Armanoe, Setia dengan Penyewaan Komik

50
Armanoe dengan ribuan koleksi komik. (foto/bb/wid)

Genteng (BisnisBanyuwangi.com) – ZAMAN boleh berubah. Namun, kesetiaan akan hobi dan jiwa sosial tak pernah tergoyahkan. Itulah semangat yang dipegang teguh sosok Armanoe, pria yang tetap setia mempertahankan jasa penyewaan komik dan buku bacaan. Di rumahnya, di Jalan Garuda No.22, Genteng, ribuan komik dan buku bacaan tersedia lengkap. Bisa dibilang, satu-satunya tempat penyewaan komik yang tetap bertahan di Banyuwangi.

Rumahnya sederhana, terlihat kuno. Begitu masuk, deretan buku tertata rapi di rak di ruangan depan. Beberapa terlihat buku yang sudah berumur. Di sinilah, Armanoe melewati hari-harinya, berkutat dengan koleksi komik dan buku.  Lulusan Akademi Seni Rupa Yogyakarta jurusan reklame ini dengan setia merawat buku-buku tersebut. Sekaligus mengelola “ Bina Baca Rental” ini.  “Saya mengelola persewaan komik ini sejak tahun 1999, melanjutkan peninggalan anak pertama saya yang meninggal. Namanya BB Rental. BB ini singkatan dari Bina Baca,” kata Armanoe saat berbincang dengan Bisnis Banyuwangi, pekan lalu. Kini, koleksi komik di penyewaan ini mencapai 11.000 lebih.

Pensiunan guru seni rupa ini menuturkan,  sejak dahulu ia dan keluarganya pecinta buku. Anak pertamanya, Galuh (alm), suka mengoleksi komik. Hingga suatu hari, Galuh merintis persewaan komik kecil-kecilan dan VCD film. Namun, setelah Galuh meninggal karena sakit, Armanoe berniat meneruskan cita-cita anak sulungnya tersebut.

Awalnya, dengan modal Rp 150.000 kala itu, Armanoe membeli 74 komik baru. Semakin lama koleksinya semakin banyak. Namun koleksi awal milik Galuh yang berjumlah puluhan tidak ia sewakan. Komik milik anaknya itu tersimpan rapi di bagian rak atas.

“Masalahnya bukan hanya tentang uang yang didapatkan dari menyewa buku, tapi bagaimana kita semua mudah mendapatkan bacaan. Dulu ramai sekali yang sewa, tapi lima tahun terakhir jumlahnya berkurang. Bahkan satu hari hanya satu orang yang datang untuk sewa,” ucapnya.

Pria  75 tahun itu bercerita, tahun 2009, per hari rata-rata orang yang datang menyewa sekitar 15 orang. Buku yang keluar saat itu hampir 80 per hari. “Saya selalu mencatat berapa buku yang keluar, berapa orang yang meminjam. Berapa rupiah yang dihasilkan dan berapa uang untuk belanja buku,” tuturnya sambil menunjukkan tulisan tangannya yang rapi.

Armanoe tidak sendiri, istrinya ikut membantu menyampuli buku dengan plastik agar tidak mudah kotor dan rusak. Satu buku ia sewakan antara Rp 500 hingga Rp 2.500, masa sewa seminggu. Saat masih jaya, sambung Armanoe, setiap bulan, toko buku dan penerbit ternama rutin datang ke rumahnya mengirimkan buku. Rata-rata tiap bulan dia membeli 75 sampai 80 buku baru untuk menambah koleksi.

“Selain di sini, ada juga yang cari di Jember dan Surabaya. Yang banyak peminatnya adalah komik Jepang dan Korea. Pernah saya beli komik Amerika dan komik Indonesia yang cetakan baru, seperti Si Buta dari Gua hantu, Pandji Tengkorak, tapi nggak ada yang mau baca,” ucapnya.

Armanoe mengaku bukan dilahirkan dari keluarga yang berkecukupan. Namun ayahnya yang berdagang kecil-kecilan srutin berlangganan buku untuk sembilan anaknya. Bahkan, saat menikah, ibu kandung Armanoe tidak bisa membaca. Ayahnya  yang mengajari ibunya membaca. “Ibu saya lebih kutu buku dibandingkan saya. Dulu kalau datang ke Banyuwangi, semua buku koleksi saya dibaca,” katanya mengenang almarhumah ibunya.

Setelah menyelesaikan sekolah di bangku SMA, dia kemudian melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Saat itu, kebiasaannya membaca sempat turun. Sebab, kesibukan barunya sebagai mahasiswa. Bahkan salah satu penyesalannya adalah tidak pernah menjadi anggota perpustakaan saat menjadi mahasiswa.

“Padahal di Yogyakarta banyak perpustakaan bagus dan koleksinya lengkap. Menyesalnya sekarang kenapa zaman itu kok ya nggak jadi anggota perpustakaan. Padahal buku bagus dan gratis juga,” ungkapnya. Setelah lulus kuliah, Armanoe yang lahir di Sidoarjo 24 Desember 1943, mengadu nasib ke Banyuwangi. Ia mendaftar menjadi guru SMA, lalu mengajar di SMAN 1 Genteng sejak 1967 hingga pensiun.

Ia menuturkan, saat  kawan satu angkatan kuliah banyak ke Jakarta, Armanoe justru memilih mengabdi di Banyuwangi. Mengajar menggambar. Setelah menikah, memutuskan menetap di Banyuwangi.

Usia senja, Armanoe tetap rutin membaca. Dia mengaku akan terus membuka rumahnya bagi penyewa komik dan buku. Jika ada yang datang membaca, dia sangat senang. Apalagi yang datang adalah anak-anak muda atau pelanggan lama.

Saat menunggu pelanggan, Armanoe bersama istri, Susilaningsih, dan cucunya banyak menghabiskan waktu beribadah dan membaca buku. “Saya tidak ingin lepas shalat wajib dan shalat sunnah. Sudah tua ingin banyak beribadah dan banyak baca buku,” katanya.

Dia mengaku sedih, saat ini jarang orang membaca buku.  Padahal, menurutnya buku sangat penting menambah ilmu pengetahuan dan melatih otak manusia, agar tidak mudah lupa.

“Sekarang orang lebih suka dengan gadget, main handphone sampai lupa baca buku. Bahkan di sekitar rumah saya ini  nggak ada yang pinjam buku. Nggak ada yang suka baca. Kadang kalau ingat itu sedih,” pungkasnya.  (wid)