Desa Kedungasri, Menuju Desa Ekonomi

50
Wisata Bedul di Desa Kedungasri yang indah. (foto/bb/tin)

Tegaldlimo (BisnisBanyuwangi.com) – BERADA di ujung timur Kecamatan Tegaldlimo, Desa Kedungasri, memiliki potensi luar biasa. Baik pertanian maupun pariwisata. Di desa ini juga tumbuh aneka kerajinan kreatif. Potensi ini membuat desa di selatan Banyuwangi tersebut bertekad menuju desa ekonomi. Artinya, masyarakatnya bisa maju dalam bidang perekonomian.

Desa Kedungasri terbentuk secara definitif tahun 1970, merupakan desa pecahan. Nama Kedungasri diambil dari keberadaan kedung atau sumber di kawasan desa ini. Sehingga dikenal dengan Kedungasri. Asri, sebuah harapan terwujud desa yang asri.

Luas wilayah desa ini 1.300 hektar. Terbagi menjadi tiga dusun. Dusun Persen, Dambuntung dan Pondokasem. Sejak dulu, Desa Kedungasri dikenal dengan kesuburan tanah dan keramahan warganya. Berbagai sektor ekonomi dikembangkan. Seperti sektor pertanian, peternakan, perkebunan, dan kelautan.

Kepala Desa Kedungasri Sunaryo mengatakan mayoritas warganya bekerja sebagai petani. Luas lahan persawahan mencapai 800 hektar. Berbagai jenis tanaman pangan dan buah dikembangkan. Seperti padi, jagung, jeruk, melon, semangka dan buah naga.

Desa yang memiliki batas wilayah selat Bali di bagian timur ini juga memiliki produk unggulan hasil laut. Yakni rajungan. Mutu rajungan dari Teluk Pampang, dikenal super.

Berbagai potensi ekonomi juga digarap. Salah satunya melalui BUMDes Sidomulyo, dibentuk tahun 2016. Pemerintah desa setempat serius ingin mengangkat potensi ekonomi warga lewat BUMDes. “Tahun 2017, BUMDes dari dana desa kami anggarkan Rp 100 juta, dan tahun in Rp 150 juta,” ucap Sunaryo kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Dikatakan Sunaryo berdirinya BUMDes ini berawal dari keinginan pemerintahan desa untuk mensejahterakan kaum manula dan yatim piatu. Sekaligus, membangun perekonomian masyarakat desa. “Hasil dari SHU ini kami gunakan untuk mensejahterakan warga,”ungkapnya.

Pemerintah desa juga merangsang masyarakat produktif untuk membentuk kelompok usaha. Saat ini mencapai 17 kelompok usaha, berkembang di naungan BUMDes. Seperti Kelompok Al-Amin, kelompok Jamaah Yasin yang memiliki tiga aset, lumbung padi, minimarket dan usaha sound system.

Ada juga Kelompok Ternak Wonoasri. Yakni, kelompok masyarakat sekitar Taman Nasional Alas Purwo dalam bidang peternakan. Dulu, masyarakat perambah hutan, kini mengelola usaha peternakan.

Selain itu, muncul Kelompok Ternak Rukun Warga, Karang Taruna Dayang Purwo, Usaha Simpan Pinjam Gema Sejahtera, Kelompok Jimpitan Lestari, Kelompok Sido Rukun, Kelompok Barokah, Kelompok Mina Lestari, Kelompok Hasta, Kelompok Resemi, Kelompok Adem Ayem, Kelompok Lumbung Sido Dadi, Kelompok Jimpitan Dewi Sri, KUB Pemuda Pemdas dan Kelompok Nelayan Sari Laut. “Tiap kelompok kami berikan penyertaan modal, senilai Rp 5 juta,” ungkapnya.

Sunaryo berharap, kelompok-kelompok usaha ini bisa menanamkan rasa kebersamaan, rasa saling memiliki, rasa gotong royong, dan membantu satu sama lain, di samping memudahkan pendampingan dan pembinaan. Menurut pria kelahiran Banyuwangi 27 Maret 1973 ini, untuk menuju desa ekonomi ini  harus diawali dengan kerukunan dalam masyarakat. Bukan sebatas mencari keuntungan. (tin)

Kembangkan Potensi Anak dan Wisata

SELAIN menggali potensi ekonomi,  pihak Desa Kedungasri juga tanggap menggali potensi anak usia dini. Yakni, melalui program Merdesa. Program ini mengasah bakat dan potensi anak-anak sejak dini. Berbagai kegiatan mengasah bakat anak dihelat dikantor desa. Seperti pelatihan melukis, penguasaan bahasa asing dan pelatihan bidang IT. “Ini juga sebagai salah satu upaya mencetak generasi emas,” ungkap Sunaryo.

Menggali potensi wisata pun terus diupayakan. Apalagi Desa Kedungasri kaya akan potensi wisata. Seperti Teluk Pampang, potensi wisata hutan mangrove, Reco gatel, Teluk Kentol, Gumuk Mulek, Batu Lepek, Candi Gumuk dan Batu Papak.

Selain wisata alam, pihak desa setempat pun menggelar festival tahunan. Seperti Festival Bapang Hias, dan Sembur Dawet Sewu yang dihelat warga tiap tahun, tepatnya 10 Oktober. Akses jalan menjadi hal utama. Saat ini fasilitas jalan desa ini cukup memadai.  “Beberapa hanya perlu diservis ulang,” kata Sunaryo.

Tahun 2018, kata Sunaryo penerangan lampu jalan menjadi prioritas. Hal ini untuk menuju program Bupati, Banyuwangi terang benderang. Di samping itu, tahun ini pihaknya mengupayakan pemasangan akses internet di beberapa titik demi terwujud menjadi desa internet. Untuk membangun desa, menurutnya perlu kerja keras dan kerja cerdas. (tin)