Sengker Kuwung Belambangan (SKB), Gelar Pelatihan Menyusun Kamus Bahasa Using

Ketua SKB bersama perwakilan kampus di Banyuwangi. (foto/bb/wid)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – KIPRAH paguyuban Sengker Kuwung Belambangan (SKB) melestarikan Bahasa Using makin moncer. Terbaru, SKB menggelar pelatihan menyusun kamus Bahasa Using di aula Untag 1945 Banyuwangi, pekan lalu. Kegiatan diikuti 100 peserta dari berbagai elemen masyarakat. Mulai mahasiswa, dosen, penulis, komunitas dan guru. Pelatihan bekerjasama dengan Untag Banyuwangi, menghadirkan Kepala Bidang Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa, Badan Bahasa Kemendikbud, Ganjar Harimansyah.

Menurut Ketua SKB, Antariksawan Jusuf, pelatihan penyusunan kamus Using merupakan salah satu agenda SKB tahun ini. Biasanya, dalam lima tahun terakhir ini, di awal tahun, SKB menggelar pelatihan menulis secara umum. Kuartal pertama selalu digelar lomba menulis cerita pendek berbahasa Using. “Keprihatinan SKB untuk mengadakan pelatihan penyusunan kamus ini karena selama ini kamus Using-Indonesia yang diterbitkan tahun 2002 tidak pernah mengalami revisi atau perbaikan dan penambahan lema (kata). Diharapkan pelatihan dasar ini dapat menggerakkan peserta  ikut memperbaiki dan menambah lema yang ada,” kata  Antariksawan Yusuf kepada Bisnis Banyuwangi.

Selama pelatihan dibagikan kamus Using-Indonesia hasil cetak ulang oleh anggota DPD, Emilia Contessa, ahli waris penyusun kamus Hassan Ali (alm). Selain peserta, kamus Using diberikan kepada perpustakaan Untag 1945 Banyuwangi dan Universitas PGRI Banyuwangi (Uniba).

Dijelaskan, SKB merupakan paguyuban nirlaba yang sudah menggelar sejumlah pelatihan, lomba menulis cerpen, lomba mengeja Bahasa Using, menerbitkan beberapa buku berbahasa Using serta kuartet. Salah satu novel yang diterbitkan, “Agul-Agul Belambangan” karangan Moh. Syaiful, menyabet hadiah Rancage 2017.

Kegiatan pelatihan menyusun kamus Using, kata Antariksawan, merupakan bagian dari pelestarian bahasa Using. Sehingga SKB  telah berupaya membuat dan merangkul generasi muda membuat karya berbahasa Using. Mulai dari cerpen, puisi, novel dan jurnal.

“Jadi cara kami melestarikan bahasa daerah Using, sejauh ini sudah ada 18 buku yang berbahasa Using. Ditulis oleh penulis asli warga Banyuwangi,” jelasnya.  Pihaknya juga sering membuat pelatihan untuk memperkuat kesusastraan Bahasa Using. Beberapa karyanya juga dilombakan dan bekerjasama agar karya berbahasa Using dimuat melalui media massa.

“Ada novel, cerpen dalam berbahasa daerah Using. Jadi ini adalah usaha kami melestarikan bahasa Using. Termasuk pelatihan menyusun kamus untuk mengembangkan kamus bahasa Using yang sebelumnya sudah ada, disusun oleh Hasan Ali (alm), tahun 2002,” jelasnya.

Kepala Bidang Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa, Badan Bahasa Kemendikbud, Ganjar Harimansyah menjelaskan ada belasan bahasa daerah yang sudah punah. Pihaknya

sudah memetakan sebanyak  652 bahasa daerah di Indonesia. Dari jumlah ini, sebanyak 71 bahasa dalam kondisi aman, rawan dan punah. Data diambil dari 2.452 daerah di Indonesia, terakhir Oktober 2017. “ Yang punah sudah 13 bahasa daerah, seperti Papua dan Maluku,” jelasnya.

Terkait Bahasa Using, kata dia, meski masuk kategori bahasa, hasil penelitian dialektologi, hanya 30 persen berbeda dengan bahasa Jawa.  “Tetapi harus ada perlawanan politik yang bisa mendudukkan bahasa Using sebagai bahasa,” jelasnya. Salah satu caranya,

menciptakan kamus besar bahasa Using, mengalahkan kamus bahasa Jawa. Saat ini kamus Using-Indonesia yang disusun Hasan Ali (alm), memuat kurang lebih 24.000 kata. Untuk memperkaya, perlu  15.000 kata lagi. Tetapi ini harus dikerjakan kembulan, tidak bisa SKB sendiri. Harus bancakan banyak institusi. Untuk urusan penambahan ini, Using harus berorientasi digital, jangan hanya kamus tulis. Bahkan bila mungkin disusun kamus Using-Using. Lalu, lanjut Ganjar,  dicari bahasa yang standar. Harus ditentukan, apakah Using perlu tingkatan seperti bahasa Jawa. Tak kalah penting, kata dia, dukungan Pemda. “Perlu juga kongres Bahasa Using,” pungkasnya. (wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here