Tommy, Investasi Pertanian Bawang Putih di Licin

69
Tommy Soeharto melihat pertanian bawang putih di Desa Tamansari, Licin. (foto/bb/udi)

Licin (BisnisBanyuwangi.com) – LAHAN perkebunan di Banyuwangi yang subur, menarik pengusaha nasional, Tommy Soeharto berinvestasi. Putra sulung mantan Presiden Soeharto ini tergiur dengan pertanian bawang putih di kawasan Lidjen, Desa Tamansari, Kecamatan Licin. Diapun membuat percontohan pertanian bawang putih dengan teknologi modern, dilengkapi ahli pertanian. Tak tanggung-tanggung, luas lahan yang disewa mencapai 5 hektar.

“ Lahan di Lidjen ini sangat subur. Sayangnya, belum ada pendampingan khusus dari ahli pertanian. Kami akan buat percontohan pertanian bawang putih di sini. Pertama, kita siapkan 5 hektar,” kata pemilik nama asli Hutomo Mandala Putra ini disela berkunjung ke lahan bawang putih di Licin, Senin lalu.

Menurut Tommy, pihaknya sengaja datang ke Licin setelah mendengar kesuburan lahan setempat. Ternyata, kata dia, lahan di lokasi cukup berpotensi. Terbukti, pertanian bawang putih yang saat ini dikelola bersama kelompok masyarakat bisa berjalan baik. Kondisi tanamannya juga bagus. Dijelaskan, percontohan bawang putih ini akan menjadi proyek awal. Jika hasilnya bagus, pihaknya akan lebih banyak memberdayakan warga untuk mengolah pertanian bawang putih. Langkah ini, kata dia, menjadi bagian membangkitan  ekonomi kerakyatan. “ Jadi, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat,” kata Pembina Yayasan Kampoeng Pancasila tersebut. Pihaknya mantargetkan, pertanian bawah putih di Licin bisa menghasilkan panen minimal 6 ton per hektar. H

Selain bawang putih, Tommy bersama timnya juga tertarik berinvestasi pertanian cabai di Wongsorejo. Cabai tak hanya dikembangkan, namun diupayakan pengemasan secara modern. Termasuk, menyiapkan pasar. “ Harapannya, di Wongsorejo bisa muncul pengolahan cabai secara modern. Sehingga, petani bisa mengatur harga cabai,” tegasnya.

Mengikuti jejak almarhum sang ayah, Tommy tertarik terjun ke dunia pertanian. Salah satu alasannya, pertanian menjadi salah satu soko guru ekonomi masyarakat. Hanya saja, kata Tommy, kehadiran penyuluh pertanian kurang dirasakan petani. Karena itu,  pihaknya akan membuat pusat percontohan pertanian dengan didampingi para ahli. Masyarakat bisa belajar di pusat percontohan pertanian yang akan dia buat.

Dengan pertanian, lanjut Tommy, potensi daerah bisa dikembangkan. Sehingga, tak perlu impor bahan pokok dari luar negeri. Bawang putih salah satunya. ” Kami prihatin, dengan lahan subur di negeri ini, masih ada kebijakan impor beras maupun bawang putih. Seharusnya, kita bisa memberdayakan potensi setiap daerah untuk pengembangan produk pertanian,” tegasnya. Pihaknya juga mengusulkan kehadiran penyuluh yang bisa mendampingi petani. Selama ini, kata Tommy, kendala pertanian adalah kurangnya penyuluh.  Kedatangan Tommy ke Banyuwangi sejatinya berkaitan dengan kegiatan Yayasan Kampoeng Pancasila di bawah binaannya. Banyuwangi menjadi percontohan Kampoeng Pancasila ini. Tak hanya soal idiologi, Kampong Pancasila juga mengembangkan ekonomi melalui pemberdayaan masyarakat. (udi)