Komunitas “Koral” Gendoh, Pusatnya Relawan Donor Darah

13
Personel Komunitas Koral yang suka rela mendonorkan darah. (foto/bb/wid)

Sempu (BisnisBanyuwangi.com) – KOMUNITAS yang satu ini terbilang beda. Bukan soal nama, namun kegiatannya yang mulai. Adalah Komunitas Remaja Antar Lingkungan (Koral) di Desa Gendoh, Kecamatan Sempu. Jauh dari pusat kota, komunitas ini memiliki kegiatan langka, layak ditiru. Yakni, menumbuhkan semangat donor  darah. Bisa dibilang, komunitas ini menjadi pusatnya relawan pendonor darah.

Komunitas Koral sudah berusia 30 tahun. Sejak berdiri, jika ditotal, masyakat Gendoh yang tergabung dalam komunitas ini sudah menyumbangkan darah  untuk kemanusiaan sebanyak 9.126 kantong, dari 111 kali kegiatan donor darah. Awalnya, Komintas Koral hanya ruang silaturahmi warga Gendoh. Semacam radio komunitas. Semangat mendonorkan darahnya, berawal dari satu peristiwa yang tidak ingin terulang kembali.

Sumarno adalah generasi pertama Koral dari enam temannya masih tersisa. Kala itu, Desember tahun 1986, warga Gendoh dibuat bingung ketika ada anggota keluarga yang membutuhkan darah. Namun stok darah di Unit Transfusi Darah (UTD-PMI) Banyuwangi habis.  Ia mengisahkan, dengan peristiwa tersebut, Sumarno dan teman-temannya membuat suatu kelompok relawan donor darah. Anggota awalnya berjumlah 44 orang.

“Dengan peristiwa itu, beliu-beliau ini ingin membuat suatu kelompok. Mengajak teman-teman agar berdonor darah. Tujuannya, apabila ada keluarga yang membutuhkan darah bisa mudah dengan adanya kelompok,” ujar Prastono, Sekretaris Koral kepada Bisnis Banyuwangi,pekan lalu.

Sejak saat itu, jelasnya, warga Gendoh mulai bergandengan tangan. Membuat acara sederhana di desanya, bekerjasama dengan UTD-PMI Banyuwangi mendonorkan darahnya. Semua dilakukan dengan sukarela, tanpa dibayar atau meminta imbalan uang. Hingga saat ini, tujuannya murni membantu donor darah bagi siapapun yang membutuhkan pertolongan.

“Mulai tahun 1986 sampai kegiatan donor terakhir 17 Juli 2016, kami non profit. Tidak mengambil keuntungan. Sampai sekarang pun, sebagai organisasi atau kelompok, kami nol rupiah dana yang kami punyai. Murni swadaya,” jelasnya.

Kegiatan donor darah rutin dilaksanakan dengan swadaya tiap tiga bulan sekali. Kegiatan  ini juga mengajak generasi muda. Siapun yang datang, ke acara donor pasti akan diberi konsumsi. Meskipun tidak mendonorkan darahnya. Tujuannya, bentuk pendekatan, pengenalan agar mau ikut  donor darah. Dan, mempererat persaudaraan lewat donor darah yang sudah berlangsung selama 30 tahun.

“Konsumsi itu untuk mengembalikan energi dan rasa persaudaraan tadi.  Karena susah, 30 tahun mempertahankan persaudaraan, untuk teman-teman anggota yang tadinya sudah 300. Karena sudah uzur, yang tua-tua sudah banyak meninggal. Sehingga anggotanya sekarang tinggal 150.  Ini mulai regenerasi muda lagi,” jelasnya.

Sebagai bentuk regenerasi, kelompok Koral mulai mengenalkan proses donor darah kepada generasi muda. Anak-anak di bawah umur juga diajak dalam kegiatan donor, agar bisa mengenal sejak dini proses donor darah.

“Kami punya data golongan darah anggota Koral dan kapan terakhir mereka donor. Jadi jika ada yang membutuhkan kita langsung hubungi pendonor yang bisa.Kita ikhlas mendonorkan darah tanpa imbalan apapun,” jelasnya. Biasanya disediakan kendaraan untuk diantar ke PMI. Namun, jika pihak yang butuh donor tidak mampu, pihaknya berinisiatif  berangkat sendiri. Hingga saat ini ada tiga anggota Koral yang sudah mendapat penghargaan Satya Lencana Donor Darah dari Presiden. Salah satunya, Sumarno yang sudah mendonorkan darah sebanyak 110 kali. “Terakhir saya donor darah akhir tahun 2016 dan berhenti karena alasan medis. Saya sakit pembengkakan jantung jadi konsumsi obat-obatan dan enggak boleh donor darah dengan dokter. Mungkin saya yang paling tua di komunitas ini,” pungkasnya. (wid)