Desa Ringintelu, Dongkrak Harga Gula Bebas Pengawet

70
Gula merah tanpa pengawet di Desa Ringintelu. (foto/bb/tin)

Bangorejo (BisnisBanyuwangi.com) – SUASANA pagi di Desa Ringintelu, Kecamatan Bangorejo,  dingin dan sejuk. Aroma gula merah merebak saat masuk di Dusun Ringinmulyo. Sejak dahulu masyarakat dusun ini mayoritas bekerja sebagai pembuat gula merah. Kadi, salah satu warga yang masih bertahan sebagai pembuat gula merah. Usaha pembuatan gula merah menjadi usaha turun temurun. Berbeda dengan pembuat gula lainnya, Kadi memilih cara alami membuat gula merah. “Selain lebih sehat, harganya lebih mahal,” ucapnya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu. Dikaui Kadi, membuat gula merah secara alami ini alias tanpa pengawet, perlu proses lebih lama, harus telaten. Sebab, harus rutin mencuci juriken tempat nira, serta rutin mengambilnya pagi dan sore. Karena itu, tak banyak pembuat gula yang mengikuti cara ini. Mereka ingin cara cepat dan mudah.

Di sisi lain, di kawasan ini terdapat agen besar gula merah. Budi, salah satunya. Usaha pengepulan gula merah ini dirintis keluarganya sejak 1968, saat dirinya belum lahir. Kini,dia yang meneruskan usaha tersebut. Budi mengirim stok gula merah ke berbagai pasar tradisional lewat agen di bawahnya. “Selain ke Bali, juga Surabaya dan Sidoarjo,” ungkapnya.

 Jumlah pengiriman tergantung permintaan dan stok. Untuk Bali, pengiriman bisa seminggu sekali sebanyak 3 ton. Stok gula merah dan petani gula merah di kawasan Desa Ringintelu, Desa Sukorejo dan Desa Barurejo. Diakuinya, saat ini jumlah pembuat gula merah menurun. Hal ini seiring banyak alih fungsi lahan, kebun kelapa menjadi permukiman. “Jika dulu kami bisa memiliki pelanggan 60 petani, sekarang hanya 20 orang,” ucapnya.

Harga gula merah sejak pertengahan Januari lalu naik. Harga dari petani sebelumnya Rp 8.000 per kilogram, naik menjadi Rp 9.000 per kilogram. Gula kualitas super dari petani di atas Rp 10.000 per kilogram. Bahkan tembus Rp 12.500 per kilogram. Selain tanpa pengawet, rasa lebih manis dan berwarna coklat tua. Permintaan gula super ini cukup bagus. Masalahnya tak banyak petani yang membuatnya. Sejauh ini hanya 1 persen yang memakai cara alami.

Diakuinya di tengah musim penghujan biasanya stok gula merah lebih sedikit. Hal ini karena kapasitas nira lebih sedikit di samping banyak petani nira yang memilih libur. Menurutnya prospek gula merah selalu stabil. Kenaikan permintaan tak bisa diprediksi. Jika dulu tiap puasa dan Lebaran harga gula merah cenderung naik, kini tak lagi. Justru musim Lebaran tahun lalu, harga gula merah turun. Tahun baru justru naik.

Menurutnya kenaikan permintaan gula merah ini ada kaitannya dengan gula tebu. “Bulan-bulan ini tebu tak ada yang panen, sehingga beralih ke gula kelapa,” ucapnya. Musim panen tebu ini di bulan lima, sementara permintaan gula merah tetap. Selain gula kelapa, kini  berkembang produksi gula tiruan. Terbuat dari bahan gula tebu serta gula pasir. Rasanya manis seperti gula tebu. Stok gula tebu dia datangkan dari Lumajang. Harganya Rp 10.000 per kilogramnya. “Jika gula merah menipis, kemungkinan beralih ke gula tiruan ini,” pungkasnya. (tin)