Warung “Mak Isun”, Kuliner Murah, Lokasinya Nyaman

Suasana warung “Mak Isun” yang asri dan nyaman. (foto/bb/ida)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – MEMBUKA usaha kuliner makin digemari di kota Banyuwangi. Apalagi, geliat pariwisata ikut mendongkrak bisnis ini. Namun, membuka usaha kuliner harus kreatif. Selain mengutamakan rasa, kenyamanan pengunjung wajib menjadi prioritas.Harga juga harus terjangkau alias murah.  Pelayanan ini yang ditawarkan  warung “Mak Isun” di Jalan KH. Agus Salim, belakang Kampus Untag’45, Banyuwangi.

Usaha kuliner milik pasangan suami istri, Triono Jatmiko (42) dan Dewi Utami (43) ini dibuat berbeda. Tempatnya nyaman, santai. Sehingga, membuat betah setiap pengunjung. Menu yang ditawarkan juga beragam. Rasanya tak kalah lezat dengan restoran papan atas. Keunikan lainnya, warung di tengah kota ini dibuat klasik. Tempat duduknya berbahan limbah kayu. Bangunannya terbuka, khas rumah Using. “ Kami menawarkan suasana warung dengan sensasi beda. Santai, lokasinya juga mudah dijangkau,” kata Triono kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Di warung miliknya, pria yang juga pengembang perumahan ini menyediakan aneka menu. Mulai menu tradisional hingga hidangan kekinian. Seperti, nasi goreng , nasi tempong, lalapan ayam goreng hingga mie istan. Menu spesial yang ditawarkan, rawon, pecel, mie goreng, capcay, koloke, ayam geprek ori, ayam geprek mozzarella, nasi bakar mozzarella, nasi bakar dan ayam kesrut. Harganya dibandrol sangat murah, mulai Rp 8.000 per porsi. “ Jadi, kami ingin merubah kesan, makan di tengah kota dengan suasana nyaman, harganya murah,” jelas Triono.

Selain makanan, tersedia aneka jajanan. Seperti, pisang gulung cokelat keju,pisang goreng dan ketan kirip. Lalu,  beragam minuman segar. Buka mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB. Karena murah dan tempatnya nyaman, warung yang mengusung motto “ Serasa di Rumah Sendiri” ini, tak pernah sepi pengunjung. Warung ini baru dibuka sekitar dua bulan lalu, bermodal sekitar Rp 200 juta. Lokasinya cukup mudah dijangkau. Meski di tengah kota, lokasinya tak bising. Sehingga, cukup nyaman dipakai nongkrong bersama keluarga. Suasana warung yang asri, tenang, membuat pengunjung betah.

Triono menjelaskan, nama Mak Isun sengaja dipilih. Nama dalam bahasa Using ini dipilih lantaran sangat familiar. Harapannya, memikat pengunjung. “ Artinya ibu saya. Jadi, dalam bahasa Using, mak isun. Kalimat ini sudah familiar,” jelasnya lagi.

Sejauh ini, kata Triono, pelanggan yang datang ke warungnya cukup beragam. Mulai kalangan mahasiswa, kelompok ibu-ibu hingga pegawai kantoran. Maklum, lokasi warung “Mak Isun” tepat di kawasan pusat perkantoran dan kampus. Meski masih baru, warung ini sudah mempekerjakan hingga 12 karyawan. Menurut Triono, pihaknya tak sekadar berbisnis membuka warung “ Mak Isun”. Namun, ingin ikut membuka lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran.

Sementara, sang istri, Dewi Utami menuturkan kuliner di warungnya menggunakan resep beda, hasil warisan keluarga. Dari resep inilah, dirinya mengolah kuliner dengan rasa yang beda. Berawal dari hobi memasak, ibu dua putri ini, bersemangat membuka usaha kuliner. Selain warga lokal, pengunjung di “Mak Isun” banyak dari kalangan wisatawan luar kota. “ Kami juga melayani pesan antar. Harganya tak jauh beda,” ujar wanita berhijab ini.

Agar hasil kuliner tetap fresh, pihaknya cukup ketat memilih bahan. Seluruhnya didatangkan dari Banyuwangi. Sehingga, terjamin kesegarannya.

Selain murah, warung “Mak Isun” memberi promo diskon setiap bulannya. Selama bulan ini, jika membeli 5 porsi, mendapat bonus 1 menu gratis. Agar pengunjung nyaman, pihaknya tak memberikan waktu lama untuk pesan makanan. Hanya sekitar 10 menit. (ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here