Sate Bekicot, Sehari Terjual 700 Tusuk

54
Sate jamur yang membuat kangen konsumen. (foto/bb/net)

Tegaldlimo (BisnisBanyuwangi.com) – SATE bekicot, sajian sederhana ini cukup disukai. Rasanya gurih manis, serta khasiatnya untuk kesehatan, membuat sate bekicot selalu diburu pelanggan. Usaha sate bekicot ditekuni Siti Umaroh sejak 8 tahun silam.

Usaha sate bekicot ini kata wanita yang akrab di Sapa Umi ini berawal dari banyaknya pasokan bekicot di rumahnya, di kawasan Tegaldlimo. “Dulu suami bekerja mencari bekicot untuk dijual ke pengepul. Anakan bekicot yang tak laku saya coba olah menjadi sate,” ungkapnya kepada Bisnis Banyuwangi, belum lama ini.

Di awal usaha, Umi hanya menitipkan sate buatannya ke warung terdekat dalam jumlah sedikit. Karena rasa sate buatannya yang enak, selalu membuat kangen pelanggan. Kini pasar sate bekiot buatannya kian meluas. Ibu dua anak ini menitipkan sate buatannya ke warung dan kantin-kantin sekolah di kawasan Tegaldlimo.

Kini, per hari Umi mengolah 30 kilogram bekicot. Untuk bekicot sudah ada orang yang rutin memasok. Dari tangan pemasok, Umi membeli seharga Rp 3.000 per kilogram. Setelah dia olah dari 30 kilogram bekicot menjadi 700 tusuk. Saat ini Umi mengaku tak pernah kesulitan mendapat pasokan bahan baku. Namun, jika musim kemarau panjang,  dirinya sempat kesulitan mendapat bahan baku. “Jika begitu terpaksa saya libur,” ungkapnya. Dia bersyukur tahun ini tak pernah sampai libur.

Proses pembuatan sate bekicot cukup lama. Setelah direbus, di tumis baru kemudian di tusuk. Proses pengerjaan masih dibantu sang suami. Setelah itu, di guyur dengan bumbu cabai saus kacang. Harga per tusuk sangat murah, hanya Rp 500.

Dalam sehari wanita yang juga menjadi guru ngaji ini bisa menjual 700 tusduk sampai 1.000 tusuk. Dari usaha ini dia mengaku bisa mendapat untung bersih Rp 100.000 per hari. (tin)