Kerajinan Panah Licin Langganan KONI

Abdul Halim membuat panahan untuk olahraga. (foto/bb/wid)

Licin (BisnisBanyuwangi.com) – KERAJINAN para pengrajin Banyuwangi kualitasnya selalu membanggakan. Abdul Halim, pengrajin panah salah satunya. Warga Dusun Krajan, Desa Banjar, Kecamatan Licin ini menjadi langganan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) untuk menyediakan alat pemanah yang standar.

Abdul Halim membuat panah untuk olahraga sejak tahun 2013. Dia hanya mensuplai kebutuhan olahraga panahan di Banyuwangi.  Mulanya, pria yang berprofesi sebagai petani ini hanya ditawari  membuat panahan dari seorang guru olahraga yang juga menantunya.

“Saya coba disuruh bikin, hanya diberi contoh panahan yang sudah jadi. Dan, ternyata katanya cocok,” jelasnya saat ditemui Bisnis Banyuwangi di rumahnya, pekan lalu.

Dari situ, Abdul Halim sering ditawari KONI Banyuwangi membuat panahan. Mulai dari wilayah Kalibaru sampai Ketapang. Dialah  yang buat panahan sendiri. Kebanyakan dimasukkan ke sekolah-sekolah untuk olahraga, dan tempat-tempat wisata di Banyuwangi.

Selama membuat, Halim mengaku hanya berani membuat melalui pesanan KONI. Hal ini dilakukan agar panahan yang dibuat tidak disalahgunakan untuk kepentingan yang membahayakan.

“Saya jualnya tidak berani ngawur (sembarangan). Jualnya lewat KONI. Biar tidak disalahgunakan. Saya buatnya tidak mesti, kadang dalam sebulan buat 10, kadang tiga bulan sekali, tergantung pesanan,” ujarnya.

Halim menjelaskan, satu busur panahan dan sudah dilengkapi dengan enam buah anak panah. Harganya Rp 350.000. Selama membuat, Abdul hanya menggunakan mekanisasi alat sederhana. Seperti bor, gerenda dan golok. Selebihnya, hanya membutuhkan ketekunan dan kesabaran ketika membuat.  Membuat anak panah lengkap, butuh proses waktu tiga hari. Tergantung cuaca untuk menjemur cat peliturnya.

Untuk membuat pegangan busur, Abdul menggunakan kayu mahoni dan jati. Kemudian bagian lengkungan busur menggunakan bambu.  Berbeda dengan anak panahan sekarang, kata Halim pakai almunium, karena hanya untuk olahraga. Kalau dulu, anak panahan untuk berburu dibuat dari kayu damar.

Halim mengaku, membuat panah tradisional harus menggunakan bahan khusus, agar awet.  Misalnya kayu harus jenis mahoni, selain baut dan benang string. Bambu juga harus berjenis bambu duri atau ‘pring ori’ yang diambil dari rumpunnya bulan Mei hingga Desember. Bambu yang ditebang bulan Januari hingga April dan yang ditebang saat bulan purnama tidak akan dipakainya.

Penanganannya juga spesial, bambu dipotong, dijemur hingga kadar air tersisa 60 persen. Kemudian direndam selama 10 hari. “Semua itu biar awet, tidak termakan kutu kayu. Saya sehari bisa buat 1 set dari pembuatan awal sampai selesai,” pungkasnya. (wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here