Diusulkan Bonus Penarikan Pajak

13
Kusnan Abadi. (foto/bb/dok)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – PENDAPATAN asli daerah (PAD) dari sektor pajak terus mendapatkan perhatian DPRD Banyuwangi. Salah satunya, persoalan tagihan 10 persen dari pajak hotel dan restoran yang dibebankan ke pengunjung. Sayangnya, masih ditemukan ganjalan terkait pembayaran pajak titipan dari konsumen tersebut.

Mengantisipasi sulitnya penarikan, Komisi III DPRD Banyuwangi mengusulkan kebijakan pemberian bonus bagi hotel maupun restoran yang sukses menyerahkan titipan pajak 10 persen dari konsumen. “ Ini mungkin bisa menjadi solusi. Tapi harus dicarikan cantolan hukumnya dulu. Prinsipnya, kami sepakat dengan bonus untuk merangsang pajak 10 persen tersebut,” kata Ketua Komisi III DPRD Banyuwangi, Kusnan Abadi, pekan lalu.

Dijelaskan, tulisan 10 persen pajak bagi konsumen belum diberlakukan di setiap restoran maupu hotel di Banyuwangi. Karena itu, pihaknya mengimbau tulisan seruan tersebut bisa diberlakukan merata. “Kalau tidak sekarang, kapan lagi. Kita harus mulai,” jelas politisi PKB tersebut. Apalagi, tak semua pengelola hotel sepakat dengan pemasangan tax monitor. Karena itu, harus dicarikan solusi agar pajak 10 persen yang dibebankan ke pengunjung bisa tertarik maksimal.

Kusnan menambahkan jika ada insentif bagi pengelola hotel maupun restoran yang mampu menarik pajak 10 persen dengan maksimal, tentu bisa menjadi motivasi. “ Misalnya, jika bisa menyetorkan pajak 10 persen dengan maksimal,  ada bonus 1 persen. Tapi, harus tetap ada payung hukum, agar tak melanggar,” jelas politisi asal Genteng tersebut.

Pihaknya juga sepakat dengan usulan tanpa penggunaan tax monitor untuk menghitung pajak. Namun, menggunakan aplikasi elektronik. Selama ini, kata dia, kekhawatirannya, tax monitor berdampak pada alat yang dimiliki hotel. “ Kalau alat aplikasi ini tinggal klik. Jadi, bisa menghitung tingkat kunjungan,” ujarnya.

Pihaknya berharap, tingkat kunjungan wisatawan di Banyuwangi berbanding PAD yang realistis. Dia mencontohkan, kunjungan wisatawan ke Banyuwangi tembus hingga 4,5 juta di tahun 2017. Namun, PAD dari sektor hotel tak sampai tembus Rp 8 miliar. Jika dihitung, rata-rata per bulan hanya Rp 900 juta.

Padahal, jika dibagi dengan akupansi hotel berbintang dan hotel lain di Banyuwangi, idealnya bisa lebih. Jumlah total hotel di Banyuwangi mencapai 119 titik. “ Kita tidak menghitung tingkat kunjungan wisatawan dengan hunian. Tapi, jika kita ambil 25 persen dari kunjungan, sekitar 1 juta wisatawan yang menginap setahun. Jika rata-rata sewa kamar Rp 400.000, berarti kita seharusnya ada Rp 40 miliar,” jelas Kusnan. Kenyataannya, imbuh Kusnan, pajak hotel hanya sekitar Rp 6 miliar. Pihaknya berharap dengan aplikasi elektronik itu bisa mendeteksi jumlah hunian riil di setiap hotel. (udi)