Sambal Kemasan Wongsorejo Tembus Jakarta

108
Emi Wati menunjukkan produk sambal kemasan buatannya. (foto/bb/wid)

Wongsorejo (BisnisBanyuwangi.com) – MENJADI sentra cabai, membuat kreativitas Emi Wati, muncul. Wanita asal Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo ini sukses membuat kreasi sambal kemasan. Tak disangka, produknya laris di pasaran. Bahkan, menembus kota-kota besar. Seperti Jakarta dan Surabaya. Yang unik, sambal kemasan buatan Emi, bisa dinikmati oleh segala usia.

Usaha pembuatan sambal kemasan “ Ibu Emi” ini baru dilakoni empat tahun, dimulai tahun 2014. Bisnis sambal kemasan bermula saat melihat potensi bahan baku cabai yang melimpah di wilayahnya. “Usaha pertama mencari hiburan, terutama karena kalau hari Sabtu-Minggu diam di rumah. Lalu  mencoba beberapa kuliner yang berbahan ikan  di luar Banyuwangi. Jadilah produk ini, ada sambal dan oleh-oleh berbahan ikan,” katanya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Menurut Emi, makanan kemasan buatannya menggunakan bahan baku yang mudah didapat. Seperti, cabai, tomat, dicampur dengan ikan, cumi dan udang. Ke depan, dia merencanakan dicampur engan kerang, ikan tuna dan ikan pedhe.

Tidak bekerja sendiri, produk-produk  Emi juga memanfaatkan warga sekitar untuk mengembangkannya. Ada 35 produk. Hampir 90 persen berbahan ikan laut. Mulai ikan, udang, cumi, rajungan dan rumput laut. Begitu juga dengan  sambal dan terasi, serta petis yang lebih banyak menggunakan bahan dari laut.

Harga produk yang dikemas modern tersebut dibandrol mulai Rp 15.000 sampai Rp 25.000. Harga ini khusus grosir, tidak terima eceran. Pihaknya biasa menjual paket jika ada kegiatan lembaga. “Kalau harga paket juga bervariasi, mulai dari Rp 150.000 ke atas. Dan produknya lebih komplit,” ujarnya. Jurus itu bertujuan membantu produk lain melalui sistem paket. Sehingga, semua produk bisa dinikmati konsumen.

Dari usaha ini, Emi sempat masuk 15 besar dari 100 UMKM se-Indonesia. Lalu mendapat pembinaan, meski ia sudah melakukan sebelumnya. Hingga saat ini, produk-produknya masuk di beberapa supermarket dan rumah oleh-oleh khas Banyuwangi. Termasuk restoran dan hotel berbintang. Bahkan, ia juga mengirim produknya ke beberapa kota. Seperti Jakarta, Surabaya dan beberapa wilayah lain di luar Banyuwangi.

“Rencana ke depan semua produk akan memiliki barcode. Sekarang sudah ada di beberapa supermarket dan pusat oleholeh di Banyuwangi, termasuk di restoran dan hotel di Banyuwangi,”ungkapnya.

Sementara produk terbarunya, camilan kaki udang krispi. Mulai rasa original dengan bumbu daging panggang. Camilan ini, kata Emi  berkalsium tinggi dari tulang kaki udang. Harganya, Rp 20.000 kemasan 150 gram dan Rp  10.000 kemasan 75 gram. Seluruhnya harga grosir. Emi menjelaskan konsep kemasan itu  idenya sendiri. Tak heran, jika budget tertinggi pada kemasan.

Dari ketekunannya tersebut, akhir tahun 2017, Emi diundang ke Jakarta dalam rangka presentasi olahan turunan cabai dari Yayasan Kampoeng Pancasila. Yakni, bagaimana memberdayakan petani cabai. Ia mengatakan, semua olahan turunan cabai bisa dibuat pastel, manisan, pasta, abon cabai kering hingga selai cabai.  Dalam satu bulan,  Emi mampu meraup omzet Rp 300 juta. (wid)