Dr. Zunita Ahmadah Kusuma Dewi Populerkan Banyuwangi dengan Osing Deles

dr. Zunita Ahmadah Kusuma Dewi. (foto/bb/ist)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – SOSOK yang satu ini tak pernah lepas dari buku. Sejak kecil, perempuan yang akrab dipanggil Ita ini mampu melahap 7 hingga 10 buku dalam sehari. Tak heran, mulai SD hingga SMA, ia selalu mendapat peringkat pertama di kelas. Mimpinya  menjadi dokter pun tercapai, hingga mengantarkan  pemilik nama lengkap, dr. Zunita Ahmadah Kusuma Dewi ini sebagai Direktur di RS Krikilan, Glenmore.  Tak hanya sukses berkakrir,  bersama suami tercinta, Burhanudin, perempuan yang kerap disapa Dokter Zu ini terbilang sukses mengembangkan bisnis distro dan oleh-oleh khas Banyuwangi dengan label Osing Deles.

Senyum riang bocah kecil itu menemani langkah kakinya menyusuri pematang sawah. Bersama teman-temannya, dia sedang menuju sungai, bercengkarama dengan riak dan percikan air yang membasahi tubuh. Puas bermain di sungai, kawanan bocah kecil itu pulang, menyusuri hamparan pematang sawah. Namun, Ita kecil yang  riang sedang sedang mencari cara agar tidak diketahui sang ayah usai bermain di sungai. Maklum, ayahnya merupakan seorang perawat di Puskesmas Jajag, sehingga selalu mewanti-wanti agar tidak bermain di tempat yang dianggap kotor. Ita yang masih bocah menata langkah, senyumnya mulai mengembang ketika masuk ke rumah tanpa diketahui sang ayah. Itulah sekelumit kisah ketika Ita menjalani masa kecil.

Berbeda ketika Ita bersama sahabat-sahabatnya  yang selalu memanggilnya ‘Nyut-nyut’. Entah apa alasannya nama itu muncul. Naun, di tempat bekerja, Ita terbiasa dipanggil dokter Zu oleh pasien maupun rekan-rekannya.

Putri pasangan,  H. Muflih Sumolyo dan  Sri Fatmiyati (Kepala Sekolah di MI. Muhammadiyah Gembolo, Jajag) ini tergolong anak cerdas. Sejak SD hingga SMA, ia dikenal sebagai siswa dengan nilai tinggi. Selalu peringkat pertama. Tidak heran jika Ita mendapatkan program beasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) angkatan 1995. Kunci dari semua prestasinya adalah rajin membaca.  Dari hobi membaca tersebut, Ita mampu menghabiskan hingga sepuluh buku dalam satu hari.

“Bagi saya, membaca itu kebutuhan. Karena buku adalah jendela untuk melihat dunia,” kata perempuan yang juga hobi bola kasti dan catur ini kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Meski memiliki hobi membaca, Ita bukanlah pribadi tertutup. Justru, ia sangat terbuka kepada siapapun. Dikenal cukup supel dan mudah bergaul, ia aktif di beberapa organisasi sekolah hingga di perguruan tinggi, kecuali olahraga dan seni. Sebab, Ita merasa belum memiliki minat dan bakat di zona tersebut.

Lulus dari  TK Perwanida, MI Muhammadiyah Gembolo Purwodadi, SMPN 1 Cluring hingga  SMAN 10 Yogyakarta, Ita melanjutkan ke Fakultas Kedokteran. Sepanjang karirnya menjadi dokter di RS. Bhakti Husada Krikilan, Glenmore, Ita banyak memberikan kontribusi atas perkembangan rumah sakit tersebut. Baik manajemen maupun lainnya. Meski begitu,dia belum berminat menekuni spesialis. Sebab, lebih tertarik pada menejemen pengembangan usaha.  Baik di rumah sakit maupun di usaha bisnisnya. Baginya, tidak menekuni spesialis merupakan pilihannya.

