Kampoeng Batara, Populerkan Festival Bambu

Festival bambu di Kampoeng Batara. (foto/bb/wid)

Kalipuro (BisnisBanyuwangi.com) – SEMANGAT warga Banyuwangi memunculkan kreativitas lokal terus menjamur. Terbaru, Festival Kerajinan Bambu dipopulerkan Kelompok Belajar Kampoeng Batara (Kampoeng Baca Taman Rimba) di Lingkungan Papring, Kelurahan Kalipuro. Meski pertama kali, kegiatan di akhir tahun 2017 ini berlangsung semarak. Aneka kerajinan berbahan bambu hasil karya warga setempat dipamerkan.

Festival kali ini diisi dengan kegiatan pawai. Temanya, kearifan lokal. Mengangkat kerajinan besek, berbahan anyaman bambu. Khas warga Papring. Selama ini, daerah di barat daya kota Banyuwangi ini dikenal sebagai sentra kerajinan bambu.  Terutama besek, lanjaran, bedek dan piring lidi.

Pawai kali ini juga serangkaian perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Berbagai kerajinan anyaman bambu dipamerkan.  Dibuat menyerupai stupa, pesawat dan sekaligus wadah kegiatan kenduri.

Sekretaris Kampoeng Batara, Nur Khotimah mengatakan, konsep pawai besek bambu bertujuan memperkenalkan produk-produk kerajinan yang dihasilkan oleh masyarakat Papring. Selain itu, dalam pawai berkeliling kampung tersebut, pihaknya berupaya memberikan informasi bahwa Papring menjadi bagian sentra kerajinan bambu.

“Tahun ini kami sengaja mengambil tema bambu. Dari banyaknya kerajinan berbahan bambu di sini, besek menjadi tema utama. Nanti produk-produk lain yang akan dibuat festival skala local,” kata Nur Hotimah kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Hal ini, lanjut Hotimah, sebagai bagian dari komitmen Kampoeng Batara mempelajari kerajinan lokal, mengangkat potensi lokal dan memberikan inovasi  dalam mengembangkan potensi-potensi di wilayahnya.

Karena, Kampoeng Batara lahir tidak hanya karena faktor  dasar kebutuhan ruang belajar alternatif bagi anak-anak. Bisa dikatakan, semua ilmu pengetahuan yang berguna untuk pendidikan karakter, serta mengasah potensi setiap anak. Sehingga, bisa bangga dengan produk lokal.

Harapannya, hasil kerajinan berbahan bambu warga Papring, melalui pawai yang dilakukan anak-anak Kampoeng Batara mampu memasok kebutuhan pasar nasional. Selama ini, besek bambu  dari Papring masih dikirim ke wilayah eks-Kerasidenan Besuki dan Bali.

Besek, kata Hotimah, kerajinan yang biasanya digunakan untuk  menaruh buah dan olahan jajanan tape singkong. Besek menjadi salah satu wadah dengan bentuk keranjang kecil. Bahannya anyaman bambu. “Selama ini besek hanya digunakan sebagai wadah. Padahal, besek bambu bisa digunakan apa saja. Seperti yang dibuat oleh anak-anak Kampoeng Batara ini,” ungkapnya.  Sedangkan bedek, merupakan dinding rumah tradisional dari anyaman bambu.

Tidak hanya dalam pawai, untuk mengangkat kerajinan besek bamboo, setiap kegiatan kendurian, acara selamatan kampung dan kegiatan ritual tradisi adat, warga mulai memanfaatkan besek bambu. Biasanya untuk wadah makanan yang dibagikan secara massal. Jadi, tidak menggunakan bahan plastik maupun kado kertas yang harganya juga hampir sama.

Selain unik, manfaatnya juga akan lebih banyak daripada plastik dan kertas. “Kampung kami memiliki sejarah panjang terkait besek bamboo. Sehingga melalui anak-anak Kampoeng Batara, kami menggali lagi sejarah itu. Kami kenalkan lagi, kami banggakan lagi. Jadi, kami tidak hanya membuat dan menjual. Tapi ada sisi edukasi di sini,” ujar ibu satu anak ini.

Sejak tahun 1940-an, kata Hotimah, wilayah Papring sudah menjadi sentra produksi anyaman besek bamboo. Lalu, tahun 1998, saat krisis ekonomi, kerajinan besek bambu terkena dampak. Sejarah itu mulai tenggelam. Sehingga melalui pawai besek bambu diharapkan bisa mengembalikan kerajinan ini agar lebih dihargai.

Dijelaskan, Kampoeng Batara tidak hanya ruang belajar dan bermain, tapi mengangkat potensi local. Sehingga, sinergi antara anak-anak dan orang tua bisa  bersama saling berbagi ilmu pengetahuan. Maklum, setiap kegiatan belajar anak-anak dilakukan secara sukarela.

Adanya Kampoeng Batara, diharapkan bisa menjadi ruang bersama saling mencari dan mengembangkan potensi sumberdaya anak-anak. Sekaligus, membangun rasa optimis masyarakat di Lingkungan Papring. Meski jauh dari kota, anak-anak tidak kalah dalam kualitas dan semangat belajar.

Ke depan, anak-anak di Kampoeng Batara ditempa saling berbagi ilmu pengetahuan. Semua materi yang pernah didapatkan dari semua relawan bisa diturunkan ke generasi selanjutnya. Ini untuk menguatkan mental agar anak-anak bisa semangat dan termotivasi untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. “ Tahun 2018, kami berencana membuat tema bedek bambu. Pokoknya semuanya berbahan bamboo,” pungkasnya. (wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here