Desa Sumbermulyo Andalkan Wisata Agro Organik

92
Rombongan wisatawan berkunjung ke wisata agro buah naga organik. (foto/bb/tin)

Pesanggaran (BisnisBanyuwangi.com) – BUAH naga tak hanya menjadi komoditi andalan Banyuwangi. Belakangan, panen buah naga menjadi daya tarik wisata yang menggiurkan. Seperti dikembangkan Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran. Lokasinya yang berdekatan dengan kawasan wisata Pulau Merah, membuat wisata agro bisa menjadi andalan. Warga banyak mendapatkan manfaat dari  potensi ini.

Desa Sumbermulyo merupakan desa pemekaran dari Desa Sumberagung. Terdiri dari dua dusun, Dusun Mulyoasri dan Tembakur. Mayoritas warganya bekerja sebagai petani.

Kepala Desa Sumbermulyo, Subali mengatakan, selain melon, buah naga banyak dikembangkan warga desa ini. Kini, petani  makin kreatif dengan mengelola kebun naga menjadi kawasan wisata agro. “Selain meningkatkan ekonomi warga, adanya kawasan wisata agro buah naga organik ini bisa menjadi inovasi desa,” ucapnya kepada Bisnis Banyuwangi,pekan lalu.

Untuk membantu warga, pihaknya memberikan fasilitas pelatihan –pelatihan sesuai kebutuhan warga desa. Diakui Subali, pengelolaan kawasan wisata desa ini perlu digenjot. Selain wisata agro buah naga, pihaknya siap mengelola kawasan wisata baru, yakni kawasan Gunung Lompong. Bukit yang memiliki pemandangan alam menarik ini siap dikelola menjadi kawasan wisata. “Karena lahannya milik Perhutani, kami masih melakukan penjajakan termasuk perizinan ke Perhutani. Jika disetujui nantinya pengelolannya bisa sistem bagi hasil,” ungkapnya.

Untuk mendukung keberadaan kawasan wisata desa ini, perbaikan infrastruktur jalan desa menjadi prioritasnya. Termasuk jalan usaha tani. Di samping itu, pembangunan fasilitas publik menjadi target pria yang kembali terpilih menjadi kades ini. Seperti, pembangunan taman kantor desa dan lapangan futsal. Tak hanya itu, pengembangan ekonomi masyarakat pun tak luput menjadi perhatiannya.

Salah satunya lewat komunitas Migran Care. Para mantan TKW dan TKI ini diberikan berbagai pelatihan usaha. Tujuannya, meningkatkan ekonomi para mantan TKW dan TKI. Upaya ini mengandeng tim Migran Care pusat. Sejauh ini, berbagai usaha kreatif dikelola warga setempat. Namun terkendala pemasaran. “Karena itu, kami sudah bentuk BUMDes. Ke depan jika ada dana, kami akan bangun toko untuk menampung hasil kerajinan warga,” ucapnya.

Pelayanan kepada masyarakat pun ditingkatkan. Pria yang selalu menjalin komunikasi yang baik dengan warga ini berani memberikan insentif kepada ketua RT dan RW. Nilainya, Rp 1,5 juta per orang. Mengingat luas desa Sumbermulyo cukup kecil, yakni 30 RT, dan 5 RW. “Ini sebagai upaya meningkatkan kinerja mereka,” ucapnya. (tin)

Bisa Petik hingga Belajar Tanam Naga

 BUAH naga menjadi salah satu potensi unggulan warga Desa Sumbermulyo. Tak hanya hasil panen buahnya yang menggiurkan, masyarakat setempat mulai kreatif. Mereka mengelola usaha wisata agro, petik buah naga organik. Tak hanya wisatawan lokal, banyak wisatawan asing dan luar daerah tertarik datang ke kawasan wisata agro ini.

Salah satu kawasan wisata agro, petik buah naga organik dikelola Hendro, petani setempat. Dari hanya menanam buah naga, Hendro bersama sang kakak, memanfaatkan lahan kebun naga miliknya seluas 2,5 hektar menjadi kawasan wisata agro. “Di sini wisatawan bisa masuk, memetik buah naga sendiri dan makan sepuasnya,” ungkapnya kepada Bisnis Banyuwangi, belum lama ini.

Menurutnya, sejauh ini kawasan Banyuwangi selatan dikenal sebagai kawasan penghasil buah naga. Meski begitu, belum ada fasilitas bagi wisatawan untuk bisa memetik buah naga sendiri. Karena itu, dia menyediakan kawasan wisata agro ini. Apalagi kawasan Desa Sumbermulyo merupakan bagian dari jalur wisata Banyuwangi selatan, sehingga sangat mendukung. “Langkah ini juga sebagai solusi mendongkrak harga buah naga,” ucapnya.

Di kawasan ini, wisatawan bisa menikmati segarnya udara kebun, sembari melepas lelah. Mereka bisa memetik buah naga sendiri, makan sepuasnya dan bisa membawa pulang buah naga yang fresh. “Termasuk wisatawan bisa belajar mengenai budidaya buah naga,” ucapnya.

 Tak hanya, siang hari, wisatawan bisa menikmati sensasi petik buah naga malam hari. Wisatawan pun tak perlu kuatir, stok buah naga selalu ada, dengan sistem penyinaran lampu malam hari,  dapat merangsang tanaman naga berbuah sepanjang musim.

Menurut pria alumnus Teknik Mesin Unmer Malang ini, sejauh ini respon positif datang dari berbagai kalangan, salah satunya Menteri Pariwisata. Peminatnya pun lumayan banyak. Hampir tiap bulan, penuh pengunjung, terutama musim liburan. Pengunjung sebagian besar warga luar kota. Rata-rata mereka datang secara rombongan. “Banyak juga turis asing dari Bali sengaja mampir ke sini,” ucapnya. Banyak mahasiswa dan kalangan bisnis datang ke lokasi untuk studibanding dan belajar banyak teknik budidaya naga. Diantaranya mahasiswa UGM, Brawijaya dan Unej dan komisaris pabrik gula Kediri.

Menurut Hendro sejauh ini dirinya mengandalkan promosi online.  Harga tiket, tergantung harga buah. Kisaran Rp 10.000 hingga Rp 20.000 per orang. Untuk menarik pengunjung, pengelolaan kawasan wisata agro ini dibuat satu paket dengan wisata lain di Banyuwangi selatan. Seperti paket wisata Pulau Merah, Agro Wisata Buah Naga. “Jadi, wisatawan tak hanya mampir ke sini, tapi bisa ke objek wisata lainnya,” ucapnya. Tak hanya bisa memetik buah naga, wisatawan yang tertarik memetik jeruk pun tersedia. Selain wisata agro perseorangan, di Desa Sumbermulyo juga memiliki wisata agro buah naga yang dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Mulyoagung. Di tempat ini, warga bisa menikmati petik naga, sambil belajar seputar budidaya buah naga. (tin)