini UIN Maliki – Malang, Gelar Pelatihan Seni dan Wirausaha di Banyuwangi

6
Bersama anak-anak Kampoeng Batara, Papring, Kalipuro. (foto/bb/wid)

Kalipuro (BisnisBanyuwangi.com) – PERKEMBANGAN Banyuwangi yang cukup pesat, khususnya pariwisata, menarik banyak kalangan. Tak hanya berlibur, mereka juga peduli dengan pengembangan seni dan wira usaha. Seperti dilakukan 40 mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki)– Malang . Mereka memilih Banyuwangi untuk menggelar pembelajaran seni dan kewirausahaan, pekan lalu. Para Kartini UIN Maliki Malang ini juga didampingi oleh dosen pembimbing, termasuk dekan.

Tiba di Bumi Blambangan, dini hari, para Kartini modern ini menuju Kampoeng Batara di Lingkungan Papring RT. 03 RW. 02 Kelurahan Kalipuro, Kecamatan Kalipuro. Setelah itu, tim yang diketuai  Lailatul Tri Wahyuni ini langsung meluncur kebeberapa pengrajin di jantung kota. Seperti Killisa Desain yang dikenal dengan produk-produk daur ulang kertas.

Kemudian ke tempat pembatik di Temenggungan. Lalu, rombongan yang dibagi dua tim tersebut menikmati suasana Taman Blambangan, kemudian bertemu dengan warga perumahan Agus Salim Residence yang melakukan budidaya ikan lele, kemudian diproduksi menjadi olahan abon, kerupuk dan aneka  camilan.

“Kami memang ingin berbagi ilmu dan saling belajar di Banyuwangi, baik itu bidang industri, seni dan kegiatan-kegiatan pendidikan di perkampungan. Hari pertama kami fokuskan di wirausaha, lalu pendidikan dan selanjutnya aktualisasi seni,” ungkap mahasiswi yang akrab di sapa Atul ini kepada Bisnis Banyuwangi.

Atul menambahkan, dari beberapa lokasi kunjungan pertamanya, ia sudah memiliki gambaran bagaimana memanfaatkan bahan-bahan yang banyak di sekitarnya untuk dijadikan barang bernilai ekonomi. Seperti pemanfaatan kertas Koran. Termasuk bagaimana industri batik yang terus eksis di Banyuwangi, dan melebarkan sayapnya keluar Banyuwangi. Sehingga, kata Atul, menejemen dalam setiap usaha menjadi landasan untuk membangun usaha itu sendiri.

Setelah selesai keliling ketempat para pengrajin di kota Banyuwangi, rombongan  kembali ke Papring, Kalipuro. Lalu, berbagi ilmu dengan sekolah-sekolah di pedesaan, terutama TK atau PAUD. Karena  para mahasiswi ini lebih banyak di lingkup Pendidikan Islam Anak Usia Dini atau PIAUD.

Di Kampoeng Batara, Papring mereka tinggal dirumah-rumah warga. Sehingga, lebih dekat dan memudahkan berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Salah satu TK yang disasar, TK. Darussalam, Papring, Kalipuro. Bersama guru-guru TK, sore harinya melakukan persiapan aktualisasi seni budaya, berkolaborasi dengan anak-anak Kampoeng Batara, perguruan silat dan komunitas-komunitas di Banyuwangi.

“Ya, malam inagurasi mengambil tema “Kartini Membumi. Dimana kami berkolaborasi dengan anak-anak Kampoeng Batara, warga dan para komunitas di Banyuwangi,” ungkap mahasiswi semester VI ini. Dalam pagelaran “Kartini Membumi” tersebut, pihaknya sengaja memilih tema yang sesuai dengan  saat ini. Kebetulan, bertepatan  peringatan Hari Kartini. Lalu, dilanjutkan Peringatan Hari Bumi Sedunia, 22 April. Karena itu,

konten-konten yang ditampilkan pada “Kartini Membumi” saling berkaitan. Seperti pemainnya yang didominasi oleh kaum perempuan, mulai dari Drama musikal, puisi, pencak silat, teater, dan lainnya.

Hujan deras mengguyur di arena pementasan, tak menyurutkan para Kartini modern itu. “Acara “Kartini Membuminya” sangat luar biasa, meski hujan tapi apa yang ditampilkan sangat istimewa. Apalagi kami bisa berkolaborasi dengan beragam kesenian di Banyuwangi”, jelas Atul sambil tersenyum.

Setelah pentas seni, kegiatan berlanjut pembelajaran ke anak-anak Kampoeng Batara. Seperti pembuatan claim, dan finger painting. Tak hanya itu, mahasiswi dan anak-anak Kampoeng Batara juga membuat permainan lingkaran serta nyanyian dan lomba. Anak-anak sangat antusias, semangat, ceria, tak kenal lelah.

Puncaknya, seluruh mahasiswi UIN Maliki Malang melakukan temu muka dengan warga Papring, sekaligus perpisahan. “Kita semua merasa terharu, sedih, karena waktu berjalan sangat cepat. Terlalu banyak kenangan-kenangan yang indah telah terukir bersama anak Kampoeng Batara. Anak yang begitu polos, patuh, aktif, ceria, dan bisa membuat kami semua saying,” jelasnya. Tak kalah menarik, kata dia, suaana yang nyaman, sunyi, sepi, jauh dari polusi. (wid)