Ketua AMAN Banyuwangi Agus Hermawan, Bersinergi Lakukan Pemetaan Wilayah Adat

14
Bersama Ketua Umum AMAN Nasional. (foto/bb/wid)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – KEMAJUAN Banyuwangi dalam beberapa tahun terakhir, mulai dinikmati masyarakat adat Using. Sayangnya, kemajuan itu belum menyentuh pada sendi-sendi kehidupan  warga asli Bumi Blambangan. Sebab, masyarakat adat Using tidak hanya hidup 1 atau 7 hari ritual. Namun, hidup untuk 365 hari. Fakta ini yang seharusnya mendapat perhatian semua pihak, khususnya pemerintah sebagai fasilitator. Hal ini diungkapkan Ketua Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Banyuwangi, Agus Hermawan usai mengikuti Rakernas AMAN ke-V di Wanua Koha, Minahasa, Sulawesi Utara, 14 -17 Maret 2018.

Menurut Agus, banyak hal yang menjadi permasalahan masyarakat adat, tapi belum mendapat perhatian. Seperti, keterancaman wilayah adat, dimana terkadang komunitas masyarakat adat kurang dilibatkan dalam penyusunan program pembangunan.

“Kita berharap, Perda Perlindungan Budaya dan Adat-istiadat yang diselesaikan oleh DPRD dan Pemkab menjadi pintu masuk melakukan perlindungan kepada masyarakat adat itu sendiri,” katanya saat berbincang dengan Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Menurutnya, setelah mengetahui hasil dari Rakernas, seharusnya wilayah-wilayah adat diberi ruang oleh pemerintah, ruang refleksi untuk membuka kembali lembaran perjuangan yang sudah ditulis. Karena, kata dia, banyak hal yang dilakukan belum membuahkan hasil. Meski,  di beberapa wilayah menunjukan progres baik dalam percepatan pengakuan hak-hak masyarakat adat.

Ditambahkan, Rancangan Undang-undang Pengakuan dan Perlindungan Hukum Masyarakat Adat  (PPHMA) yang ditunggu juga belum disahkan pemerintah.  Padahal, itu bagian dari Nawacita. Menurut Agus, ada hal yang sedikit menggembirakan terkait progres penetapan hutan adat. Meski lambat, kata dia, setidaknya ada harapan diperluas lagi ke depan.

Agus melanjutkan, organisasi adat harus segera berbenah, menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan dalam mengawal kepentingan organisasi.

“Minggu lalu kami menggelar Rakor bersama BPMDes Banyuwangi, mengangkat tema orientasi pelaku adat pengungkit pembangunan perdesaan. Kami mulai sinergi untuk melakukan pemetaan kembali wilayah-wilayah di Banyuwangi,” kata anggota Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat ini.

Pria yang juga Ketua Bidang Koordinator Wilayah Forum HRD Korwil V pengawas Dinas Tenaga Kerja Provinsi untuk Banyuwangi ini mengatakan menjadi Ketua AMAN tidaklah mudah. Karena , harus bisa lentur melihat perubahan di era saat ini. Dimana, nilai-nilai kearifan lokal tersebut harus terjaga dengan modernitas. Termasuk, pandangan miring terhadap masyarakat adat itu sendiri. Karena, kata dia, Banyuwangi masih memiliki beberapa titik lokasi masyarakat yang teguh memegang tradisi lokalnya.

“Melakukan kembali rekonstruksi terhadap mindset yang berkembang di masyarakat. Dimana, adat itu sebenarnya menjadi bagian dari nafas budaya masyarakat itu sendiri,” jelas suami dari Ani Eka Nurhidayati ini.

Menurutnya, pendekatan personal kepada tokoh, baik budayawan, politikus dan sejarawan dan agawan perlu dikuatkan. Tujuannya, memberikan pemahaman tentang apa dan siapa masyarakat adat.

Karena, imbuh Agus, dalam masyarakat adat terdapat keseimbangan terhadap alam dan manusia. Artinya, semakin alam itu dijaga melalui kegiatan tradisi dan ritual, maka masyarakat akan sejahtera. Sebab, bagi masyarakat adat, alam menjadi bagian yang harus dilestarikan, bukan dieksploitasi.

Salah satu cara bisa memberdayakan masyarakat adat Banyuwangi yang beragam, pihaknya sudah menggali, menginventarisir,  dan menyusun peta wilayah. Di dalamnya tersusun beberapa kearifan lokal. Baik wilayah, adat tradisi, ekonomi kemasyarakatan dan kelembagaan adat. Sekaligus, hukum adat yang masih ada, dan dulu pernah ada.

“Saat ini kami sudah bersinergi dengan desa/kelurahan melalui BPMDes untuk merangkum kerarifan lokal di masing-masing desa atau kelurahan di Banyuwangi. Tujuannya, sebagai upaya lebih mengangkat kembali nilai-nilai luhur yang masih terpendam di Banyuwangi,” pungkasnya. (wid)