Desa Kalipait, Genjot Saluran Irigasi

36
Kades Kalipait, Puput Hendri Atmojo (tengah) dalam sebuah kegiatan. (foto/bb/ist)

Tegaldlimo (BisnisBanyuwangi.com) – MENJADI penyangga Taman Nasional Alas Purwo,  Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, memiliki lahan subur. Kawasan pertanian yang luas. Sayangnya, desa ini tak memiliki pasokan pengairan yang cukup. Sehingga, dibutuhkan saluran irigasi yang memadai. Menambah dan memperbaiki saluran irigasi menjadi  program utama pemerintah desa setempat.

Secara administrasi,  Taman Nasional Alas Purwo berada di Desa Kalipait. Karena itu, sebagian besar masyarakatnya merupakan penyangga hutan. Desa ini merupakan desa pecahan dari Kendalrejo. Secara administratif  berdiri tahun 2001. Desa Kalipait hanya dibagi menjadi dua dusun. Dusun Kutorejo dan Purworejo.

Menurut Kepala Desa Kalipait Puput Hendri Atmojo,  sejarah nama Desa Kalipait terdapat dua versi cerita. Pertama, nama Desa Kalipait diambil dari rasa air di kawasan desa ini yang berasa asin. Saking asinnya sampai berasa pahit. Sehingga dikenal sebagai Desa Kalipait. “Sementara vesi lain diambil dari kata Kalifah yang berati pemimpin. Hal ini dikaitkan dengan banyaknya pemimpin yang datang ke desa ini, ke Goa Istana, nguri-nguri sejarah. Mengingat Goa Istana ini diyakini sebagai tempat bertapa Bung Karno. Termasuk,  konon Presiden Joko Widodo,” ungkapnya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Masyarakat setempat bersandar pada sektor pertanian. Selain tanaman pangan, berbagai tanaman holtikultura dikembangkan. Sebagian besar masyarakat memiliki lahan pertanian di kawasan hutan. Saat ini luasan hutan produksi ini mencapai ratusan hektar. Yang menjadi pemandangan menarik, saat masuk desa ini, terutama kawasan Dusun Kutorejo, kendaraan gerandong menjadi moda transportasi andalan warga.  Mengangkut hasil pertanian.

Sejak Puput menjabat, kondisi jalan usaha tani sudah mulus. Sehingga mobil bisa masuk untuk mengangkut hasil tani. Namun, untuk mengakut hasil tani dari kawasan hutan, warga masih mengandalkan transportasi gerandong. “Medannya sulit, hanya transportasi inilah yang bisa menjangkau,” ungkap Puput.

Tak sedikit warga di kawasan ini yang memiliki transportasi berbahan  bakar solar ini. Termasuk kepala desa sendiri. Armada transportasi ini unik. Hasil rakitan sendiri. Lantaran biaya pembuatannya yang tak murah, sekitar Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per satuan, banyak warga yang memilih menyewa trasportasi ini ketika mengangkut hasil panen. Sulitnya medan, membuat jasa angkut dihargai mahal. “Tarif tergantung jarak dan kondisi jalan. Jika medan rusak parah, tarif  bisa mencapai Rp 10.000 per karung,” kata Puput. Tak sebanding dengan biaya produksi yang mahal.

Gerandong ini selain untuk dipakai sendiri, juga beberapa warga mengirim gerandong sampai ke luar pulau. “Ini karena ada warga sini yang punya lahan pertanian di luar pulau,” ucap Puput.

Saat ini, selain kondisi jalan usaha tani yang 100 persen sudah mulus, pembangunan infrastruktur dan pemberadayaan menjadi prioritas orang nomor satu desa ini. “Untuk jalan desa sudah layak jalan, sekitar 30 persen perlu pemadatan,” ucapnya.

Hal penting lainnya, kata Puput, mengingat desa ini jauh dari sumberair, sehingga rawan bencana kekeringan. Mengantisipasi hal ini pembuatan saluran air untuk irigasi pertanian digenjot. Dengan saluran memadai, air tak mubazir dan tepat sasaran.  Disamping itu, penyediaan sumur bor. Saat ini sumur bor dibuat di satu titik di kawasan Kutorejo, untuk kepentingan konsumsi warga. Sejauh ini, kata Puput, air konsumsi menjadi masalah warganya. Mengingat rasa air sumur asin, untuk konsumsi warga membeli air kemasan atau isi ulang.  Sementara, masyarakat Kutorejo memilih memanfaatkan sumber air Gunung Lingga Manis, dialirkan melalui pipa ke pemukiman warga. Masalahnya kondisi pipa ini kini mulai rusak. Berbagai upaya untuk pengingkatan ekonomi warga  terus diupayakan. Selain perbaikan jalan usaha tani, juga pembangunan jembatan beton. Sehingga mobil pengangkut hasil pertanian bisa masuk. (tin)