Kelola PKL, DPRD Sidoarjo Lirik Banyuwangi

15
Kawasan PKL yang tertata rapi di utara kantor DPRD Banyuwangi. (foto/bb/udi)

Sidoarjo (BisnisBanyuwangi.com) – KESUKSESAN Banyuwangi menata pedagang kali lima (PKL) menarik perhatian daerah lain. Salah satunya, Kabupaten Sidoarjo. Daerah penyangga Kota Surabaya ini kepincut belajar pengelolaan PKL di kota Gandrung. Salah satu alasannya, PKL Banyuwangi bisa dilokalisir, lalu ikut menjadi ikon pariwisata. Berbeda dengan kota Sidoarjo yang masih belum maksimal bisa menata PKL.

“ Sejatinya, kami sudah memiliki Perda penataan PKL. Tapi, belum mampu mengelola PKL seperti di Banyuwangi. Ini yang kami pelajari ketika berkunjung ke Banyuwangi,” kata Ketua Komisi II DPRD Sidoarjo, Bambang Pujiarto ketika studi banding ke DPRD Banyuwangi, pekan lalu.

Politisi Gerindra ini menjelaskan PKL memiliki peluang bagus bagi pengembangan daerah. Termasuk peningkatan PAD. Apalagi, jika dikaitkan dengan strategis pengembangan pariwisata. “ Kami melihat Banyuwangi sukses mengembangkan ini. Tak ada gejolak soal penataan PKL,” pujinya. Pihaknya akan memberikan rekomendasi dan masukan ke Pemkab Sidoarjo terkait program penataan PKL di Banyuwangi. Menurut Bambang, pihaknya sudah turun langsung ke lapangan melihat penataan PKL di Banyuwangi. Mereka kata dia bisa berjualan secara tertib. Bahkan, ada zonasi khusus. Termasuk, adanya paguyuban yang menaungi para PKL.

Ketua Komisi II DPRD Banyuwangi, Handoko menjelaskan Banyuwangi belum memiliki Perda terkait PKL. Namun, ada Perbup yang mengaturnya. “ Yang menjadi kesuksesan penataan PKL di Banyuwangi adalah melalui paguyuban. Jadi, ada proses dialog bersama paguyuban,” kata politisi Demokrat tersebut.

Ditambahkan, penataan PKL harus dimulai dengan dialog melalui paguyuban. Sehingga, para PKL merasa diajak bicara dalam proses penataan. “ Bukan ditata, baru diajak dialog. Tapi, diajak dialog dulu, baru ditata. Ini yang kita tawarkan,” tegasnya.

Zonasi penataan PKL ini, kata Handoko, juga membuat Banyuwangi bisa rapi, tertib. Penataan ini bisa menjadi contoh dan diterapkan di kota lain. Salah satunya Sidoarjo yang banyak memiliki PKL. Melalui paguyuban, imbuh Handoko, kehadiran PKL luar daerah bisa diantisipasi. Sehingga, tidak tumbuh secara liar. (udi)