Musim Hujan, Pengrajin Kerupuk Pilih Libur

Produksi kerupuk terkendala cuaca hujan. (foto/bb/ida)

Genteng (BisnisBanyuwangi.com) – BAGI sebagian warga, hujan membawa dampak buruk bagi kelangsungan usaha. Pengrajin kerupuk salah satunya. Akibat hujan yang terus mengguyur, pengrajin kerupuk memilih libur. Seperti dilakukan Marni, pengrajin kerupuk di Dusun Krajan, Desa Kembiritan, Genteng. Sebab, jika dipaksakan produksi, kualitas krupuknya tidak bagus. “Sementara libur dulu. Kalau hujan, tidak bisa produksi maksimal. Jika pakai oven, hasilnya kurang bagus,” kata Marni kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Berawal dari coba-coba, Marni menekuni usaha kerajinan kerupuk sejak 10 tahun lalu. Awalnya, Marni mengaku membuat kerupuk dengan bahan tepung kanji dan beras hanya 1 kilogram. Tak disangka, kerupuk buatannya laris manis. Banyak pesanan. Pertama membuat, warna kerupuk buatan Marni terlihat pucat. Dia pun berinovasi. Ditambahkan warna agar terlihat cantik. Warna yang dipakai beragam, kuning, hijau  dan merah. Akhirnya, diberi nama kerupuk beras warna warni.

Keterampilanya mengolah tepung hingga menjadi kerupuk didapatkan dari orang tua. Berkat resep warisan keluarga, kerupuk buatan Marni rasanya lebih gurih. Meski tak memakai penyedap. “ Bumbunya pakai bahan alami,” jelasnya. Untuk menjaga hasil kerupuk yang terbaik, Marni selalu ketat memilih bahan. Hanya tepung berkualitas yang digunakan. Menurutnya, kualitas tepung berdampak pada hasil kerupuk. Bahkan, kerupuk bisa tidak jadi.

Setiap hari, Marni membuat kerupuk dibantu sang anak yang bertugas mengukus kerupuk. Khusus meracik adonan hingga membentuk kerupuk, Marni melakukannya sendiri. Setiap harinya, Marni menghabiskan bahan tepung minimal 5 kilogram. Wanita ini mulai produksi pukul 06.00 WIB hingga 12.00 WIB.

Marni mengaku jika cuaca panas, penjemuran kerupuk hanya membutuhkan waktu sehari. Namun, jika cuaca tak bersahabat, bisa 2-3 hari. Karena itu, ketika hujan tak kunjung mereda, dia memilih libur sementara. Menurut Marni, pihaknya sudah hampir sebulan tidak bisa memproduksi kerupuk akibat cuaca buruk. Padahal, pesanan terus mengalir. “ Ya, gimana lagi, kita hanya mengandalkan panas matahari,” keluhnya. Karena produksi minim, harga kerupuk dibandrol Rp 25.000 per kilogram.

Dia berharap cuaca hujan segera mereda. Sehingga bisa memproduksi kerupuk kembali. Sebab, jika tak bisa produksi, otomatis biaya hidup juga terganggu. Pasalnya, Marni hanya menggantungkan sumber ekonomi dari kerajinan kerupuk. Kerupuk buatan Marni banyak dikirim ke Surabaya, Sumatera, Kalimantan, Bali hingga ke Taiwan. Penjualan kerupuk beras warna warni ini hanya melalui mulut ke mulut. (ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here