Pengrajin Kulit Kesulitan Tenaga Kerja

69
Produk kerajinan kulit yang tetap disukai. (foto/bb/ida)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – PERMINTAAN kerajinan kulit di Banyuwangi cukup menggiurkan. Sayangnya, peminat kerajinan ini masih minim. Para pengrajin mengeluhkan minimnya tenaga kerja. Hal ini diakui Lukman Harun, pemilik kerajinan “Elifa Handmade” di Jalan Raya Tegalsari.

Lukman bertahan dengan usaha ini lantaran permintaan produk kulit tetap mengalir. Salah satu alasannya, lebih awet. Lukman merupakan pengrajin kulit asli kelahiran Banyuwangi. Ketrampilan membuat kerajinan kulit diperoleh saat bekerja di perusahaan kulit di Bali. Enam tahun di Bali, Lukman memilih pulang kampung. Membuka usaha kulit sendiri. “ Usaha ini sudah berjalan empat tahun,” ujarnya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Bahan kulit menggunakan jenis kulit sapi dan domba. Didatangkan dari Sidoarjo yang terkenal dengan industri kulit. Di tokonya, Lukman  mengerjakan berbagai barang dari bahan kulit. Seperti sepatu, sandal, tas dan ikat pinggang. Selain melayani pesanan, pihaknya menyediakan banyak stok produk. Dipajang di toko. Sehingga, memudahkan orang yang datang untuk memilih model.

Harga sandal dibandrol mulai Rp 120.000 hingga Rp 150.000. Sepatu cewek Rp 175.000 ribu hingga Rp 200.000, sedangkan  sepatu cowok Rp 200.000 hingga Rp 250.000. Ikat pinggang mulai Rp 125.000 hingga Rp 170.000. Sedangkan tas tergantung tingkat kerumitan.

Pihaknya juga melayani servis, tarifnya Rp 10.000 hingga Rp 15.000. Proses pemesanan kata dia membutuhkan waktu 3 hari hingga 2 minggu, tergantung kerumitan pembuatan. Saat ini Lukman dibantu 2 karyawan. Selain di toko, Lukman juga menjual oneline. Pesanan terbanyak, kata dia, dari Bali dan Lampung.

Omzet usaha ini Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per bulan. Omzet bisa bisa tembus Rp 2 juta per hari jika musim Lebaran. Pelanggan banyak dari kalangan perkantoran. “ Kami bekerjasama dengan kantor-kantor. Jadi, pesanan terus mengalir,” jelasnya.

Lukman memberikan tips menjaga barang berbahan kulit. Yakni, jika terkena air jangan langsung dijemur. Lalu, tidak menggunakan bahan kimia cair untuk membersihkan. Dia menyarankan pembersih berbentuk pasta agar warna tidak pudar. Kendala usaha ini, sulitnya tenaga kerja. Sebab, masih minim peminat kerajinan kulit. (ida)