Desa Sragi, Merintis Sistem Pertanian Organik

23
Kades Sragi, Hartono. (foto/bb/tin)

Songgon (BisnisBanyuwangi.com) – BERADA di kawasan kaki Gunung Raung, membuat Desa Sragi, Kecamatan Songgon, kaya akan potensi alam. Udara di kawasan ini terasa sejuk. Pertanian menjadi sektor unggulan masyarakat setempat. Melimpahnya air, juga membuat warga setempat mengembangkan sektor perikanan. Lele salah satunya. Pemerintah desa setempat juga sedang merintis sistem pertanian organik.

Desa Sragi terdiri dari tujuh dusun. Yakni, Dusun Kendal, Kencono, Watu Gomol, Krajan, Pertapan, Bongkoran dan Sragi Tengah. Desa ini merupakan desa pecahan dari Desa Kemiri. Terbentuk tahun 1901. Sejarah nama Desa Sragi terdapat dua versi cerita. Pertama, di sekitar desa ini terdapat beberapa desa dengan nama unik. Seperti Desa Laos, Desa Kunir dan Desa Kemiri. Nama-nama bumbu ini dalam Bahasa Using disebut  Ragi. Maka, dikenallah desa ini dengan sebutan Desa Sragi. Versi kedua, di kawasan ini ada perkebunan yang banyak orang Madura. Jalan menuju kawasan ini sangat sulit. Dan, orang Madura menyebutnya Saragi. Sehingga dikenallah dengan Desa Sragi. Karena pasokan air melimpah, salah satu sektor pertanian yang dikembangkan warga, tanaman padi.

Kepala Desa Sragi Hartono mengatakan saat ini pemerintah desa setempat sedang getol mengembangkan sistem pertanian organik. “Ke depan, harapan Desa Sragi sebagai Desa Organik, bisa segera terwujud,”  kata Hartono kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Menurutnya, hingga tahun 2018, luas lahan pertanian di kawasan ini mencapai 500 hektar. Dan, baru 5 hektar yang dikelola warga dengan sistem pertanian organik.

Menurut Hartono, untuk mengubah pola atau menset petani dari nonorganik ke organik tak mudah. Karena itu, sosialisasi akan terus digencarkan. Pihak desa setempat serius merintis sistem pertanian organik. Mengingat, selain ramah lingkungan, juga hasilnya lebih menjanjikan. “Sejauh ini pasar beras organik masih sebatas melayani pasar lokal saja,” ungkapnya. Saat ini, harga beras organik mencapai Rp 30.000 per kilogram.

Berbagai jenis tanaman padi dikembangkan warga setempat. Selain beras merah juga beras hitam.

Sejak dulu, menanam padi menjadi tradisi masyarakat setempat. Tahun ini, pemerintah desa setempat ingin mengangkat tradisi tanam padi menjadi sebuah acara festival. Yakni Festival Tanam Padi, Juli mendatang. Selain melestarikan budaya tanam padi, diharapkan acara ini bisa menjadi ajang wisata.

Tahun 2018, pemerintah desa setempat serius menggarap sektor wisata. Salah satunya menata desa setempat menjadi kawasan wisata. Salah satunya menata jalan desa dengan menanam bunga. (tin)

Rempeyek Pakis hingga Rujak Soto

SELAIN memiliki potensi pertanian, Desa Sragi dikenal memiliki pusat kuliner. Menjadi jujugan wisatawan. Salah satu kuliner yang diburu wisatawan ketika  ke Sragi adalah mencicipi rujak soto. Meski banyak rujak soto, namun rasa yang ditawarkan rujak soto di kawasan ini sangat istimewa.

Menu rujak soto ini ditawarkan Pinisri. Selain mengelola pusat oleh-oleh “Sari Mulyo”, setahun belakangan, ibu dua anak ini juga mengembangkan produk rujak soto. Harganya murah, Rp 10.000 per porsi. Pelangannya cukup banyak, terutama wisatawan luar daerah.

Selain berburu rujak soto, banyak wisatawan berburu oleh-oleh di tempat ini. Seperti aneka kue kering khas Banyuwangi sampai kuliner unik. Mulai, kerupuk bonggol pisang, kerupuk lidah buaya sampai rempeyek pakis. Menurut, Hartono ke depan mencicipi rujak soto ini akan dikemas sebagai bagian dari agenda wisata di Desa Sragi. Lokasi rujak soto ini berada di pusat desa. Sehingga, lokasinya mudah dijangkau. Pengelola rujak soto ini juga sudah tak asing dalam dunia kuliner kreatif di Banyuwangi. Pinisri kerap diundang menjadi tutor dalam berbagai pelatihan di Banyuwangi. (tin)