Petilasan Soeharto di Tapanrejo, Sering Terlihat Penampakan Dayang Tua

24
Bekas kamar Presiden Soeharto di Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar. (foto/bb/udi)

Muncar (BisnisBanyuwangi.com) – MANTAN Presiden Soeharto ternyata meninggalkan jejak di Banyuwangi. Penguasa orde baru ini pernah berkunjung dan menginap di Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar, tahun 1972. Beberapa saat setelah menjabat Presiden. Kamar bekas tempatnya menginap di balai desa setempat kini disakralkan warga. Tak satupun warga berani bermalam.

Meski sudah puluhan tahun, kamar bekas peristirahatan Soeharto tetap terawat rapi. Seluruhnya tetap utuh seperti dahulu. Mulai ranjang kayu, alas kasur dari bambu hingga bantal yang digunakan dan kursi kayu. Bahkan, lampu penerangan tetap menggunakan lampu templek, berbahan bakar minyak tanah.

Lokasi kamar persis di belakang pendopo kantor desa. Ukuran kamarnya sangat mungil, berukuran sekitar 2 x 2,5 meter. Dindingnya tembok, dengan dua jendela dilengkapi teralis besi. Kondisinya terlihat sudah kuno. Dahulu, rumah yang dijadikan beristirahat ini adalah rumah dinas kepala desa. ” Sejak dahulu, kondisi kamar tetap dibiarkan asli. Tidak ada yang diganti. Memang sengaja dijadikan mirip petilasan,” kata Buang, penjaga petilasan, Selasa lalu.

Karena pernah disinggahi tokoh nasional, kamar Soeharto ini cukup disakralkan. Sejak disinggahi Soeharto selama dua hari, kamar tersebut tidak pernah digunakan tidur lagi oleh siapapun. Termasuk para kades yang menjabat hingga sekarang. ” Mungkin takut kuwalat, kan bekas tempat tidur tokoh besar. Jadi dibiarkan, hanya dirawat,” jelasnya. Warga rutin memberikan sesajen setiap tahun di kamar tersebut, bertepatan upacara selamatan desa.

Meski disakralkan, warga tidak ada yang melakukan ritual atau ngalap berkah di kamar tersebut. Kamar ini juga banyak menyimpan kisah mistis. Terkadang, terdengar bunyi ranjang yang goyang dari arah kamar. Ada juga warga yang sering melihat sosok wanita tua berbusana mirip abdi dalem keraton. ” Kalau yang sering dilihat warga sosok wanita tua berbaju mirip dayang keraton. Pakai sanggul dan berkain hingga ke dada,” kata Buang.

Mantan Kades Tapanrejo Jafar Soeharto mengisahkan Presiden Soeharto berkunjung ke desa setempat tanp direncanakan. Sedianya, Soeharto ingin berkunjung ke Desa Kedungrejo, sekitar 10 kilometer dari desa setempat. Entah kenapa, Soeharto yang kala itu blusukan justru memilih Desa Tapanrejo. ” Pertimbangan kala itu, warga disini mayoritas berasal dari Yogyakarta, jadi Jawa asli,” kisah pria 80 tahun tersebut.

Saat Soeharto datang, Jafar bertugas sebagai komandan Hansip. Sehingga, ikut mendampingi kades melayani Soeharto. Maklum, kedatangan Soeharto memang rahasia, tak banyak pejabat daerah yang tahu.

Selama menginap, kata Jafar, Soeharto dilayani sangat sederhana. Termasuk tempat tidur untuk menginap. Selama blusukan, Soeharto banyak mendengar keluh kesah warga. ” Setelah Pak Harto datang, pembangunan desa mulai baik. Warga juga semangat bertani,” pungkasnya. (udi)