Festival Jajan Using, Belinya Pakai Uang Kepeng

119
Pengunjung berburu jajanan tradisional dalam festival di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Jumat (26/1). (foto/bb/udi)

Glagah (BisnisBanyuwangi.com) – Festival jajanan tradisional yang digelar Desa Adat Using Kemiren, Kecamatan Glagah, Jumat (26/1), terasa beda. Selain menyuguhkan puluhan jajan khas suku Using, pembelian menggunakan uang kepeng. Sepintas, mirip zaman Majapahit.

Festival pertama kali ini menjadi bagian promosi adat dan wisata di Banyuwangi. Sejak pagi, warga menyulap sebuah gang di perkampungan setempat menjadi pasar dadakan. Warga membuat lapak di depan rumah. Di atasnya aneka jajanan dan kuliner tradisional tersedia. Pengunjung bebas masuk, tanpa dipungut biaya. Namun, bagi yang ingin membeli jajanan, tidak bisa menggunakan pecahan rupiah. Namun, menggunakan uang kepeng. Koin uang kepeng ini ditukarkan di pintu masuk lokasi. Harganya, empat biji uang dikepeng dibandrol Rp 10.000.

Harga jajanan yang ditawarkan juga cukup murah. Rata-rata, per porsi hanya satu kepeng, setara dengan Rp 2500. Aneka jajanan tradisional yang ditawarkan, mulai lanun, lopis, klepon, kucur, ketan kirip hingga rujak lontong. Dalam hitungan menit, aneka kuliner yang ditawarkan ludes terjual. Karena pertama kali, pengunjung membludak. Bahkan, banyak pengunjung gigit jari lantaran kehabisan jajanan. “ Jajanannya sangat lengkap, harganya juga murah, Yang unik, kita membeli pakai uang kepeng, mirip zaman kerajaan,” kata Kunti, salah satu pengunjung.

Camat Glagah Astori mengatakan  festival jajanan Using ini tak sekadar melestarikan kuliner warisan nenek moyang asli Banyuwangi. Namun, ikut mengangkat potensi ekonomi masyarakat. “ Dengan festival jajanan, kita ingin jadikan Kemiren sebagai pusat jajanan tradisional di Banyuwangi. Sekaligus, mengangkat ekonomi warga,” katanya.

Festival jajanan ini digelar rutin setiap Sabtu-Minggu. Sehingga, wisatawan yang datang ke Banyuwangi tak perlu bingung berburu jajanan tradisional.

Terkait penggunaan uang kepeng kata dia sengaja dilakukan untuk menambah keunikan festival. Sehingga, ada pengalaman tersendiri bagi pengunjung yang berburu kuliner. “ Ini kan mirip permainan tempo dulu, sekaligus bernostalgia sambil mencicipi jajanan lokal,” pungkas Astori. (udi)