Naysila Kebaya, Langganan Butik di Bali

Kebaya hasil rancangan Naysila Kebaya di Desa Mangir, Rogojampi. (foto/bb/udi)

Rogojampi (BisnisBanyuwangi.com) – KREATIVITAS pengrajin kebaya Banyuwangi banyak diakui di luar daerah. Seperti kebaya hasil kreasi Rina Kurniati, pengrajin asal Dusun Krajan, Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi.  Kebaya berlabel “ Naysila Kebaya” ini banyak menjadi langganan butik papan atas di Bali. Termasuk, seragam warga adat di Pulau Dewata ini. Dengan model beragam dan rancangan berkualitas, pesanan tak pernah sepi. Bahkan, sering kewalahan.

Berawal dari sales keliling kebaya di Bali tahun 2012, Rina, panggilan akrabnya, sukses menekuni bisnis kerajinan tersebut. Melihat peluang bisnis kebaya yang menjanjikan, dia memutuskan pulang kampung. Lalu, tahun 2014, mulai memproduksi sendiri kebaya. “ Awalnya, saya membuat kebaya bordir sendiri di rumah. Lalu, saya tawarkan sendiri ke Bali. Lama-lama, pesanan terus mengalir dan terus bertambah hingga sekarang,” kata Rina kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Saat awal produksi, Rina hanya bisa memproduksi satu kebaya sehari. Setelah pesanan terus mengalir, dia mulai merekrut kaum wanita di sekitar rumahnya.  Mereka diajak menjadi pengrajin kebaya. Kini, total ada sekitar 300 pengrajin yang bergabung dengannya. Mereka mendapat tugas beragam. Mulai menjahit bahan tile, memasang payet dan hiasan bordir pada kebaya. Para tenaga kerja ini bisa mengerjakan pesanan di rumah masing-masing. “ Jadi, kita ikut memberikan pekerjaan kepada kaum ibu di Desa Mangir. Mereka bisa mengerjakannya di rumah, setelah selesai disetor ke sini,” jelasnya. Kini, rata-rata jumlah produksi bisa tembus 100-150 lembar sehari. Ini untuk jenis kebaya biasa. Pengiriman ke Bali dilakukan setiap hari, menggunakan jasa ekspedisi.

Menurut Rina, pelanggan kebaya buatannya kebanyakan butik dan toko grosir. Harga yang ditawarkan mulai Rp 250.000 hingga Rp 1 juta per lembar, tergantung model dan bahan yang digunakan. Ada 10 butik ternama di Bali yang rutin memesan aneka kebaya. Lalu, 3 toko grosir yang menjadi langganan tetap. Sejatinya, kata Rina, pesanan kebaya terus bertambah dari Bali. Namun, pihaknya belum bisa memenuhi seluruh pesanan. Pemicunya, keterbatasan tenaga kerja. Banyaknya kegiatan keagamaan di Bali menjadi peluang pasar menjanjikan bisnis kebaya ini. “ Sementara ini, kami hanya melayani pasar Bali. Kalau pasar lokal Banyuwangi ketika ada pesanan,” jelasnya lagi.

Selain kebaya untuk ke pura, Rina mulai mengembangkan kreasi ke model kebaya modern. Meski bahannya sama, rancangannya dibuat lebih premium. Menonjolkan hiasan sulam payet yang menawan. Terlihat sangat elegan. Kebaya modern ini membidik pasar menengah ke atas. Biasanya, untuk kegiatan pernikahan dan wisuda. Kebaya modern ini dilengkapi langsung longtorso. Sehingga, tinggal pakai. Karena modifikasi modern, proses pembuatannya cukup rumit. Harganya juga mahal. “ Meski mahal, di Bali tetap laris model kebaya modern, terutama ketika musim pernikahan dan wisuda,” ujarnya. Di rumahnya, Rina memiliki belasan pegawai tetap. Mereka bertugas membuat kebaya modern. Namun, rancangan tetap hasil idenya sendiri. Kebaya modern  dikreasikan dengan bawahan berbahan batik.

Rina menambahkan, mengelola rumah kebaya, harus selalu kreatif. Artinya, harus peka dengan tren dan kebutuhan pasar. Apalagi, di Bali perkembangan model kebaya selalu up date. Sayangnya, kata Rina,  kebaya modern buatannya kerap dijiplak pengrajin lain di Bali. “ Biasanya, kalau sudah booming, dijiplak pengrajin lain. Ini yang sering menjadi kendala. Kita yang merancang, setelah terkenal dijiplak,” keluhnya. Karena itu, Rina selalu memperbarui model-model kebaya rancangannya. Selain itu, dia hanya memilih bahan berkualitas. Didatangkan dari Bali. Ada juga dari Banyuwangi. Khusus bahan payet, Rina berburu ke Surabaya. Bahannya diimpor langsung dari Jepang.

Meski kreasinya sering dijiplak, Rina tak patah semangat. Yang membuatnya bangga, bisa memberikan pekerjaan bagi kaum ibu di daerahnya sendiri. (udi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here