Komunitas Pepusan (Pelajar Pulau Santen) Geliat Anak Pantai Menggapai Impian

9
Kegiatan belajar Komunitas Pepusan di Pulau Santen. (foto/bb/wid)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – GERAKAN pendidikan di Banyuwangi semakin bergeliat. Namun, pendidiakn yang satu ini berbeda. Karena, dilakukan oleh pemuda-pemudi yang tinggal di tepi pantai. Tepatnya di Pulau Santen, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi. Adalah Pepusan (Pelajar Pulau Santen), komunitas yang beranggotakan anak-anak pantai di pesisir setempat. Mereka tergerak membentuk kelompok belajar non formal. Kegiatan ini menjadi bukti semangat anak pantai untuk menggapai impian.

Hari mulai gelap. Udara dingin menusuk kulit. Meski begitu, suasana terasa hidup dengan suara deburan ombak. Dari pojok salah satu bangunan, sejumlah anak-anak remaja berkumpul, duduk melingkar. Mereka tampak khusuk mendengarkan pelajaran. Itulah kegiatan anak-anak Pepusan yang digelar setiap Rabu malam, selepas Maghrib. Selain Rabu, kegiatan serupa juga digelar Sabtu malam. Tempat belajar menggunakan balai nelayan di perkampungan setempat.

Penggagas Pepusan, Ridho Alayka Nasrullah juga juga siswa SMAN Darussholah Singonjuruh ini mengatakan tujuan Pepusan mewadahi anak-anak pelajar Pulau Santen. Sehingga, mampu mengembangkan bakat terpendam  dengan bertemu orang  baru yang membagikan ilmu di daerahnya.

Bagi Ridho,  bisa jadi ilmu yang diterima anak-anak pelajar yang tinggal di pantai tersebut bisa memotivasi dan memberikan rasa percaya diri. Harapannya, mereka mampu meraih cita-cita, serta mampu mengembangkan bakatnya lebih baik.

Tak hanya itu, kata Ridho, dari kebiasaan anak-anak Pepusan melakukan kegiatan menangkap ikan dan kepiting, diharapkan dengan dibentuknya komunitas ini, mereka menangkap buruan dengan bijak. Tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan. Mereka juga diajarkan bagaimana menjaga lingkungan tetap lestari, asri.

“Di sini kita belajar bersama dengan materi yang ada di lingkungan sekitar. Jadi tidak seperti lembaga formal. Kami hanya memberi ruang untuk sahabat-sahabat kami di Pepusan untuk saling mengeksplor potensinya,” kata Ridho kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Ridho menambahkan, dalam kegiatan yang rutin digelar anak-anak Pepusan juga dibantu oleh beberapa kawan-kawannya. Kebanyakan, mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman, serta potensi berbeda. Kawan-kawan Ridho tersebut memberikan pendampingan secara bersama-sama dalam menjalankan kegiatan di Pulau Santen.

Anggota Pepusan, lanjut Ridho terdiri dari para pelajar, baik SD hingga SMA. Jumlahnya, 14 orang. Jumlah tersebut akan bertambah jika anak-anak yang usia di bawah kelas V ikut terlibat. “Sebenarnya, berdirinya Pepusan mulai Oktober 2016. Saat itu saya hanya berjalan dengan 2 teman yang berbagi tugas dengan bidang masing-masing. Tole yang mengatur keindahan tata ruang kampung Pulau Santen dan Jesi, mengolah limbah plastik menjadi bermanfaat,” jelasnya.

Saat itu, tambah Ridho, kegiatan Pepusan baru tahap belajar bagaimana mengolah sampah dan mengatur masyarakat tidak membuang sampah sembarangan. Caranya, dibuatkan kegiatan sodakoh sampah. “Jadi sampah itu di kumpulkan untuk ecobreak,” kenangnya. Namun setelah beberapa bulan, karena salah satu sahabatnya, Jesi harus pulang ke di NTT dan  Tole ada kesibukan lain. Akhirnya, Pepusan vakum, tidak ada kegiatan. Lalu, Desember 2017, Rridho memberanikan diri kembali mengaktifkan kegiatan Pepusan.  Berbekal  studi banding ilmu yang telah di dapatnya dari beberapa kelompok belajar, Ridho melanjutkan kegiatan Pepusan sendirian. Alhasil, Pepusan bisa bergeliat lagi. Aktif belajar dengan ceria.

 “Kegiatan teman-teman Pepusan lahir dan tumbuh dari lingkungan dan untuk lingkungan. Setiap pertemuan selalu berbeda metodenya. Dan di setiap Rabu, setelah pelajaran, pasti mereka akan mendapatkan catatan pokok untuk memotivasi dan mendisplikan diri masing-masing,” pungkasnya. (wid)