Unik, Santap Kuliner di Pinggir Kebun Naga

191
Kafe bernuansa kebun buah naga di kawasan Jajag, Gambiran. (foto/bb/tin)

Jajag, Gambiran (BisnisBanyuwangi.com) – BUAH naga kini menjadi komoditas unggulan warga Banyuwangi selatan. Untuk mengenalkan produk buah naga, tak hanya melalui makanan olahan. Namun, konsep kafe dibuat lebih dekat dengan nuansa buah naga. Seperti ditawarkan Dragon Cafe di kawasan Jajag, Gambiran. Kafe ini terasa unik, mengusung slogan “Benteng Buah Naga, Pelopor Buah Naga Kekinian” . Di bangun di atas lahan seluas 1,7 hektar, bukan sekadar memuat bangunan kafe, namun kebun naga dalamnya menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Konsep dibuat semi outdoor, memberi kesan luas. Selain bisa menikmati menu-menu bernuansa buah naga, seperti nasi goreng naga cinta dan mi goreng naga, pengunjung bisa mendapatkan berbagai produk olahan buah naga. Seperti dodol dan selai buah naga.

Samsu Arifin, pengelola kafe mengatakan pihaknya sengaja mengkawinkan antara produk buah naga dengan konsep kafe yang tengah tren. “Kami ingin menyajikan konsep kafe yang beda. Dengan konsep outdoor, kesan luas dan terang, jauh dari kesan negatif kafe,” ucapnya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Dia berharap kafe  ini bukan sekadar tempat tongkrongan kekinian, tapi wadah kreativitas bagi masyarakat. Sejauh ini para pelaku seni, seperti anak-anak muda ikut dilibatkan mengisi hiburan atau even lainnya. Ke depan, kafe ini lebih banyak mengusung konsep edukasi, seni budaya dan pertanian.

Ide kafe ini kata Samsu juga tak lepas untuk mendongkrak nilai jual buah naga. “Kami juga merangkul para UMKM, terutama produk olahan buah naga untuk ikut berkontribusi di sini,” ucapnya.

Sebelum mengelola kafe, Samsu petani naga. Untuk mendongrak harga buah naga, dirinya membuat olahan buah naga sejak dua tahun silam. Pemasaran dia lakukan secara online.

Ihwal usaha kafe ini setelah pertemuannya dengan seorang teman lama. “Sejak dulu kami suka bisnis,” ucapnya. Dari keduanya muncul ide membuka usaha kafe. Sang teman, Herman sebagai penanam modal dan pengelolaan diserahkan ke dirinya.

Pihaknya berupaya mewujudkan kafe yang menarik dengan modal minim. Konsep semi outdoor menjadi pilihan. Selain memberi kesan luas, juga hemat biaya. Furnitur  pun memanfaatkan bahan kayu yang sudah ada. “Kebetulan, saya sempat tanam pohon jati, jadi bisa dimanfaatkan,” ucapnya.

Bersyukur,  respon masyarakat sangat bagus. Bahkan awalnya dengan 11 tim pihaknya sempat kualahan dan harus menambah tim. Khusus chef dia datangkan dari Surabaya.

Permintaan even pun lumayan banyak, bahkan beberapa even sudah diagendakan untuk enam bulan mendatang. Seperti lomba kicau burung, memperebutkan Piala Wabup Cup dan berbagai acara gathering dari berbagai komunitas. “Booking wedding sudah ada, cuma kami masih tata,” ungkapnya.

Suasana kafe yang menarik, membuat banyak pengunjung datang berfoto selfie, serta banyak artis Banyuwangi mengambil lokasi kafe untuk acara syuting. Kafe ini juga dilengkapi berbagai fasilitas. Seperti ruang pertemuan, pentas, life music tiap hari dan area parkir luas. Di area belakang terdapat gantungan burung. Berbagai even burung siap dihelat di tempat ini. Ke depan pihaknya mengandeng komunitas travel untuk menarik tamu datang ke Banyuwangi. (tin)