Hasil Persilangan, Jumani Temukan Benih Semangka Unggul

44
Buah semangka hasil bibit unggul. (foto/bb/tin)

Srono (BisnisBanyuwangi.com) – USAHA pembenihan semangka ditekuni Jumani bersama sang istri sejak tahun 2009. Meski keduanya buta huruf, namun pasutri ini sukses menciptakan aneka benih semangka unggul. Kini, pemasaran benih semangka ini hampir ke seluruh Indonesia.

Jumani mengawali usaha pembenihan ini dengan menanam semangka seluas 1 hektar. “Saya berangkat dari modal pinjaman Rp 20 juta,” ungkap pria asl Dusun Kaligoro, Desa Sukomaju, Srono ini kepada Bisnis Banyuwangi.

Dari luasan satu hektar itu, Jumani bisa menghasilkan benih semangka hasil persilangan. Ada beberapa jenis benih semangka hasil persilangan yang dia buat. Semangka inul, kulit kuning dan kulit hijau, semangka bulat dengan kulit gelap dan kulit cerah, semangka oval dan semangka kulit kuning. “Semua disukai petani, terutama semangka bulat dan oval. Namun,  semangka kulit kuning kurang peminat,” ungkapnya.

Dari informasi dari petani, keunggulan benih semangka miliknya ini, selain pertumbuhan bagus, peluang hidup lebih tinggi.  Saat ini usaha pembenihan terus berkembang. Bahkan luasan areal tanam semangka mencapai 24 hektar. Melibatkan 120 tenaga kerja. Selain di Banyuwangi, seluas 4 hektar kawasan penanaman di Lumajang. Dari tanam semangka, dia hanya mengambil bijinya sebagai benih.

Menurut Jumani, setiap daerah cocok untuk dikembangkan semangka. Hanya, tergantung musim. “Jika musim hujan, pembuangan air harus bagus,” ucapnya.  Dalam setahun ada 4 kali panen.  Hasilnya tak pasti. Dari 24 hektar Jumani bsa mendapat 2,5 – 3 kwintal biji sekali panen.

Permintaan benih semangka ini, kata dia, cukup bagus. Menurutnya, untuk mengantisipasi kegagalan, petani harus menguasai iklim dan cuaca. Menanam semangka paling untung pada bulan 12 sampai bulan 3. Sementara jika pada Juli mulai menanam, hasilnya kurang bagus. Sebab, masuk musim dingin. Dan, jika tanam bulan 10, harganya juga kerap hancur lantaran musim panen bersamaan dengan mangga.

Saat ini dari 24 hektar tanaman semangka miliknya, sebagian akan masuk masa panen, sebagian baru tanam. Jumani merogoh biaya produksi mencapai Rp 1 miliar lebih.

Dengan rincian per hektar mencapai Rp 45 juta. “Untuk prediksi hasil sulit, tergantung cuaca. Per hektar bisa 20 kilogram biji, bahkan pernah hanya 10 kilogram biji,” ucapnya.

Jika pas untung, sekali panen, Jumani bisa meraup Rp 100 juta. Namun, kerugian dan resiko juga besar. Akhir tahun 2017 silam, akibat terjangan banjir, Jumani rugi sampai Rp 800 juta.

Kini, dalam pemasaran benih, Jumani dibantu  sales. Pemasaran benih semangka hasil persilangannya tembus ke berbagai daerah. Termasuk Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Bali dan Maluku.

Sebelum kualitas benih buatannya diakui, Jumani perlu waktu setahun guna meyakinkan petani.  “Awalnya saya kasih gratis pun petani nggak mau,” kenangnya. Kini, Jumani bisa tersenyum. Jerih payahnya diterima petani. Namun, yang menjadi ganjalannya, sulitnya mengurus sertifikat bibit di Bumi Blambangan ini.  (tin)