Desa Kedungwungu, Bersiap Buka Wisata Agro

31
Kades Kedungwungu, Sukarman. (foto/bb/tin)

Tegaldlimo (BisnisBanyuwangi.com) – MEMILIKI sentra pertanian buah naga, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, tak mau kalah berinovasi. Desa di ujung tenggara Banyuwangi ini mulai mengembangkan wisata agro buah naga. Tak hanya pertanian, sektor industri rumahan juga berkembang. Sehingga, menopang perekonomian warga.

Desa Kedungwungu merupakan satu dari tujuh desa peyangga kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Tak heran jika  kawasan ini berpotensi digarap sebagai kawasan wisata. Salah satunya kawasan wisata agro jeruk dan buah naga. Desa Kedungwungu merupakan desa induk. Terdiri dari tiga dusun, Dusun Sumberkepuh, Kaliwungu dan Gempol Dampit. Bidang pertanian menjadi potensi unggulan desa ini. Seperti jeruk dan buah naga.

Kelapa Desa Kedungwungu Sukarman mengatakan selain penerangan jalan, perbaikan jalan sawah dan jalan poros menjadi prioritas. “Jalan sawah ini penting untuk menopang produksi hasil tani,” ungkapnya kepada Bisnis Banyuwangi, belum lama ini.

Jalan sawah ini sepanjang 10 kilometer. Ditargetkan sudah dibenahi tahun 2018. Selain jalan sawah, ada 2 kilometer jalan desa yang belum dihotmix. “Harapan kami, kondisi jalan yang belum hotmix ini segera dibenahi,” ungkapnya. Menurutnya, tahun ini, pihak desa setempat berupaya melakukan pengerasan jalan.

Selain pembangunan fisik, program pemberdayaan usaha kecil digarap. Salah satunya melalui program bantuan modal kepada pelaku usaha kecil. Dikatakan Sukarman, program ini diupayakan sejak tahun 2014, terus berjalan sampai sekarang. Tiap tahun ada 34 pelaku usaha kecil diberikan bantuan modal. Mereka dari beragam usaha. Seperti usaha keripik dan usaha tahu tempe. Tiap pelaku usaha mendapat suntikan modal Rp 1 juta. “Harapan kami, ada peningkatan ekonomi bagi pelaku usaha kecil,” jelasnya.

Menjadi satu dari tujuh desa penyangga Alas Purwo membuat pihak desa setempat berupaya menggali potensi wisata. Wisata agro khususnya. Mengingat sejauh ini banyak wisatawan dari Bali menuju Alas Purwo. Sehingga banyak petani setempat menanam jeruk dan buah naga, bisa dikemas menjadi kawasan wisata agro. “Kami sudah berupaya melakukan pendekatan ke petani,” ucap Sukarman. Akses jalan yang masih rusak, menjadi kendala untuk wisata agro.

Selain wisata pertanian, di kawasan ini terdapat wisata religius Wali Hasan Basri. Tiap malam Jumat banyak peziarah dari luar kota datang ke makam ini. “Warga setempat juga datang ke makam ini sebelum ziarah ke makam Wali Lima atau makam Wali Songo,” ungkapnya.

Nama Kedungwungu diambil dari adanya kedung. Menurut Sukarman, di kawasan sungai Kedungwungu setempat dulunya banyak kedung yang dalam. Dari warna airnya yang terlihat ungu, sehingga dikenal deangan Desa Kedungwungu.  Kini, keberadaan sungai tersebut masih lestari. Untuk menjaga ekosistem sungai, dua tahun silam di kawasan sungai ini ditebar bibit ikan, bantuan Dinas Perikanan. Kini sungai ini menjadi tempat favorit para pemancing. (tin)

Berkembang Usaha Menjahit

JASA jahit menjahit banyak berkembang di Desa Kedungwungu. Salah satunya, ditekuni Kumaidi. Pria ini menekuni dunia jahit sejak tahun 1984. Tahun 1990 berkembang menjadi LKP. Di bawah LKP “Happy” ini, pria yang pernah menyabet Juara I Karya Tulis “Membuat Kebaya Nasional Modifikasi Batik Gajah Oling”, sejauh ini sudah mencetak ribuan tenaga terampil di bidang jahit menjahit. “Tiap tahun kami menggelar pelatihan gratis,” ungkap pria yang karib disapa Komet ini.

Peserta pelatihan gratis tak hanya dari desa setempat, tapi dari seluruh kawasan Banyuwangi. Tak hanya remaja, kaum ibu rumah tangga banyak mengikuti kursus. Bahkan kata Komet beberapa peserta kursus anak-anak dengan keterbatasan. Diantaranya anak-anak tuna wicara.  “Harapan kami, bisa mencetak tenaga kerja yang bisa menciptakan lapangan kerja,” tambah Guru Tata Busana SMKN Darul Ulum Muncar ini. Usai mengikuti pelatihan, sebagian di rekrut di usahanya. Tapi, banyak juga yang membuka usaha sendiri. Tak sedikit pula yang sukses bekerja di Bali. Tahun 2013 pihaknya mendapat bantuan mesin jahit dari Desperindag Banyuwangi. Komet berharap, aksi nyata memberantas pengangguran ini benar-benar mendapat perhatian pemerintah setempat. (tin)