“Hidup itu adalah pilihan,” tegasnya singkat.  Pilihannya menjadi dokter  hingga menjadi Direktur RSU Bhakti Husada  Krikilan, Glenmore tahun 2012 -2016, menjadi bagian dari perjalanan karir. Ita juga tidak membuka praktik. Alasannya, ingin fokus pada manajemen rumah sakit. Dari situlah, dia mulai memahami bagaimana mengelola usaha.  Tetapi, pilihan tersebut tak lepas dari bimbingan sang suami. Termasuk dalam mengelola Osing Deles, ikon distro dan oleh-oleh khas Banyuwangi.

“Kalau bicara tentang bisnis di Osing Deles, yang murni bisnis itu suami saya. Selain atlet sejak kecil dan masuk Liga Indonesia  sampai di Persema Malang, tahun 1997, cidera lalu memutuskan berdagang,” kisahnya. Tahun 2003, Ita menikah. Dikaruniai tiga buah hati, Najwa Putri HS (13), N. Nizar F (12) dan Ilham Jaffan R (6).

Ketika di rumah sakit, peran suami juga menjadi modal bagi Ita. Kini, Ita melanjutkan S2 Adminitrasi dan Kebijakan Kesehatan  di Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair. Di tengah kesibukannya yang padat, sebagai dokter, ibu rumah tangga dan mengelola Osing Deles, Ita

mengaku kesuksesan tidak bisa diraih sendiri.  Menurutnya, dukungan keluarga merupakan kunci utama meraih sukses. Karena itu, kerjasama mulai dari keluarga diterapkan pula dalam kerjasama tim di Osing Deles. “Kalau mau sukses tidak bisa sendiri. Setiap orang memiliki peranan penting. Terutama keluarga. Suami, anak-anak, ayah ibu itu kunci utama bagi kami. Di Osing Deles, kami adalah keluarga,” ungkap perempuan yang memiliki slogan ”Kerja Keras, Kerja Cerdas dan Kerjasama” tersebut. Meski super sibuk, bagi Ita, keluarga tetap prioritas.

Khusus pengelolaan Osing Deles, kata Ita, suami memegang kendali dalam desain, art interior hingga konsep. Sedangkan dirinya di bidang menejemen, baik SDM, persediaan dan akutansi – keuangan , marketing dan sistem informasi menejemen. Menurutnya, Osing Deles dibangun atas dasar cinta.  “Osing Deles ini ada karena cinta kami. Baik sebagai pasangan suami istri maupun kecintaan kami pada Banyuwangi.  Seperti tagline kami ‘Sing Kira Asat Baktinisun Kanggo Banyuwangi,” ujar perempuan kelahiran Banyuwangi 25 Juni 1977 ini.

Wanita asli Petahunan, Jajag ini menambahkan, dalam usaha yang digeluti, apapun bentuknya perlu adanya manejemen SDM.

Ita menuturkan Osing Deles tidak hanya berorientasi pada bisnis. Tapi ada sisi pengembangan, baik pengembangan terhadap Osing Deles  maupun pihak-pihak yang bermitra. Saat ini, kurang lebih 200 UMKM di Banyuwangi dirangkul untuk menjual produknya di Osing Deles.

Outlet di Jalan Agus Salim No 12A Banyuwangi diawali berdiri di Jajag, tahun 2013.  Di Banyuwangi yang buka sejak tahun 2015, Osing Deles kini makin lengkap dengan  kue khas Banyuwangi, kerajinan, kain batik, pernak pernik serta resto dan kafe.

Melihat banyaknya outlet yang berkiblat sama, Osing Deles tetap optimis, jika outletnya akan menjadi rujukan outlet-outlet lain. Sehari, Osing Deles mampu meraup omzet hingga Rp  300 juta. Beda lagi jika musim liburan.  Desember 2017, Osing Deles meraih omzet fantastis, hampir Rp 3 miliar sebulan.  “Nah, salah satu tujuan saya sekolah S2 untuk membangun jaringan.  Karena, kami masih terus belajar dan berinovasi. Semoga tahun ini bisa buka outlet lagi, supaya mimpi kami bisa terwujud membawa Banyuwangi ke tingkat Internasional lewat produk-produk di Osing Deles,” pungkasnya.  (wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here