Permintaan Meroket, Peternak Gurami Kewalahan

Budidaya gurami di Desa Sukomaju, Kecamatan Srono. (foto/bb/ist)

Srono (BisnisBanyuwangi.com) – IKAN gurami mulai menjadi konsumsi favorit. Imbasnya, permintaan ikan gurami terus meroket. Pusat budidaya gurami dikembangkan di Desa Sukomaju, Kecamatan Srono. Sejak tahun 1990-an, kawasan ini dikenal sebagai sentra ikan gurami. Banyak warga setempat menekuni usaha budidaya ikan gurami. Hampir tiap rumah memiliki petak-petak kolam ikan gurami. Namun sekitar 2004-an, banyak yang gulung tikar karena tergiur keuntungan menanam cabai.

“Desa ini sejak lama dikenal tempatnya ikan gurami. Tapi sempat meredup karena banyak pembudidaya ikan yang gagal di sisi manajemen dan beralih profesi. Banyak kolam ikan yang berubah menjadi sawah,” kata Sugiono (53), salah satu pembudidaya ikan gurami di Desa Sukomaju, pekan lalu.

Kini dengan berkembangnya pariwisata di Banyuwangi, restoran dan hotel kian menjamur, sehingga membuat budidaya ikan gurami bergairah kembali.Permintaan ikan gurami terus meningkat. Bahkan, karena banyaknya permintaan, pembudidaya ikan gurami di desa ini kewalahan.

“Usaha ikan gurami di desa ini kembali bergairah, karena begitu banyaknya permintaan pasar,” kata Solikin, Kepala Dusun Sukorejo, Desa Sukomaju. Dengan bimbingan Dinas Perikanan dan Pangan Banyuwangi, desa ini terus meningkatkan produksi ikan gurami. Kepala Dinas Perikanan dan Pangan Banyuwangi Hary Cahyo Purnomo mengatakan, untuk Banyuwangi saja kebutuhan ikan gurami yang diolah menjadi kuliner mencapai 8 ton tiap bulannya.

“Desa Sukomaju produktivitasnya bisa mencapai sekitar 6 ton. Ini terus kami bimbing untuk memacu peningkatan produksi,” kata Hary. Menurutnya, Desa Sukomaju dijadikan desa wisata Kampung Gurami. Wisatawan bisa menikmati berbagai sajian kuliner berbahan dasar ikan gurami. Mulai dari gurami bakar, gurami goreng, gurami asam manis, rujak buah gurami, pecel gurami, hingga bakso gurami.  “Di Singojuruh terkenal dengan ikan koi. Di Kabat terkenal ikan lele. Untuk Sukomaju, kami jadikan Kampung Gurami,” jelasnya.

Hary mengatakan, budidaya gurami memiliki peluang yang sangat besar. Ini karena peminat budidaya gurami cenderung sedikit dibandingkan jenis ikan lainnya, seperti lele. Selain itu, budidaya gurami juga memiliki keuntungan tersendiri. Sebab, mulai dari bibit, ukuran sedang, hingga ukuran besar, bisa dijual.

Budidaya gurami membutuhkan perawatan hingga panen sampai 12 bulan. Minimal luas kolam harus 200 meter persegi untuk 3.000 ekor. Perawatan sampai satu tahun.

Dengan dijadikan Kampung Gurami, menurut Hary, pendapatan dari desa ini akan lebih besar. Apalagi letak desa ini sangat strategis, merupakan jalur ke tempat-tempat wisata seperti Pulau Merah dan Plengkung di Taman Nasional Alas Purwo. (udi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here