Komunitas Prasasti Singonjuruh Kenalkan Potensi Daerah dengan Atraksi Seni

22
Gerakan tari mengisahkan pencarian Sang Surya. (foto/bb/wid)

Singojuruh (BisnisBanyuwangi.com) – BANYAK hal dilakukan komunitas pemuda di Banyuwangi untuk mengenalkan potensi daerah. Seperti dilakukan Forum Komunikasi Karang Taruna (Prasasti) Kecamatan Singojuruh. Mereka mengenalkan potensi yang dimiliki dengan atraksi seni. Kegiatan ini dilakukan menyambut pergantian tahun 2018.

Kegiatan pertama kali ini bertajuk “ Mapag Srengenge”. Mapag dalam bahasa Using berarti menjemput, sedangkan srengenge berarti matahari. Pertunjukan tersebut merupakan salah satu apresiasi pemuda karang taruna di bidang kesenian. Pentas seni yang tergolong baru digelar tersebut, menjadi magnet ribuan pengunjung. Setidaknya ada 8 grup musik, mulai patrol, jazz, hadrah, hingga teaterikal dari para pemuda. Seluruhnya disuguhkan dengan konsep spektakuler.

Menurut Ketua penyelenggara “Mapag Srengenge” Prasasti,  Jhon Tata, pagelaran ini merupakan even perdana yang diadakan karang taruna di Kecamatan Singojuruh. “Meski belum semua karang taruna ikut peran dalam kegiatan ini, namun pemuda dalam forum Komunikasi Karang Taruna Kecamatan Singonjuruh tetap mempersembahkan secara maksimal. Harapannya, kegiatan ini bisa menjadi pemantik semangat pemuda pemudi Kecamatan Singojuruh,” katanya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Tata menjelaskan, drama yang mengambil tema “Mapag Srengenge” ini melibatkan sekitar 80 pemuda. Mengisahkan tokoh Singomanjuruh, didampingi Mpu Wiyu. Mereka mencari tempat untuk berkumpulnya para ahli yang mampu mengubah dunia yang gelap gulita menjadi terang benderang.

Pencarian Singomanjuruh terhalang oleh hawa nafsu dan angkara murka dari manusia yang tinggal di bumi. Mpu Wiyu kemudian meminta Singomanjuruh bermeditasi. Lalu, mendapatkan petunjuk. Untuk mengubah dunia menjadi terang benderang dia harus mencari “Sang Surya”.

Di tengah perjalanan mencari Sang Surya, Singomanjuruh bertemu dengan Putri Kala, penjaga hutan belantara. Putri cantik tersebut berjanji membantu Singomanjuruh mencari Sang Surya dengan syarat jika berhasil menemukan Sang Surya, Singomanjuruh harus membuat prasasti untuk menyatukan seluruh umat manusia.

Dengan bantuan Putri Kala, akhirnya Singomanjuruh berhasil menemukan Sang Surya dan juga tempat yang luas berkumpulnya para ahli yang mampu merubah dunia yang gelap gulita menjadi terang benderang dengan hadirnya Sang Surya.

Sementara itu, menurut Adlin Mustika, penata gerak sekaligus penata musik pagelaran drama kolosal Mapag Srengenge menjelaskan, drama tersebut sengaja mengambil tema mencari surya atau matahari. Sebab, selama ini keberadaan matahari sering terlupakan oleh umat manusia. “Padahal matahari adalah salah satu elemen penting agar kehidupan ini seimbang. Jadi pesan itu yang ingin kita sampaikan. Saling menghargai dan menghormati sesama isi bumi,” jelas Adlin.

Sementara, prasasti yang dijadikan sebagai wujud janji yang dibuat oleh Singomanjuruh kepada Putri Kala adalah simbol persatuan dan kesatuan. “Jika semua bersatu, maka akan banyak kebaikan yang bisa dirasakan,” jelasnya.

Selama 60 menit, pagelaran yang diadakan di ruang terbuka hijau (RTH) Kecamatan Singonjuruh menyajikan berbagai fragmen yang membuat decak kagum penonton. Musik dan gerakan yang dinamis mendominasi hampir sepanjang pertunjukkan. Bahkan di tengah-tengah pertunjukan juga disajikan fragmen”Meras Gandrung”, yaitu wisuda penari muda menjadi penari gandrung professional, piawai menari dan bernyanyi.

Mereka juga memainkan alat musik tradisinoal, mulai angklung, gamelan yang dimainkan secara langsung oleh musisi-musisi muda di Singojuruh. Pagelaran melibatkan 150 pemain terbang atau rebana yang dikenal oleh masyarakat Banyuwangi sebagai kesenian hadrah.

Camat Singonjuruh, Muhammad Luthfi menuturkan selama kurang dari satu bulan, anak-anak muda di Singojuruh berlatih menampilkan yang terbaik untuk penonton. “Walaupun pagelaran ini diadakan di lapangan terbuka, kita tidak ingin menampilkan sesuatu yang biasa-biasa saja. Pagelaran yang berkualitas juga bisa dinikmati oleh masyarakat yang tinggal di desa-desa, tidak harus mereka yang tinggal di kota,” jelasnya.

Pagelaran melibatkan mahasiswa STKW Surabaya, hampir 50 persen lebih anak muda yang terlibat dalam pementasan tersebut berasal dari wilayah Singojuruh dan sekitarnya. “Ini bukan hanya sekadar pagelaran, tapi juga sebagai sarana mengenalkan Singojuruh serta menambah kepercayaan diri para pemuda bahwa mereka bisa berkarya,” jelasnya lagi. Acara ini, kata dia, akan menjadi wadah untuk anak-anak muda berkarya dalam bentuk seni tari, drama dan musik tradisional. (wid)