Es Cendol Selasih, Hujan tetap Laris

64
Es cendol biji selasih tetap laris meski musim hujan. (foto/bb/ida)

Gambiran (BisnisBanyuwangi.com) – MUSIM hujan biasanya menjadi momok bagi para pedagang es. Namun, hal ini tak berlaku bagi penjual es cendol biji selasih. Seperti diakui Jimmy, pedagang es cendol biji selasih di Jalan Raya Tegalsari, Kecamatan Gambiran. Pria ini mengaku, meski hujan terus mengguyur, es cendol biji selasih tetap laris. Kok bisa ? Menurutnya, biji selasih sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Alasan ini yang membuat konsumen tetap berburu es cendol selasih, meski musim hujan.

“ Konsumen melihat manfaat biji selasih ini. Jadi, meski hujan tetap berburu es cendol,” kata pria 39 tahun ini kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Membuka usaha es cendol, Tommy merogoh modal Rp 5 juta. Ditekuni sejak dua bulan lalu. Meski terbilang baru, dia mengaku sudah banyak memiliki pelanggan. Lokasi berjualan yang strategis, di pinggir jalan raya, membuat konsumen mudah menemukannya.

Tommy mengaku sengaja menggunakan nama es cendol biji selasih. Alasannya, agar beda. Lalu, mencoba varian baru es cendol. Selain gurih, biji selasih cocok untuk kesehatan. “ Bisa menghilangkan panas dalam,” ujarnya. Selain biji selasih, es cendol buatannya dicampur cincau, nangka serta menggunakan santan dan gula merah. Rasanya bisa dibayangkan. Gurih bercampur manis alami.

Harga satu gelas es cendol cincau dibandrol Rp 5000. Pelanggan kata dia, dari beragam kalangan. Mulai pelajar hingga kalangan dewasa. “ Kalau dinikmati di lokasi, menggunakan gelas gerabah. Jadi, lebih nikmat, terasa tempo dulu,” jelasnya. Saking larisnya, sebelum sore, es cendol buatannya selalu ludes terjual.

Pasokan gula merah didatangkan dari luar kota. Rasanya lebih gurih, bebas pahit. “ Gula aren saya datangkan dari Bali. Aslinya buatan Cilacap,” tuturnya. Menurutnya, di Banyuwangi belum ditemukan pemasok gula aren dari Cilacap. Penjualan es cendol ini, imbuhnya, rata-rata bisa tembus 200 hingga 250 gelas sehari, meski ketika hujan.

Usaha ini ternyata terinspirasi dari dawet di Bandung. Seluruh perabot yang digunakan berbahan gerabah. Terlihat unik. Khusus omzet, Tommy mengaku bisa tembus Rp 300.000 per hari. Melihat animo masyarakat, dia ingin membuka cabang lagi di Banyuwangi. (ida)