Krodit, Pengunjung Bunder akan Dibatasi

9
Penari Gandrung di dasar laut dalam Festival Underwater di rumah apung Bangsring. (foto/bb/ist)

Bangsring (BisnisBanyuwangi.com) – MENINGKATNYA pengunjung di obyek wisata rumah apung Bangsring Underwater (Bunder) mulai mengancam ekosistem di pesisir setempat. Mengantisipasi kerusakan, pihak pengelola berencana melakukan pembatasan jumlah pengunjung. Jika diberlakukan, berarti pengunjung harus rela bersabar dan antre ketika ingin menikmati panorama bawah laut di pesisir Bangsring tersebut.

“ Kita memang lihat membludaknya pengunjung, dikhawatirkan akan berdampak pada ekosistem pesisir. Padahal, tujuan awal kita adalah pelestarian pesisir,” kata Ikhwan Arief, Ketua Kelompok Nelayan “Samudera Bakti” yang juga pengelola obyek wisata Bunder, pekan lalu.

Menurut Ikhwan, rencananya, pengunjung rumah apung akan dibatasi maksimal 200 orang per hari. Ini hanya khusus wisatawan yang akan melakukan snorkling. Tujuannya, mengurangi kemungkinan dampak kerusakan terumbu karang dan ekosistem laut di lokasi. “ Tapi, ini masih wacana. Belum tahu, kapan akan diberlakukan,” jelasnya.

Ditambahkan, kunjungan ke  rumah apung setiap tahun terus meningkat. Rata-rata, dalam kondisi normal, per hari bisa mencapai 500 hingga 1000 pengunjung. Ketika musim liburan, bisa tembus  2000 hingga 5000 orang per hari. Semakin banyak wisatawan melakukan snorkling dan penyelaman, dikhawatirkan akan berdampak pada kelangsungan ekosistem di laut. “ Ini yang kita antisipasi. Jadi, kita targetkan membidik wisata berbasis khusus,” jelasnya lagi.

Terkait pembatasan pengunjung ini, kata dia, tentunya akan melalui pembahasan khusus berbagai pemegang kepentingan. Termasuk, dengan kelompok nelayan dan kelompok sadar wisata (pokdarwis). Sehingga, tidak memicu miskomunikasi.

Ikhwan menambahkan, keberhasilan pengelolaan rumah apung sudah banyak dilirik daerah lain di Indonesia. Pihaknya banyak memberikan pendampingan dalam pelestarian ekosistem laut di berbagai daerah. Tercatat ada 8 kabupaten yang menjadi dampingannya. Salah satunya, di Wakatobi, Papua. “ Kami dampingi untuk memberikan edukasi maritim. Khususnya pelestarian ekosistem laut menjadi obyek wisata,” imbuhnya. Dari 8 kabupaten itu, total anggota nelayan yang sudah diedukasi mencapai 1300 orang. (udi)