Bulog Pastikan Beras Impor hanya Transit

12
David Susanto. (foto/bb/udi)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – BERAS impor yang digagas pemerintah pusat dijadwalkan masuk ke Banyuwangi. Namun, hanya transit. Bulog memastikan tidak ada beras impor yang beredar di pasaran di Banyuwangi. Sebab, cadangan beras di kota Gandrung masih melimpah.

Kepala Bulog Banyuwangi, David Susanto memastikan Banyuwangi hanya menjadi tempat penyimpanan beras impor. Beras itu diperuntukkan bagi cadangan kawasan timur Indonesia. Seperti, NTT dan Papua. “ Jadi, beras impor hanya transit di Banyuwangi. Tak sampai beredar di pasaran,” tegas David, pekan lalu.

Ditambahkan, pihaknya belum mengetahui berapa jumlah bera simpor yang akan transit di Banyuwangi. Namun, pihaknya sudah menyiapkan kapasitas gudang penyimpanan 10.000 hingga 20.000 ton. Banyuwangi kata dia, dipilih sebagai lokasi transit lantaran lokasinya strategis. Memiliki pelabuhan yang bisa disandari kapal besar. Selain Banyuwangi, Surabaya juga dijadikan tempat sandar beras impor.  Pihaknya, kata David, hanya mendapatkan perintah menyiapkan gudang penyimpanan.

Menurutnya, kapasitas gudang penyimpanan Bulog Banyuwangi mencapai 110.000 ton. Ditambahkan, meski tak sampai masuk pasar, kedatangan beras impor memiliki sedikit manfaat. Misalnya, membutuhkan tenaga buruh angkut, bea cukai hingga pengusaha pelabuhan. “ Bisa dibayangkan, jika per kilogram sekkitar Rp 450, berapa omzet ekonomi yang didapat,” jelasnya. David memastikan, kebijakan impor beras berada di pusat. Pihaknya hanya bertugas menyiapkan gudang penyimpanan. “ Kepastian kapan datangnya juga belum tahu, termasuk dari negara mana,” tegasnya lagi.

Tahun 2018, Bulog Banyuwangi mentargetkan penyerapan beras hingga 96.000 ton. Jumlah ini melebihi target di tahun 2017 yang hanya 76.000 ton. Penambahan target ini menyusul surplus penyerapan beras yang mencapai 81.000 ton. “ Karena kita selalu surplus, target penyerapan beras terus ditambah. Kita tinggal menunggu masa panen,” pungkasnya. (udi)