Bertanam Jeruk Nipis, Untungnya Lebih Manis

Bertanam jeruk nipis hasilnya menjanjikan. (foto/bb/tin)

Purwoharjo (BisnisBanyuwangi.com) – JERUK nipis, jenis tanaman yang banyak dibudidayakan warga Dusun Bulusari, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo. Tak hanya cocok dikembangkan di areal persawahan, jeruk nipis juga banyak di tanam warga di pekarangan rumah.

Menurut Karmini, salah satu petani jeruk nipis di wilayah ini, jeruk nipis mulai banyak dikembangkan warga setempat sejak delapan tahun silam. “Saya sejak awal juga menanam jeruk nipis,” ucapnya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Karmini menanam jeruk nipis di areal ¾ hektar, dengan jumlah 420 pohon. Sebagian usia pohon sudah delapan tahun, tapi masih produktif.

Menanam jeruk nipis, kata Karmini memiliki banyak keuntungan. Di samping biaya perawatan lebih murah, tanaman lebih cepat panen. Masa produktif pohon  lebih lama, di atas 7 tahun. Tanaman lebih cepat buah. Usia 2 tahun pohon sudah bisa buah. Masa buahnya tak mengenal musim.

Petani bisa melakukan panen setiap 15 hari sekali. Sekali panen, per seperempat lahan, Karmini mendapat hasil panen 2 kuintal. Mengigat sebagian tanaman miliknya belum produktif alias baru tanam.

Harga jeruk nipis di pasaran cenderung stabil. “Jika ada penurunan harga, biasanya tak lama, hanya 2 – 3 bulan, selanjutnya harga naik kembali,” tuturnya. Kini, selain, menanam, Karmini merambah sebagai pengepul jeruk nipis. Tiap hari dia mendapat pasokan jeruk nipis dari petani setempat. Selanjutnya diambil para distributor untuk dikirim ke berbagai kota.

Saat ini harga jeruk nipis dari petani Rp 2.000 per kilogram. Harga ini diprediksi akan naik dalam waktu dekat. Seperti dikatakan Karmini, November tahun lalu harga jeruk nipis sempat melambung, Rp 22.000 per kilogram. Lalu, turun pada Desember, menjadi Rp 4.000 per kilogram. Menjelang puasa dan Lebaran biasanya harga akan terus naik.

Permintaan jeruk nipis ini kata Karmini tak pernah sepi. Dalam sehari, dirinya bisa melayani permintaan dari para distributor sebanyak 3 ton. Dari usaha pengepulan ini dirinya mendapat untung bersih Rp 300.000 – Rp 500.000 per hari.

Pengiriman jeruk nipis ke berbagai kota juga tak pernah sepi. Hal ini dikatakan Iskak. Di rumahnya di kawasan Desa Purwoagung, Kecamatan Purwoharjo, menjadi pusat usaha. Iskak mendapat pasokan jeruk nipis dari pengepul dan pedagang. “Dari pedagang saya beli Rp 2.300 per kilogram,” ucapnya. Sebelum ke jeruk nipis, Iskak sempat menekuni usaha pengiriman jeruk manis. Namun, lantaran untungnya lebih lumayan, dia beralih ke jeruk nipis.

Tiap hari Iskak melakukan pengiriman jeruk nipis ke berbagai kota. Seperti Jakarta, Malang, Surabaya dan Bali.  “Untuk Surabaya dan Jakarta sekali kirim bisa 3 -10 ton, tergantung permintaan,” ucap pria yang dibantu 4 karyawan ini. Harga jual jeruk nipis tergantung lokasi pengiriman. Kawasan Jakarta, harga jual bisa tembus Rp 3.700 per kilogram. Iskak mengaku memilih bertahan di usaha ini sejak15 tahun. Kini tetap optimis prospek usaha ini tetap bagus ke depan. Mengingat jeruk nipis banyak manfaat. Selain untuk masakan, juga bahan kosmetik dan sabun cuci. Dari usaha yang dirintis dari modal Rp 5 juta ini, dia meraih penghasilan bersih Rp 150.000 per hari, bahkan lebih. (tin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here