Desa Sumberagung, Tingkatkan Pelayanan Budayakan Ishoma di Kantor

Kades Sumberagung, Vivin Agustin. (foto/bb/tin)

Pesanggaran (BisnisBanyuwangi.com) – DESA Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, kaya akan kawasan wisata. Keberadaan kawasan wisata membuat desa ini kian dikenal publik. Di bawah kepemimpinan kepala desa baru, berbagai terobosan dilakukan untuk mewujudkan  desa ini lebih baik. Salah satunya meningkatkan kualitas pelayanan. Tak hanya itu, para perangkat desa diajak lebih disiplin dan gotongroyong. Bukan hanya melayani, soal istirahat, sholat dan makan (ishoma) dibudayakan di kantor.

Sejak kepala desa baru berkantor, perubahan suasana di lingkungan kantor Desa Sumberagung langsung terasa. Para staf dan perangkat datang tepat waktu, wajib mengisi daftar absensi. Disiplin waktu, hal ini upaya Kepala Desa Sumberagung Vivin Agustin dalam meningkatkan pelayanan ke warga. “Pelayanan ke warga ini harus diutamakan. Termasuk ketika berada di lapangan, pelayanan di kantor desa jangan sampai putus,” ucap Vivin kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Sejak awal menjabat, dia pun menggiatkan budaya istirahat, sholat  dan makan siang (ishoma) di kantor desa, demi meningkatkan jam pelayanan. “Dengan sholat dan makan siang bersama di kantor, meski dengan menu-menu sederhana, para staf dan perangkat desa tak perlu keluar kantor. Sehingga warga yang ingin mendapat pelayanan tak harus menunggu lebih lama,” ucapnya. Adanya budaya ini menurutnya makin tercipta suasana kebersamaan dan membangun individu beriman dan bertaqwa.

Istri mantan kepala desa (alm) Murwanto ini juga dikenal sosok yang tegas dan berjiwa sosial. Visi misinya melanjutkan perjuangan sang suami, bekerja keras dan kerja tuntas. “Komitmen saya, mengabdikan diri pada masyarakat,” tegasnya. Sebelumnya, dia merupakan Ketua PKK dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.

Di masa kepemimpinannya, beberapa kegiatan dihelat. Salah satunya, menanam andong merah di pinggiran jalan desa, guna menciptakan suasana desa asri dan indah. “Tanaman andong merah ini selain murah juga warna daunnya bagus,” ungkapnya.

Di awal masa jabatan, Vivin disuguhi persoalan banjir. Salah satunya, musibah banjir di Dusun Pancer, awal tahun 2018 ini. Dirinya langsung turun ke lokasi membantu korban banjir. “Akibat medan sulit, untuk menuju lokasi rumah korban, saya naik gerandong dan itu jam 10 malam,” kisahnnya.

Dirinya bersama tim Distana (Desa Tangguh Bencana ) langsung siaga mengajak masyarakat bergotong royong membersihkan sungai setempat. Seperti Sungai Sanggawe yang mengalami pendangkalan akibat sampah. Akibat terjangan banjir  tiga jembatan terputus. “Selain pembangunan jembatan, pembangunan rumah para korban sudah diupayakan,” ucapnya.

Sebagai desa kawasan wisata, Vivin menuturkan pembangunan jalan menjadi skala prioritas. Termasuk pemberdayaan  masyarakat melalui berbagai pelatihan. Saat ini, buah naga masih menjadi komoditas unggulan desa ini. Untuk mendongkarak harga buah naga segar, sudah berkembang usaha olahan buah naga. Salah satunya ditekuni Kelompok Tani Wanita. (tin)

Berkembang Kerajinan Udeng

UDENG Banyuwangi kini banyak diburu, baik wisatawan untuk oleh-oleh maupun para pejabat di Banyuwangi. Peluang ini menjadi berkah bagi para penjahit.

Salah satu produksi kerajinan udeng ini berada di Desa Sumberagung. Kerajinan udeng ini ditekuni Soleha. Sebelum membuka usaha jasa jahit, Soleha bekerja di sebuah usaha garmen di Bali. Setelah 9 tahun bekerja, dia memilih pulang kampung pasca-peristiwa bom Bali tahun 2003. “Saat itu, banyak usaha garmen  sepi, termasuk di tempat saya bekerja,” ucapnya.

Berbekal pengalaman tersebut, di rumahnya di Jalan Sukomade, Desa Sumberagung, Soleha membuka jasa jahit. Dari jasa jahit pakaian berkembang ke produksi udeng Banyuwangi.

Pesanan udeng ini sempat melonjak tajam saat demam udeng Danang. Bahkan dalam sebulan, dirinya bisa menjual ratusan udeng. Kini pesanan udeng ini tak hanya dari kawasan Banyuwangi, tapi juga dari berbagai kota. Seperti Tangerang, Jakarta dan Sulawesi. “Kalau Agustus, permintaan udeng banyak,” ucapnya.

Proses pembuatan udeng ini kata Soleha tak terlalu rumit. Dirinya hanya perlu waktu 30 menit untuk menyelesaikan satu udeng. Menariknya, untuk membuat udeng, Soleha memanfaatkan kain batik perca. Kain batik perca, dibeli dari para penjahit di lingkungannya. “Kecuali udeng untuk pesanan banyak perlu bahan kain lebar,” ungkapnya.

Untuk pemasaran, selain online juga kerap diundang dalam ajang pameran. Harganya Rp 25.000 untuk udeng dewasa dan Rp 20.000 untuk udeng anak-anak. Diakuinya, harga udeng buatannya sedikit lebih mahal. Ada juga orang menjual udeng seharga Rp 16.000, namun sekali cuci luntur. “Saya berani sedikit lebih mahal, namun dengan kualitas lebih bagus,” ucapnya. Dia mengaku udeng buatannya tak lecek, meski dicuci berulang kali. Soleha mengaku paling senang mendapat orderan udeng. Selain minim risiko, waktunya juga pasti. Meski, dari satu udeng, dia hanya mengambil untung Rp 5.000. Tapi, jika pesanan banyak, untungnya lumayan. (tin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here