Sumiyati, Manfaatkan Kertas Bekas

Sumiyati menunjukkan kerajinan berbahan koran bekas. (foto/bb/wid)

Kalipuro (BisnisBanyuwangi.com) – KREATIF membawa berkah. Itu yang dirasakan Sumiyati, pengrajin yang menyulap kertas bekas menjadi barang-barang berharga. Di tangan wanita yang tinggal di Jalan Yos Sudarso, Lingkungan Sukowidi, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro ini, kertas koran bekas dibuat beragam kerajinan. Tak hanya pasar lokal, buah karyanya banyak dikirim ke pasar luar negeri.

Tangannya terlihat cekatan. Matanya yang berbinar fokus pada sebuah kerajinan yang digenggamnya. Pagi itu, Sumiyati sedang mengecat koran sebagai bahan beragam kerajinan. Berawal dari keprihatinannya dengan sampah, wanita ini berkarir. Ia mengaku sering sedih jika melihat sampah berserakan. Padahal masih bisa diolah menjadi benda bermanfaat.

Keinginan mengolah koran bekas menjadi kerajinan muncul 5 tahun lalu. Kala itu, dia melihat lembaran koran bertebaran di halaman masjid, bekas digunakan beribadah Idul Fitri. Dipungutinya, lalu mulailah dirangkai. “ Awalnya menjadi miniatur sebuah gapura candi,” kenang Sumiyati saat berbincang dengan Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Hasil pertama cukup memuaskan. Dia pun terus berkreasi. Kini, beragam benda bermanfaat dibuatnya dari bahan Koran. Mulai kotak tisu, replika hewan, perahu, keranjang gelas air mineral, hingga tas dan pajangan wayang. Selain terpajang di ruang tamu, Sumiyati  kerap menerima pesanan anek bentuk kerajinan.

Ruang keluarga yang tidak seberapa luas dan pekarangan sempit samping rumah menjadi istana berkreasi. Menggulung koran, memipihkannya, mengaturnya dalam posisi tepat, mengelem hingga mengecat menjadi aktivitas sehari-hari.

Sumiyati sampai paham lem dan cat mana yang cocok untuk bagian-bagian tertentu. Bahkan kapan harus menggunakan vernis. Tak heran, dia terus belajar. Dari tanpa pengalaman sampai mampu membuat puluhan produk setiap minggu.

Selama ini, Sumiyati termotivasi menjalankan usaha ini karena dorongan sosial, peduli terhadap lingkungan hidup.  “Yang selalu saya tanamkan dalam diri  dan orang-orang yang datang kesini adalah sampah jika tidak kita kelola dengan benar, maka akan menimbulkan masalah serius. Namun jika sampah tersebut kita kelola dengan baik, akan menjadi berkah, bahkan menjadi rupiah,” pesannya.

Sebulan, Sumiyati mampu menghasilkan kerajinan di atas 50 item. Dia juga selalu terbuka pada orang lain yang ingin belajar. Sumiyati mengatakan bisnis kerajinan tangan dari bahan koran bekas sangat menjanjikan. Jika ada peminat baru, kata dia, bisa menjadi kawan pengolah koran bekas atau rekan kerja sama.

“Sejak dulu kalau lihat barang bekas itu otak saya langsung berpikir, ini bisa dijadikan apa ya biar bisa bermanfaat. Saya juga pernah produksi bando dari kain bekas,” kata Sumiyati. Bahkan, awalnya dia tidak langsung berpikir untuk dijual. Lalu tahun kedua produk kerajinannya laku satu demi satu. Di tahun 2015, penjualannya semakin keras, baik dari pembeli yang datang ke rumahnya atau pesanan khusus. Kini, usahanya beromzet jutaan rupiah.

Harga produknya beragam. Mulai gantungan kunci seharga Rp 5.000 sampai miniatur perahu dan kereta kuda seharga Rp 300.000. Tidak hanya kertas dan lem, produk tas dengan beban berat, Sumiyati juga menggunakan benang jahit, agar semakin kuat. Ditambah lagi, meski berbahan kertas, produk yang dihasilkan tidak mudah rusak saat kehujanan. Asalkan tidak direndam air.

Keuntungan lain bisnis ini, menurut Sumiyati, mudahnya bahan baku. Pihaknya bekerja sama dengan kantor-kantor untuk menerima koran bekas secara gratis. Namun bidang kerajinan masih dianggap rumit, hingga banyak orang tidak tertarik menggarapnya.

Padahal, bagi Sumiyati yang telah mempekerjakan 2 orang tetangga, pengerjaan kerajinan tangan sangat sederhana. Karyawan menggulung dan memipihkan Koran. Dirinya tinggal membentuk dan mewarnai sebagai proses akhir.

Mengatur gulungan koran yang telah dipipihkan juga bisa dipelajari. Misalnya berlatih membuat bentuk dasar, seperti bujur sangkar, bundar, elips atau bentuk-bentuk yang disesuaikan dengan produk kerajinan. “Saya ingin tetangga-tetangga juga bisa punya usaha kerajinan. Tapi sepertinya minat melakukan usaha ini masih kecil,” ungkapnya.

Padahal dengan usaha kerajinan, termasuk jasa dekorasi ruang pameran yang digelutinya, Sumiyati mampu membantu suami. Termasuk, biaya sekolah  2 anaknya hingga lulus SMA. Didik Edi Prayitno sang suami, bekerja sebagai guru di SMP swasta.

Menurutnya, jika semakin banyak pengrajin daur ulang koran bekas, akan semakin sedikit jumlah sampah yang dibuang. “Keberuntungan bisnis akan mengikuti kita jika diniatkan untuk kepentingan peduli pada lingkungan,” pungkasnya. (wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here