BK Tangani Kasus Dugaan Asusila AT

44
H. Sugirah. (foto/bb/udi)

Wongsorejo (BisnisBanyuwangi.com) – KASUS dugaan asusila oknum anggota DPRD Banyuwangi, AT, mendapat atensi khusus Badan Kehormatan (BK) DPRD. Ketua BK DPRD Banyuwangi, H. Sugirah mengatakan pihaknya mengutus dua personel BK untuk melakukan klarifikasi ke AT. Namun, hingga pekan lalu, AT belum bisa ditemui. Meski begitu, pihaknya akan tetap melakukan upaya untuk menyelesaikan persoalan tersebut. ” Kita sudah rapat internal terkait laporan ini. Intinya, kami akan lakukan penyelesaian sesuai tahapan yang ada,” kata politisi PDIP ini, Kamis lalu.

Senada diungkapkan Ketua DPC PKB Banyuwangi, HM Joni Subagio. Wakil Ketua DPRD Banyuwangi ini mengatakan pihaknya menyerahkan persoalan itu ke BK DPRD. ” Kalau persoalan itu, kita serahkan ke BK. Nanti hasilnya seperti apa,” ujarnya.

AT yang juga Ketua Komisi IV DPRD Banyuwangi dilaporkan ke BK DPRD. Politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini diduga membawa istri orang. Selain ke BK, kasus asusila ini juga akan dibawa ke ranah hukum.

Kasus ini dilaporkan Didik Anan Pratama (36), warga Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. Melalui kuasa hukumnya, Zaenuri Ghazali, pria ini meminta AT bertanggungjawab terkait dugaan jalinan asmara yang dilakukan bersama istrinya, Rina Evayanti. Pihaknya mengklaim memiliki rekaman percakapan di media sosial (medsos) terkiat jalinan asmara itu. Termasuk rekaman video.

” Intinya, klien kami ingin meminta pertanggungjawaban dari saudara AT. Kami sudah kirimkan somasi, tapi belum ada itikad baik untuk menyelesaikan persoalan. Sehingga, kita bawa ke BK DPRD,” kata Zaenuri Ghasali.

Pengacara asal Situbondo ini menjelaskan terakhir dugaan asusila itu terjadi, Minggu, 3 Desember 2017. Kala itu, AT ditemukan berduaan bersama Rina Evayanti di salah satu rumah warga di Kelurahan Karangejo, Banyuwangi. “Kami juga memiliki bukti rekaman percakapan di medsos dan pesan singkat, termasuk video. Percakapan itu mengarah ke tindakan asusila, chek in ke hotel,” jelas Ghozali.

Akibat perbuatan itu, rumah tangga kliennya menjadi rusak. Bahkan, sang istri meminta bercerai. ” Klien kami sempat memergoki keduanya, AT dan Rina Evayanti dalam satu mobil. Apapun alasannya, ini sudah melanggar asusila. Sebab, membawa istri orang tanpa izin,” jelasnya lagi. Sejatinya, kata Ghozali, keluarga kliennya membuka pintu damai. Namun, AT tak memiliki itikad baik menyelesaikannya, hanya janji-janji akan bertanggungjawab. Sehingga, pihaknya membawa kasus ini ke BK DPRD. Harapannya, bisa diselesaikan secara kelembagaan. Sebab, akibat ulah oknum Dewan ini, kondisi psikologis kliennya ikut terganggu. Belum lagi efek sosial di masyarakat. ” AT ini anggota Dewan dari PKB. Kami juga tembuskan laporan ini ke DPP PKB,” imbuhnya. Pihaknya khawatir jika persoalan ini tak segera diselesaikan justru akan berdampak fatal, terutama efek sosial di masyarakat.

Sementara itu, AT mengaku tidak merasa melakukan tindakan asusila pada siapapun. “ Setiap orang boleh-boleh saja melaporkan hal apapun kemana saja. Yang pasti, saya tidak merasa melakukan tindakan asusial kepada siapapun,” ujarnya lewat pesan singkat. (udi)