Lomba Cerpen Sekaligus Luncurkan Lima Buku

7
Peluncuran buku SKB sekaligus lomba cerpen Using. (foto/bb/wid)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – KIPRAH Sengker Kuwung Blambangan (SKB) dalam pelestarian bahasa dan budaya Using makin melejit. Terbaru, SKB kembali menggelar lomba mengarang cerpen berbahasa Using.  Kegiatan pengumuman pemenang sekaligus diisi peluncuran lima buku baru ini digelar di kampus Untag Banyuwangi, pekan lalu.

Kegiatan bertajuk  “Sastra Kanggo Banyuwangi” ini dihadiri beberapa budayawan. Diantaranya, Wakil Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri, penulis dan pegiat budaya Aekanu Hariyono, pengarang lagu Mahawan, penyair Uun Hariyati, akademisi Wiwin Indarti dan seniman Kenthus, serta pelaku seni lainnya.

SKB meluncurkan empat buah buku gurit Using, yaitu Suwuk (Eko Budi Setianto), Gandrung Jagad (Sentot Parijoto), Ngerambah Ati (Kang Ujik) dan Atinisun Kesangsang Nong Banyuwangi (Antariksawan Jusuf). Juga, sebuah kumpulan cerpen Mendhung Peteng Ulan September. Kumpulan cerpen tersebut merupakan kumpulan cerita yang setiap minggu muncul di tabloid Bisnis Banyuwangi, merupakan kumpulan cerpen kedua. Tahun lalu berjudul Jerangkong. Buku-buku yang diterbitkan SKB dapat ditemui di beberapa toko buku di kota Banyuwangi.

Wakil Ketua DKB Hasan Basri menyarankan agar SKB menerbitkan dongeng-dongeng untuk mengimbangi imajinasi anak-anak dan memperkaya khasanah bacaan anak-anak Banyuwangi. “Anak-anak sekarang lebih akrab dengan simbol-simbol yang ada di dongeng barat. Misalnya, kata istana, yang dibayangkan adalah istana yang bermenara tinggi seperti dalam dongeng,” jelasnya.

Hasil lomba tahun keenam, menunjukkan peningkatan drastis jumlah peserta. Tahun 2017 peserta umum 26 orang, SMA 15 orang dan SMP  hanya 7 orang. Kini, tahun 2018, bertambah. Peserta umum 28 orang, SMA 15 orang dan SMP 25 orang. Selain sertifikat, pemenang  mendapat hadiah uang dan penghargaan.

Wakil Rektor Untag, Dr. Ir. Erika Saraswati, MP, mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, karya tulis lokal berfungsi sebagai sumber bacaan yang mencatat perkembangan budaya literasi lokal menjadi tanggung jawab bersama.

“Untag sebagai Perguruan Tinggi lokal yang  mengemban amanah dalam pengembangan budaya literasi secara formal, sangat mendukung upaya masyarakat dalam pengembangan budaya, utamanya budaya lokal Banyuwangi, agar  budaya lokal/Using, tidak terpinggirkan oleh gempuran budaya global,” jelasnya.

Ditambahkan, pihaknya berada pada jalur yang sama dengann Relawan Literasi Banyuwangi ataupun dengan Sengker Kuwung Belambangan (SKB) yang menyelenggarakan Lomba Menulis Cerpen Berbahasa Using keenam kalinya. Pihaknya, kata Erika, sudah menjalin kerjasama dengan SKB cukup lama, sejak Lomba penulisan Bahasa Using pertama kali. (wid)