Laris, Peyek Ombo dan Kerupuk Jumbo

12
Penjualan peyek ombo laris manis. (foto/bb/tin)

Songgon (BisnisBanyuwangi.com) – USAHA berjualan kerupuk dilakoni pria asal Songgon ini sejak setahun silam. Tiap hari, Joko begitu sapannya berjualan keliling dari desa ke desa menawarkan dagangan kerupuk. Uniknya, kerupuk yang ditawarkan berbeda dari biasanya. Yakni, dari ukurannya yang jumbo dengan diameter 50 cm. Kehadiran Joko dengan kerupuk jumbo ini cukup menarik perhatian.

Joko memulai usaha berjualan kerupuk merogoh modal Rp 3 juta. Saat ini, dialah satu-satunya penjual kerupuk ikan jumbo di wilayah Banyuwangi. Menurut Joko, kerupuk jumbo ini dikirim dari Bondowoso. “Area pemasaran seluruh Banyuwangi,” kata pria bernama lengkap Joko Jumantoro Sukmo Adi ini kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Dalam menjajakan dagangan, Joko memakai mobil. Joko berkeliling jika ada stok kerupuk. Menurut Joko stok kerupuk ini dikirim tiga hari sekali. Dirinya memilih berjualan dari desa ke desa. Harga dibandrol Rp 15.000 per bungkus, isi 2 biji. Peminatnya lumayan, per hari Joko bisa menjual 50 hingga 200 bungkus. Menurut Joko, dirinya berkeliling dari kawasan Pesanggaran, Srono sampai Banyuwangi. Rata-rata pembeli penasaran dan tertarik membeli. “Kawasan yang baru saya datangi biasanya, langsung diserbu pembeli,” ungkapnya. Jika omzet mulai menurun, Joko memilih pindah tempat.

Joko mengaku kerupuk ikan ini rasanya lebih gurih. Di musim hujan, kerupuk kian laris. Joko mengaku di Banyuwangi tak ada pesaing penjual kerupuk, karena dirinya satu-satunya sales area Banyuwangi. Selain eceran, ada juga pelanggan yang membeli dalam jumlah banyak untuk dijual kembali. Jika ada pesanan kerupuk untuk dijual kembali, Joko memberikan harga lebih murah. Berjualan sudah dilakoni Joko sejak SD. Saat duduk di bangku SMP dia bekerja sebagai pedagang asongan.

Selain kerupuk berukuran jumbo, di Kaliploso juga punya produk peyek ombo. Menurut Hemilia pesanan peyek ombo ini terus mengalir. Harga peyek ombo ini dibandrol dari harga Rp 15.000 hingga Rp 25.000, tergantung ukuran.

Dia mengaku kebanjiran pesanan peyek ombo ini untuk oleh-oleh. “Prospeknya sangat bagus,” ungkapnya. Saat ini Hemilia dibantu 2 teman di PKK Kaliploso mulai merintis usaha peyek ombo. Berangkat dari modal Rp 300.000, dirinya membuat berbagai varian peyek ombo. Dari peyek kacang, kacang hijau, tersedia rasa original dan ekstra pedas. Selain renyah dan gurih, ukurannya jumbo, membuat banyak orang tertarik membeli. Permintaan lumayan, per hari minimal 20 peyek terjual. (tin)