Warung Pempek Beromzet Rp 100 Juta per Bulan

Pasutri di Surabaya yang sukses mengembangkan bisnis kuliner pempek. (foto/bb/BS)

Surabaya (BisnisBanyuwangi.com) – PERJALANAN hidup seseorang siapa sangka. Kadang di atas terkadang di bawah. Setidaknya, pengalaman dialami pasangan suami istri (pasutri) Achmad Suparto – Trisiana Permata Lestari membangun usaha “Warung Pempek Tjek Entis” di Surabaya. Yang menarik, Trisiana Permata Lestari, yang akrab disapa Entis ini menekuni usaha kuliner pempek dengan terpaksa.

‘’Saya terpaksa membuka warung pempek karena usaha kasur sudah tidak prospek lagi,’’ kata Owner Warung Pempek Tjek Entis ini kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu. Sebelum terjun kebisnis kuliner, pasutri ini sekitar  1997 hingga 2003 gemar berburu makanan khas Palembang, pempek.

Karena pempek yang dimakan tidak cocok dengan lidah, dan kebetulan usaha kasur yang ditekuninya lesu, wanita kelahiran Palembang, 6 Januari 1973 ini nekad membuka usaha pempek. Meski, buta tentang resep makanan itu. ‘’Dengan modal Rp 500.000 dan penuh kenekatan, satu bulan pertama isinya komplain dari pelanggan. Dua bulan selanjutnya saya buat komunikasi dengan pembeli/pelanggan,’’ aku Entis, mengenang masa-masa sulit membangun kuliner pempek di Surabaya.

Bagi Entis, menikmati pempek bagi orang Palembang sama saja orang Surabaya yang kangen dengan makanan soto. “ Coba bayangkan, bagaimana rasanya orang nggak bisa masak pempek, tetapi nekad membuka usaha kuliner pempek. Yang saya tahu, pempek terbuat dari ikan, tepung, air. Kemudian dibentuk terus jadi pempek,’’ kilah anak kelima dari pasangan M Idrus Efendi dan Eli Yunara ini.

Namun, berkat ketekunannya membangun usaha, warungnya di Jalan Ngagel Jaya Selatan Surabaya ini akhirnya memiliki tujuh mitra. Yakni, di Gresik, Pekalongan, Sokodono, Tropodo (keduanya di Sidoarjo), Kutisari, Ambon dan Tasikmalaya. Ketujuh mitra ini diberlakukan sebagai agen, diberi diskon khusus dengan sistem beli putus.

Entis, tidak memakai istilah franchise dalam mengembangkan bisnis pempeknya. Tetapi mengembangkan sebagai kemitraan usaha. Pasutri dua anak ini kini memiliki 13 karyawan. Dari modal Rp 500.000, kini omzetnya tembus Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per hari. Jika dirata-rata, per bulan bisa tembus Rp 100 juta. Ada sembilan jenis pempek yang ditawarkan. Diantaranya, pempek lenjer (tanpa telur), lenjer jumbo, lenjer isi sosis, lenjer keju, pempek kulit, pempek kulit, pempek kapal selam dan pempek selam jumbo. Dalam mengembangkan usahanya, Entis, juga melakukan kerjasama dengan layanan antar online. Dia juga akan membuka unit usaha kuliner martabak. (bambang wili/BS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here