Praktisi Kuliner, Pinisri, Latih UKM Muda Lebih Berdaya

11
Bersama para peserta pelatihan makanan olahan. (foto/bb/tin)

Songgon (BisnisBanyuwangi.com) – DI DUNIA perkulineran Banyuwangi, namanya sudah dikenal. Selain aktif menjadi juri dalam berbagai even kuliner di Banyuwangi, wanita bernama Pinisri ini juga aktif memberikan pelatihan kuliner di seluruh desa  dan kecamatan se-Banyuwangi, sejak tahun 2014. Berkat inovasi dan kreativitasnya, wanita asli Desa Sragi, Kecamatan Songgon ini menjadi  wakil Banyuwangi dalam Lomba UKM dan Olahannya tingkat Provinsi Jawa Timur, baru-baru ini.

Usaha kuliner sejatinya bukan cita-cita wanita kelahiran Sragi, 2 Februari 1965 ini. “Cita-cita saya dulu menjadi guru,” ungkap pemilik Pusat Oleh-oleh “Sari Mulyo” ini kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu. Wanita tamatan S1 Sejarah FKIP PGRI Banyuwangi ini, sempat mengajar di  SMP Kosgoro Sragi. “Saya mengajar di sana dari tahun 1991 sampai 2001,” kenangnya. Lantaran, orangtua sakit, Pinisri yang merupakan anak bungsu ini memilih mundur, fokus merawat orangtuanya.

Pinisri mulai berkecimpung di usaha kuliner tahun 1996. Dia mengaku, berawal dari kondisi kepepet. Berangkat dari modal Rp 5.000, membuat kue donat. “Saat itu, kondisi kepepet, saya niat bikin kue, dan saya punya tekad untuk berjuang,” kenangnya. Dari situ, Pinisri tertarik merintis usaha kue dan katering. Tak berselang lama, usaha kuenya melejit. Pinisri banjir pesanan kue basah dan kue kering. Pemasaran kue kering, dia pasarkan di rumah. Kini, rumahnya di Dusun Sragi Tengah RT 01 RW 1 Desa Sragi, Kecamatan Songgon, dia sulap menjadi kawasan oleh-oleh.

Saat itu, Pinisri juga membuat kue kering untuk melayani permintaan pusat oleh-oleh di Banyuwangi dan Genteng. Salah satu kiat suksesnya, selalu membuat inovasi. Seperti kerupuk bonggol pisang, rempeyek pakis, kerupuk lidah buaya dan rempeyek daun sirih. Dirinya kerap diminta mengikuti ajang pameran di Banyuwangi dan Bali.  Imbasnya, Pinisri banjir pesanan olahan dari Bali.

Akibat kualahan, Pinisri membentuk asosiasi  kelompok usaha kecil, beranggotakan 100 orang. Terbagi menjadi 3 kelompok. Usaha kerajinan, usaha tahu tempe dan usaha olahan. Pinisri aktif melakukan pembinaan. “Adanya kelompok ini bermanfaat sekali, sebagai ajang sharing terkait bahan baku,  serta memecahkan masalah-masalah terkait dengan produksi, termasuk saya ajarkan resep-resep,” ungkapnya. Tak hanya membina dalam hal produksi, Pinisri pun ikut membantu dalam hal pemasaran produk olahan para anggota.

Tahun 2014, dinas terkait mempercayakan istri Moh. Slamet Riyadi ini untuk melatih calon UKM di desa-desa dan kecamatan se- Banyuwangi.  Permintaan untuk mengisi kegiatan pelatihan pun datang dari berbagai daerah. Seperti Situbondo dan Toyopo, Sulawesi Tengah. Menariknya, dalam membuat olahan, Pinisri selalu mengaitkan dengan potensi lokal di tiap daerah.

Tak hanya ibu-ibu, Pinisri juga melatih para remaja dan para santri di pondok-pondok pesantren. Termasuk memberi bekal pelatihan di bekas lokalisasi untuk piawai membuat kue kering.

Pinisiri mengaku tak pernah pelit ilmu. Apalagi dalam melatih UMK Muda menjadi lebih berdaya. “Saya berharap banyak muncul UKM baru yang lebih kreatif dan inovatif,” ucap wanita yang sempat menduduki jabatan sebagai Wakil Ketua Asosiasi Pangan Olahan Banyuwangi ini.

Dalam berinovasi, Pinisri tak pernah berhenti. Dirinya  membuat kreasi aneka tepung. Seperti tepung ubi, tepung singkong dan tepung pisang untuk kue kering dan olahan mie.

Dalam merintis usaha, dirinya juga tak lepas dari jatuh bangun. Tahun 1997, 1998 saat krisis moneter, turut berimbas pada usahanya. Yakni, menurunnya penjualan secara drastis. Solusinya, dia membuat inovasi. Seperti, kerupuk bonggol pisang dan rempeyek pakis dan kue kering lainnya.

Permintaan dari Bali cukup banyak. Di tengah usaha yang mulai naik, kembali terguncang bom bali, tahun 2001. “Saat itu, pengiriman ke Bali terhenti, lantas pengiriman berganti ke Malang,” ucap ibunda dari Lutfi Soleha dan Moh. Yahya Zulhaqi ini. Selain giat berusaha, kegiatannya aktif dalam membantu anak-anak yatim. Bersama sang adik, dirinya ikut merintis berdirinya organisasi anak yatim. (tin)