Ketua DPD PAN Banyuwangi, Sugiarto , S.E, M.Si, Gaet Kaum Muda Terjun ke Politik

Sugiarto,SE,M.Si. (foto/bb/wid)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – POLITIK menjadi pilihan hidupnya. Bukan tanpa alasan. Dengan berpolitik, bisa ikut terjun langsung memberikan sumbangsih dalam pembangunan. Dialah Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Banyuwangi, Sugiarto,S.E,M.Si. Berkat ketekunannya menekuni jalur politik, pria ini terpilih menggawangi partai berlambang matahari tersebut. Sekaligus, dipercaya duduk sebagai wakil rakyat di DPRD Banyuwangi. Salah satu impiannya, menggaet para pemuda mau terjun ke dunia politik. Dan, mengangkat potensi pertanian untuk membuka lapangan kerja di desa.

Memilih pemuda sebagai bagian perjuangannya, bagi Sugiarto, memiliki banyak alasan. Salah satunya, di tangan pemuda, pembangunan bisa dilanjutkan. Apalagi, khusus di Banyuwangi, membutuhkan banyak anak muda kreatif untuk menggarap beragam sektor potensial. Salah satunya, dunia pertanian.  “ Pemuda itu adalah tulang punggung pembangunan. Karena itu, kami ingin mengajak pemuda mau terjun ke politik. Jadi, ikut langsung dalam gerakan pembangunan,” kata Sugiarto mengawali perbincangan dengan Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Karir Sugiarto dalam dunia politik terbilang cukup lama. Sejak tahun 1998, dia sudah masuk ke kancah politik praktis. Hingga, tahun 2004, dia memilih bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN).  Bergabung dengan parpol, kata dia, salah satu tujuannya memperjuangkan hak dan kepentingan masyarakat luas. Menurutnya, salah satu cara memperjuangkan hajat orang banyak adalah melalui jalur parpol. Hal ini meniru jejak tokoh-tokoh di negeri ini.

Perjuangan dan pengabdian Sugiarto di parpol, membuahkan hasil. Tahun 2014, dia terpilih duduk di DPRD Banyuwangi. Kini, dipercaya masuk ke Komisi II, membidangi perekonomian.

Pihaknya juga memuji perkembangan perekonomian Banyuwangi. Sejak 8 tahun terakhir, perputaran uang di Banyuwangi melampaui tiga kabupaten tetangga, mulai Situbondo, Bondowoso dan Jember. “ Itu seperti data yang dilansir Bank Indonesia (BI),” jelasnya.

Meski begitu, kata dia, masih  sejumlah titik yang masih belum tergarap optimal. Sektor pertanian, misalnya. Pihaknya menyoroti ini berdasarkan sumbangsih sektor pertanian ke APBD Banyuwangi yang belum terlalu besar. Kondisi ini, kata dia, mengharuskan pemegang kebijakan di Banyuwangi bisa mengoptimalkan sektor pertanian, baik dari sisi output maupun sumberdaya, mulai komoditas maupun SDM. “ Tentunya, diperlukan penekanan dalam setiap kebijakan untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya pertanian. Mengingat tingginya sektor ekonomi di Banyuwangi, karena ditopang oleh sektor pertanian,” jelasnya. Menurutnya, pertanian adalah sektor riil, menjadi pondasi yang kuat bagi perekonomian. Justru, kata dia, bukan sektor keuangan atau moneter.

Alumni Unej ini menambahkan, selama duduk di DPRD, banyak mimpinya yang belum terwujud. Salah satunya, anggaran 10 persen dari APBD untuk sektor pertanian. “ Sekarang ini, baru sekitar 6 persen. Tapi, sudah ada progres,” jelas suami dari Anny Nurul Hikmawati ini.

Sugiarto menambahkan,  70 persen lapangan pekerjaan di Banyuwangi berada  di sektor pertanian. Sayangnya, sektor pertanian belum tergarap maksimal. “Saya ingin di Banyuwangi ini muncul industri berbasis pertanian. Karena, saat ini produk agro, bahan bakunya masih impor,” ungkapnya. Dia mencontohkan produk santan, bahan baku justru dari luar negeri. Kondisi ini, kata dia, dipicu penataan yang belum sinergi antara pelaku bisnis di sektor hilir dan hulu. Menurutnya, Banyuwangi belum memiliki industri  berbasis pertanian yang signifikan. Namun, masih pertanian konvensional. Padahal, kata dia, Banyuwangi  memiliki Rencana Tata Ruang Perkotaan Khusus (RTPRK ) di Wongsorejo. Kawasan ini  sebagai industri pertanian.

Impian lain dari pria yang gemar membaca ini, ingin mengajak banyak pemuda menekuni politik. Selama ini, kata dia, generasi muda banyak yang masih menganggap negatif dunia politik negatif. “ Politik itu ibarat senjata, tergantung yang memegang,” ujarnya. Dari politik, kata dia, anak-anak muda bisa membawa bangsa ini. Sebab, mereka memiliki sikap kreatif, inovatif dan progresif.  Dia berharap, mereka yang duduk di DPRD adalah generasi mileneal. Usia 40 tahun ke bawah. Sedangkan, DPRD Provinsi usia 50 tahun ke bawah, dan DPR RI 50 tahun ke atas.

Kini, Sugiarto banyak menggaet kaum muda untuk melek politik.  Apalagi, dirinya tidak pernah  apriori terhadap anak muda. “ Sebenarnya mereka hanya kurang informasi terkait politik, bisa jadi informasi ke mereka adalah politik kotor,” tegasnya. Namun, lanjut Sugiarto, dalam berpolitik tidak boleh instan. Artinya, perlu proses agar menjadi politisi berkualitas. (wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here