Tempe Bacem Laris Via “Online”

47
Oggy menunjukkan tempa bacem kemasan buatannya. (foto/bb/ida)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – USAHA camilan tampaknya tak bisa dianggap remeh. Apalagi, mudahnya pemasaran melalui online. Seperti diakui Oggy Armanda yang mulai merasakan hasil berbisnis tempe bacem. Terlihat sederhana, namun omzetnya lumayan. Usaha kuliner ini baru ditekuni Oggy sejak Oktober 2017. Dia memilih membuat tempe bacem, dikemas dalam plastik.

Menurutnya, kuliner yang satu ini sudah familiar. Namun, jarang yang membuatnya dalam bentuk kemasan. “Di Banyuwangi, kami lihat belum ada  camilan tempe bacem yang dikemas. Padahal, banyak yang suka olahan tempe ini,” kata Oggy kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Yang menarik, usaha yang dirintisnya ini hanya bermodal Rp 100.000. Dipakai membeli bahan dan rempah sebagai bumbu. Awalnya, kata Oggy, tempe bacem buatannya hanya ditawarkan ke kalangan teman-temannya. Ternyata, banyak yang berminat. Pesanan mengalir. “Akhirnya, saya putuskan memproduksinya dan menjadi peluang usaha,” kata Oggy. Selama ini, proses produksi masih mengandalkan pesanan.

Resep membuat tempe bacem ini diperoleh dari warisan keluarga. Sehingga, rasanya diminati. “ Sekali mencoba, pasti ketagihan,” jelas pemilik tempe bacem “Maknyuss” ini.

Dalam membuat tempe bacem, Oggy dibantu sang istri dan ibunya. Pria yang tinggal di Jalan Ikan Wijinongko, Banyuwangi ini optimis, bisnis kuliner tempe bacem memiliki peluang yang bagus. Apalagi, dipasarkan secara online.

Harganya yang terjangkau, kata Oggy, membuat kuliner tempe bacem disukai  semua kalangan. Khusus bahan tempe, pihaknya tak sembarangan memilih. Hanya tempe yang berkualitas.  Menurutnya, kualitas tempe mempengaruhi hasil rasa. “ Kalau tempenya kurang bagus, pasti akan rusak kalau dimasak,” imbuhnya.

Harga tempe bacem buatannya dibandrol cukup murah. Hanya Rp 5000 per bungkus, isi 7 biji tempe. Selama ini, kata Oggy, pemasaran paling banyak dari online. Tempe bacem buatannya bisa tahan hingga satu bulan jika disimpan di almari pendingin. “Kami tak pakai pengawet. Bumbunya pilihan. Jadi, rasanya berani diadu,” kata Oggy. Dari usaha ini, pihaknya bisa meraup omzet hingga Rp 1 juta per bulan. (ida)