Subari Sofyan, Kenalkan Gandrung ke Mahasiswa Asing

16
Bersama mahasiswa asing dan Bupati Anas. (foto/bb/wid)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – DALAM dunia seni di Banyuwangi, baik tari maupun rias, namanya cukup dikenal. Kiprahnya mengembangkan kesenian tak perlu diragukan lagi. Hampir seluruh hidupnya dicurahkan untuk pelestarian kesenian lokal. Sosok itu, Subari Sofyan, pemilik Sanggar Sayu Gringsing, Banyuwangi. Berkat keuletannya mengembangkan seni, dia terpilih mendampingi 12 mahasiswa asing yang belajar budaya di Bumi Blambangan.

Satu yang dikenalkan ke mahasiswa mancanegara adalah tari Gandrung. Tak hanya gerak tari, Subari juga memberikan pemahaman filosofi tarian tersebut. Selama tiga bulan, dia akan menjadi tempat belajar budaya para mahasiswa dari sejumlah negara.  “Bagaimanapun, Gandrung adalah sebuah kesenian tradisional masyarakat. Dalam catatan sejarahnya, pernah digunakan sebagai alat perjuangan,” kata Subari kepada Bisnis Banyuwangi, saat ditemui di rumahnya Kampung Melayu, Banyuwangi, pekan lalu.

Seniman papan atas Banyuwangi ini memaparkan, terlepas opini Gandrung sebagai sebuah kesenian, misi utama dari terbentuknya kesenian Gandrung adalah  alat hiburan dan klangenan. Sekaligus, dalam rangka mengaktualisasikan ekspresi berkesenian masyarakat. Sayangnya, dalam perkembangan berikutnya kesenian ini seakan semakin jauh terseret keluar dari norma dan etika berkesenian. Meski tidak hanya kesenian Gandrung yang mengalami hal seperti itu. Namun, kata dia, Gandrung-lah yang memiliki skor tertinggi dari segi penyimpangan. Maka, tidaklah mengherankan ketika sebagian masyarakat menuding bahwa tontonan tersebut adalah biang kemaksiatan.

Karena itu, lanjutnya, perlu adanya informasi bagi pihak luar. Terutama, terkait Gandrung tersebut. Menurutnya, sejatinya kesenian Gandrung tidak hanya menghibur. Namun, sekaligus mampu menunjukkan nilai-nilai estetika seni yang sesungguhnya. Maka ketika Subari Sofyan memerankan kembali sosok Gandrung Lanang, setelah terakhir diperankan oleh Marsan sekitar 120 tahun silam, ternyata hal tersebut mampu membuka magnet tersendiri. Sehingga, banyak yang bilang jika  tampilan Gandrung Lanang memang jauh lebih mempesona.

Seperti yang diketahui, tahun ini, Banyuwangi mendapat jatah 12 mahasiswa dari luar negeri untuk belajar seni budaya. Salah satu sanggar yang terpilih milik Subari Sofyan. Secara otomatis, pelatih tari dan desainer ini juga memberikan banyak materi pengetahuan untuk para mahasiswa tersebut.

Tidak hanya menjadi tuan rumah bagi mahasiswa asing yang tinggal di Banyuwangi, Subari juga dikenal sebagai seniman yang cinta lingkungan. Sehingga, ada beberapa kostumnya yang bertemakan penyelamatan lingkungan.

Menurutnya, rusaknya ekosistem bawah laut dan lingkungan pantai sudah di ambang normal, membuat pria kelahiran tahun 1954 ini peduli. Karena itu, dia berkampanye melalui rancangan busananya menyelamatkan laut Indonesia dari kerusakan yang lebih parah.

Menurut Subari, dari serangkaian kasus kerusakan ekosistem,  dipicu ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Berangkat dari sana, Subari berusaha mengubah pola pikir manusia untuk menjaga kelestarian lingkungan, khususnya ekosistem bawah laut dan lingkungan pantai.

Berbekal keahliannya di bidang fashion, dirinya bertekad menyelamatkan ekosistem bawah laut negaranya dari kerusakan yang semakin parah. Dia pun melakukan aksi nyata memungut jala ikan yang sudah tertanam di karang laut dan beberapa sampah tidak terurai di pantai. Seperti plastik tempat ikan dan karung ikan. Dengan keahliannya merancang busana, Subari lantas mengubah sampah yang tidak memiliki nilai itu menjadi busana yang cukup memukau.

Usai dibersihkan, sampah- sampah yang dipungut dari laut itu dirangkai menjadi busana bergaya Eropa atau Romawi. Dia menamakan rancangan busana tak biasa itu ’Eksotika Laut. Dari rancangan busana berbahan recycle tersebut, Subari ingin menyampaikan kondisi ekosistem bawah laut di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan.

”Dari rancanagan busana itu, saya juga ingin menggabarkan banyak ikan yang mulai langka dan terumbu karang yang punah karena ulah manusia. Salah satunya dengan membuang barang-barang bekas ke laut yang tidak mudah terurai,” ungkapnya

Tidak hanya busana, beberapa prestasi juga berhasil diraih Subari dari beberapa pentas budaya di luar negeri. Seperti, Korea Utar  tahun 1984, Paris dan Perancis yang diikutinya sebanyak dua kali. Subari berharap generasi muda dapat melestarikan dan menjaga lingkungan.  ”Tidak ada kata terlambat, untuk memberikan sosialisasi dan mengingatkan terus kepada sesama, sekalipun melalui satu aksi budaya saja. Pendekatan melalui kearifan lokal akan memberikan kesan tersendiri,” pungkasnya. (wid)