UD Jaya Dewata Pusatnya Genteng Kualitas Terbaik

55
Ahmad Wasil. (foto/bb/ida)

Gambiran (BisnisBanyuwangi.com) – GENTENG menjadi kebutuhan penting setiap bangunan. Selain sebagai atap pelindung, genteng juga mempercantik bangunan. Namun, dibutuhkan kejelian memilih genteng berkualitas. Sehingga, tahan lama, tak mudah bocor. Genteng berkualitas harus menggunakan bahan baku tanah liat berkualitas. Seperti ditawarkan Ahmad Wasil, pengrajin sekaligus pengusaha genteng “UD Jaya Dewata” asal Dusun Stembel, RT 1/VII, Desa Gambiran, Kecamatan Gambiran. Di tempatnya, aneka genteng berkualitas ditawarkan.

Kerajinan genteng mulai ditekuni Ahmad Wasil sejak tahun 1997. Berawal dari kejeliannya melihat peluang dan prospek kerajinan genteng, pria ini membuka usaha. Bermodal Rp 100 juta. Kini, dia sukses. Mempekerjakan hingga 30 karyawan.

Yang membedakan genteng buatan UD Jaya Dewata, kualitasnya terjamin. Berani diadu. Sebab, Ahmad Wasil sangat ketat memilih tanah liat yang digunakan sebagai bahan genteng. “ Kami selalu menggunakan tanah liat berkualitas tinggi. Proses pembuatan juga esktra hati-hati. Sehingga, hasil gentengnya tahan lama, tak bocor,” kata Ahmad Wasila kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Menurut Ahmad Wasil, pihaknya memprioritaskan kepuasan konsumen. Sehingga, selalu membuat produk genteng berkualitas. Keunggulan lainnya, proses produksi genteng menggunakan mesin pres dan mesin penggilingan. Sehingga, kualitas tanahnya benar-benar lentur, tahan banting.

Proses pembuatan genteng, kata Ahmad Wasil, diawali pengolahan tanah menggunakan mesin khusus. Lalu, dicetak. Tak kalah penting, proses penjemuran di bawah sinar matahari langsung. Sehingga, kekeringan genteng benar-benar teruji. “Penjemuran minimal seminggu. Jadi, benar-benar kering,” jelasnya. Setelah genteng kering, baru dilanjutkan proses pembakaran selama sehari. Pembakaran menggunakan bahan bakar kayu. Sehingga, kualitas dan warna gentengnya benar-benar matang, bagus. Setiap minggu, pihaknya bisa melakukan pembakaran hingga 8000 genteng.

Aneka jenis genteng yang ditawarkan mulai genteng pres dengan harga Rp 1.450.000 per 1000 biji genteng. Ada juga, jenis mantili, harganya Rp 1.600.000 per 1000 biji genteng. “ Harga ini sudah termasuk ongkos kirim di wilayah Banyuwangi,” jelasnya.

Selain genteng, pihaknya menyediakan aneka jenis atap atau wuwungan. Harganya cukup murah, mulai Rp 600 hingga Rp 7.000 per biji. Selama ini, kata Ahmad Wasali, konsumen membeli genteng minimal 3000 biji. Namun, ada juga yang hanya membeli Rp 1000 biji.

Para pembeli bisa datang langsung ke lokasi pembuatan. Atau, bisa juga hanya memesan lewat telepon. Karena menjaga kualitas, kerajinan genteng “UD Jaya Dewata” ini cukup terkenal di wilayah Banyuwangi. Bahkan, hingga ke Jember, Situbondo dan Bali. “ Pesanan juga datang dari Madura dan Surabaya,” ujarnya.

Dari usaha ini, Wasil, panggilan akrabnya, mampu meraup omzet hingga Rp 5 juta per minggu. Meski bermunculan atap bukan genteng, pihaknya optimis usahanya tetap bertahan. Sebab, atap genteng lebih berkualitas dibandingkan bahan lain. “ Kelebihan genteng itu terasa adem untuk atap rumah. Sebab, bahannya tanah liat murni,” jelasnya.

Keuntungan ini membuat masyarakat tetap bertahan dengan atap genteng. Selain itu, Wasil mengaku tetap mempertahankan kerajinan genteng, karena warisan nenek moyang. Sehingga harus dilestarikan.

Usaha kerajinan genteng, kata Wasil, hanya terkendala hujan. Saat hujan, pihaknya tidak bisa menjemur.  Sehingga proses pengeringan terhambat. “ Kalau pakai oven biaya produksi naik, kualitasnya juga kurang,” keluhnya. Saat hujan, pihaknya terpaksa mengurangi proses produksi. Selain cuaca, kendala lainnya permodalan. Menurutnya, permintaan genteng cenderung meningkat, namun modal terbatas. Pihaknya berharap, pemerintah mau membantu para pengrajin genteng. Sehingga, tak sampai gulung tikar. Sebab, banyak pengrajin genteng  gulung tikar akibat terganjal modal. “ Ini kerajinan warisan nenek moyang yang layak dilestarikan. Bantuan modal juga diperlukan,” pungkasnya. (ida)