Desa Plampangrejo, Lahirkan Banyak Atlet Berprestasi

43

Muncar (BisnisBanyuwangi.com) – JAUH dari kota, tak membuat Desa Plampangrejo, Kecamatan Muncar, minim prestasi olahraga. Justru, selain dikenal kerajinan tampah, desa ini dikenal prestasinya di bidang olah raga, khususnya bola voli. Tak heran jika keberadaan klub-klub bola voli masih eksis hingga saat ini. Para pemuda juga bangga dengan olahraga tersebut.

Salah satu kelompok bola voli yang masih eksis, klub Bina Muda. Dari klub kecil ini banyak melahirkan pemain-pemain voli berprestasi. Potensi anak-anak muda setempat di bidang olahraga menjadi perhatian pihak desa.

Kepala Desa Plampangrejo Slamet menuturkan, sejak dulu desa ini dikenal prestasinya di bidang olah raga. Berbagai cabang olahraga diminati pemuda- pemudi setempat. Seperti bulutangkis, bola voli dan sepakbola.  “Kini kami ingin mendorong munculnya bibit-bibit atlet baru,” ungkapnya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Salah satu upaya yang dilakukan pihak desa dengan membangkitkan lagi kegiatan karangtaruna yang sempat mati suri. Untuk mendukung kegiatan anak-anak muda, khususnya di bidang olahraga, pihaknya menyediakan fasilitas olahraga di lingkungan RT. Seperti perbaikan lapangan olahraga, pemberian lampu penerangan, bola dan bulutangkis. Disamping itu, perbaikan jalan menjadi program prioritas. Mengingat kondisi jalan sepanjang 20 kilometer masih rusak, perlu diperbaiki.  Usaha kerajinan anyaman juga masih eksis di desa ini. Seperti ditekuni warga Dusun Wringinpitu, dikenal dengan Kampung Tengah.

Jarak Desa Plampangrejo dari kota Banyuwangi sekitar 41 kilometer. Untuk masuk ke Kampung Tengah ini, pengguna jalan harus bersabar. Sebab, tak semua jalan desa beraspal.

Dusun Wringinpitu merupakan satu dari tiga dusun di desa ini.  Saat masuk dusun ini, kental dengan aktivitas warga membuat kerajinan tampah. Usaha kerajinan ini sudah ada sejak puluhan tahun silam. Ditekuni warga sejak turun temurun. Salah satunya, Siswati. Ibu dua anak ini mengaku sudah 30 tahun menekuni usaha kerajinan tambah ini. “Usaha kerajinan tampah sudah menjadi usaha pokok kami,” ucapnya di sela menjemur tampah. Sebelumnya, orangtua dan neneknya juga membuat tampah. Siswati mengaku enggan meninggalkan usaha warisan ini dan bertahan sebagai pengrajin tampah.

Sehari-hari, dia membuat tampah bersama suami dan sang anak. Menurutnya, dahulu hampir semua warga dusun ini membuat tampah. Tapi lantaran, hasilnya dinilai kurang menjanjikan banyak warga beralih profesi. Hal ini, seiring dengan kian menyusutnya lahan sawah. Dahulu, jika dimusim panen. Tampah banyak diburu. Tapi, sejak luasan sawah menyusut, permintaan menurun.

Proses membuat tampah cukup rumit. Bahan baku yang digunakan bambu apus dan bambu jawa. Dia membeli seharga Rp 15.000 per lonjor. Bagian tepian tampah atau plengker dibuat dengan cetakan kayu. Sehingga, ukurannya sama. Pekerjaan membuat plengker ini biasa ditangani kaum pria, sementara kaum wanita menyirat bambu, serta menganyam.

Sebelum dirakit, plengker dan anyaman dijemur sampai kering. Karena itulah pengrajin sangat bergantung pada sinar matahari. “Jika tak ada panas ya harus sabar,” tambah Siswati. Setelah kering, baru dikaitkan. Setelah itu, tampah dioven selama 2  jam. Proses pengovenan masih tradisional. Dengan cara di asap, menggunakan kayu bakar. Proses pengovenan dilakukan pagi dan sore hari, saat sepi angin.

Menurut Siswati, fungsi pengovenan ini menjadikan warna tampah lebih menawan, kuning keemasan. Sehingga tak pucat. Di samping lebih kuat, tak mudah dimakan hama kayu.

Dalam 15 hari, Siswati bisa membuat 100 tampah. Ciri khas tampah buatan Dusun Wringinpitu  terletak pada anyaman. Bagian alasnya lebih kecil-kecil, berbeda dengan tambah dari Jember.

Pemasaran, pengrajin nyaris tanpa kendala. Ada pengepul dan pedagang yang siap menampung. Bahkan, kata Siswati, banyak pedagang luar kota yang datang ke dusun kecil ini untuk membeli tampah. Oleh mereka, tampah dikirim ke berbagai kota, bahkan lintas pulau. Seperti Kalimantan, Bali dan Papua.

Siswati menjajakan sendiri tampah buatannya dengan berkeliling. Bahkan sampai ke Genteng, Sarongan dan Pesanggaran. Harganya Rp 10.000 per biji. Untuk membuat tampah ini, Siswati hanya bermodal Rp 150.000, bisa menghasilkan 150 tampah. Dari usaha ini, dia mengaku mendapat penghasilan Rp 2 juta per bulan.  Hal senada dikatakan Tugiman, menekuni usaha kerajinan tampah sejak tahun 1994. Dia mengaku, usaha ini warisan keluarga. Untuk membuat tampah, dia membeli bambu dari kawasan Cluring. Tiap 2 lonjor bambu, bisa menjadi 20 tampah. Tiap 10 hari, dia dibantu anak istri bisa membuat 100 tampah. Setelah siap jual, tampah disetor ke pengepul seharga Rp 7.000 per biji. “Oleh pengepul di bawa ke Bali,” pungkasnya. (tin)

Berawal dari Rumput Pang-pangan

DESA Plampangrejo memiliki luas 930.278 hektar. Batas wilayahnya, Desa Kaliploso Kecamatan Cluring di sebelah utara. Di sebelah timur , dengan Desa Sumberberas. Desa  Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo di bagian selatan. Dan, bagian Barat berbatasan dengan Desa Kradenan, Kecamatan Purwoharjo. Terbagi  menjadi tiga dusun,  Dusun Krajan, Dusun Rumping dan Wringinpitu. Desa dengan jumlah penduduk 8.855 jiwa ini mayoritas warganya bekerja sebagai petani. Beragam tanaman pertanian, termasuk jeruk dan buah naga tumbuh subur.

Sejarah Desa Plampangrejo tak lepas dari sejarah Desa Bersaudara di Kabupaten Banyuwangi. Awalnya bernama Desa Plampengrejo dengan lurah seumur hidup, bernama Kasiyorejo (Mbah Pon). Tahun 1930, nama desa diubah menjadi Desa Plampangrejo. Nama tersebut diambil dari banyaknya rumput pang pangan merah di desa ini.

Menurut Kepala Desa Plampangrejo Slamet, selain jeruk dan buah naga, kerajinan anyaman menjadi potensi unggulan desa ini. Yakni kerajinan tampah di Dusun Wringinpitu. Untuk melestarikan usaha ini, sekaligus menambah keterampilan warga, sempat dilakukan pelatihan kerajinan anyaman. Serta, bantuan modal ke pengrajin. (tin)