Sanet Sabintang, Gabungkan Sentuhan Klasik dan Modern

36
Sanet Sabintang dalam sebuah fashion show. (foto/bb/wid)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – MENEKUNI dunia desainer, harus memiliki ciri khas. Idiologi ini yang membuat Sanet Sabintang selalu menghasilkan karya desainer yang memikat. Salah satu rahasianya, desainer muda Banyuwangi ini mampu menggabungkan sentuhan klasik dan modern. Sehingga menghasilkan perpaduan karya yang berkelas.

 Setelah sukses mengembangkan desain kostum dan tas handmade  di tahun 2017, wanita yang akrab dipanggil Sanet ini terus menorehkan karya istimewa. Salah satunya, menggelar fashion show yang dikenal dengan high class. Even yang sekaligus memperkenalkan Banyuwangi ini digelar di Malang, Yogyakarta dan Banyuwangi.

Ada tiga tema yang diangkat dalam pagelaran yang dibuat oleh Sanet, yaitu Filosofi of  Live, Red Dragon From The East dan Country Style. Ada juga Shine, mengambil desain batik Banyuwangi dengan konsep dari China. Menggabungkan banyak sentuhan klasik dan modern.

“Alhamdulillah. Selama tahun 2017 ada 5 even di Yogyakarta dan Malang, tiga even di Banyuwangi.  Semua even menampilkan tas sebagai bagian dari pengembangan produk kami,” katanya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Fashion show di Malang, lanjut perempuan yang memiliki hobi menggambar ini, mengusung konsep red carpet dengan 6 offsite, menggabungkan konsep naga dalam cerita China. Sementara di Banyuwangi, Sanet sengaja  mengambil tema country style Texas Innano Royal, khusus baju country yang harus ia selesaikan dalam waktu satu minggu alias kejar tayang.  Maklum, karena pagelaran tersebut dilaksanakan di salah satu hotel ternama di Banyuwangi. Sehingga, semua menggunakan kain local. “ Jadi membuat sisi tradisional untuk go internasional. Ternyata kain-kain tradisional kita tidak kalah bagusnya dengan kain luar negeri,” jelasnya. Dalam fashion rancangannya, 60-90 persen menggunakan kain lokal.

Tidak hanya itu, Sanet memproduksi tas kulit, termasuk logo sendiri. Baju dan lainnya, didesain, dipotong dan menjahitnya langsung dari gerainya. Dan, itu tidak ada di tempat lain.

“Kami bergerak di dunia bisnis untuk Sanet secara personal, mulai desain, kami lakukan sendiri dan tidak mengeluarkan produk KW. Karena, Sanet sebagai fashion center sekaligus ownernya,” ucapnya.

Dijelaskan,  dirinya merasa senang ketika muncul Komunitas Desain Banyuwangi yang mulai mengembangkan unsur fashion dengan kreativitas. Menurutnya, dengan komunitas tersebut dapat dikembangkan lagi agar tak hanya fokus pada baju yang memiliki musim tren. “ Komunitas ini memiliki kreativitas yang bagus,” tegasnya.

Dalam pagelarannya, Sanet juga menggandeng model-model  Banyuwangi. Menurutnya, banyak talent yang bagus di tingkat lokal.  Dengan mengangkat produknya, seperti tas kulit timeless yang  cocok dipadukan dengan kostum apapun. Kini, Sanet mulai memberikan warna kombinasipada  tas kulit, dipadukan dengan kostum, khususnya batik. Hal ini  menjadi style Sanet karena lahir dari tantangan beberapa kawan-kawannya.

“Kemarin dapat tantangan dari BBF, akhirnya ketemu lurik Yogyakarta dan gajah oling dengan mengangkat tema filosofi  of life. Dalam konsep ini, kami menggabungkan lurik Yogya dan gajah oling dalam bentuk Japanes Style. Tapi bahannya tidak mengambil dari luar, mutlak semuanya lokal,” jelasnya. Lalu, tema Red Dragon From The Island yang dibawa ke Malang. Untuk mendukung kegiatan itu, dia sempat mencari inspirasi hingga ke Makassar. Lalu, menemukan kain tenun yang memiliki estetika tinggi dalam dunia fashion.

Sejak kecil, Sanet memiliki hobi menggambar. Ia juga dikenal gemar membaca buku. Salah satu mimpinya, ingin menjadi bagian dari dunia medis. Lulus SMU, Sanet melanjutkan kuliah di Poltekes Depkes Yogyakarta, tamat tahun 2004.

Karena kecerdasannya, Sanet mendapat beasiswa di ST. Dominic Savio College, Philiphine sejak 2004 hingga 2006. Kemudian, ia menjadi perawat di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Baginya, keluarga tetap menjadi prioritas. Karena dari keluarga, segala usaha yang ia tekuni masih tetap lancar hingga saat ini.

“Ketika kami bermimpi tentang kesuksesan, berikan juga kesuksesan itu untuk orang lain,” kata istri dari, dr. Slamet Widodo, MKes, Sp.OG ini. Tidak heran, jika Sanet, selain dikenal aktif membangun usaha, juga cukup dikenal dengan aktivitas sosial.

Meski banyak usaha serupa, ia tidak merasa khawatir. Menurutnya, semua  kuncinya pada niat. Dia meyakini, niat yang baik, meski tidak berhasil baik, pihaknya menyerahkan kepada Sang Pencipta. Yang terpenting, kata dia, bagaimana bisa bermanfaat bagi orang lain. Baginya, jika apapun yang diperbuat diniatkan dengan baik, hasilnya pasti akan baik. Hal itu ia terapkan juga pada karyawan. Sehingga, ia merasa puas saat even di Banyuwangi. Meski tanpa dirinya, kegiatannya terbilang sukses. “Semua membutuhkan proses untuk bisa menjadi matang. Dan, saya masih dalam tahap proses itu,” ujarnya merendah.

Menurutnya, banyak faktor untuk bisa menjadi bagian dari pribadi yang bisa bermanfaat bagi orang lain.  Sanet juga dikenal sebagai sosok yang selalu menciptakan ide-ide baru, tidak stagnan. Hal ini mendukung bagaimana Sanet terus memiliki kualitas. Tidak hanya mengikuti tren, Sanet berupaya menjadikan produknya timless. Termasuk harga untuk desain juga tergolong terjangkau.

Menariknya lagi, Sanet juga memiliki after cell pada setiap produknya. Sehingga ia menyiapkan jasa permak. Bahkan konsumen bisa  melakukan vermak jika terlalu kecil atau kebesaran. Ada garansi pada setiap produk.  “Banyak yang berharap Sanet bisa membuat produk menengah ke bawah. Rencana tahun ini akan mengeluarkan brand Sanet dengan harga terjangkau,” jelasnya. Wanita ini juga bermimpi bisa mempromosikan Banyuwangi melalui produknya hingga ke luar negeri. (wid)