Lebih Awet, Cobek Batu tetap Diburu

8
Kerajinan cobek batu tetap diminati karena lebih awet. (foto/bb/ida)

Gambiran (BisnisBanyuwangi.com) – TINGGAL di dekat aliran sungai, membawa berkah bagi Pandi. Pria asal Desa/Kecamatan Gambiran ini memanfaatkan batuan sungai untuk kerajinan cobek. Usaha turun temurun ini tetap eksis hingga sekarang. Karena lebih awet, cobek batu tetap diburu. Mendekati Lebaran, permintaan cobek batu mulai meningkat.

Kerajinan cobek batu sudah ditekuni sejak 25 tahun lalu. Pandi mewarisi usaha ini dari sang ayah. “Saya sejak kecil sudah ikut belajar membuat cobek batu,” kata Pandi kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Proses pembuatan cobek masih menggunakan cara tradisional. Namun, hasilnya tak perlu diragukan. Pandi sudah dikenal sebagai pemahat cobek yang ulung. Karena itu, dia sangat paham dengan kualitas batu yang dijadikan bahan cobek. Bebatuan itu diambil dari aliran sungai. Ada juga yang dari kebun.  “Kita tes dulu sebelum dipakai bahan cobek. Yang kuat dipahat, baru kita pakai,” jelasnya.

Menurut Pandi, membuat cobek dibutuhkan ketelitian dan ketelatenan. Alat yang digunakan juga sederhana, tanpa mesin. “Kecuali gerinda, kita sudah pakai mesin,” jelasnya lagi. Dijelaskan, cobek batu ini sangat diminati. Sebab, lebih awet, kuat dan tahan lama. Kaum ibu, kata dia, lebih suka cobek batu lantaran sangat cepat untuk menghaluskan bumbu. Lalu, tak menghilangkan rasa dari bumbu itu.

Meski ada cobek berbahan semen, kata Pandi, tak menggeser permintaan cobek batu. Apalagi, harganya tak beda jauh. “ Sekarang, banyak cobek cetakan semen yang mirip dengan cobek batu. Namun, jika diteliti, perbedaannya sangat mencolok. Cobek semen, kata dia, warnanya hitam. Bobotnya sangat ringan. Berbeda dengan cobek batu yang berat.

Cobek batu ini harganya dibandrol beragam. Ukuran kecil ditawarkan Rp 20.000 per biji, ukuran sedang Rp 35.000 dan ukuran besar Rp 200.000. Sedangkan, ulekan dipatok mulai Rp 15.000 per biji, tergantung ukuran.

Selain cobek, Pandi juga melayani aneka pesanan beragam perabot batu. Seperti, lesung kecil dan lainnya. Dia bisa menyelesaikan pesanan cobek dalam sehari. “ Rata-rata, sehari bisa selesai 10-15 cobek,” ujarnya.

Dari usaha ini, omzet bisa tembus Rp 100.000 hingga Rp 250.000 per hari. Cobek buatannya banyak dikirim ke luar daerah. Mulai Jember hingga ke Kalimantan. Dia dibantu dua tenaga karyawan dalam menjalankan usaha. Usaha ini, kata dia, mulai terganjal bahan batu. Sebab, di sungai mulai sulit ditemukan batu berukuran besar. Penyebabnya, batuan sungai banyak dipakai untuk bahan bangunan. Menghadapi persaingan, Pandi memilih bertahan dengan kualitas. Bahkan, memberikan garansi. “ Kami senang bisa melestarikan kerajinan cobek batu ini,” pungkasnya. (ida)